Acap terdengar dari sebagian kelompok kecil muslim yang mengharamkan musik. Dalihnya didasarkan atas teks yang menyatakan larangan alat musik. Bebunyian yang ditimbulkannya dianggap mampu memperdaya seseorang. Alat musik berdawai, salah satunya, bisa membawa individu ke ruang imajinasi berlebihan. Kondisi psikologis ini ditengarai melalaikan kesadaran manusia terhadap Tuhan.

Generalisasi atas pelarangan musik dipidatokan. Pihak yang menyatakan itu terlalu gegabah menyimpulkan duduk perkara. Pengalaman personal terhadap musik tiap orang niscaya berbeda. Bila dikatakan musik dapat melupakan Tuhan “sejenak” maka situasi ini terikat preferensi individual. Ia tak bisa menyamakan pengalamannya itu secara umum kepada liyan.

Musik berposisi sebagai dimensi budaya yang objektif. Perlakuan dan pengalaman terhadapnya sudah barang tentu termasuk wilayah subjektif. Melalaikan atau tidaknya sebuah alunan musik bukan terletak pada musik itu sendiri, melainkan persepsi personal pendengarnya. Dugaan atas efek negatif musik, karenanya, bersifat interpretatif yang masing-masing orang memiliki jawaban berlainan.

Soal dalil mengenai keharaman musik semestinya ditempatkan sesuai konteks dan koteks. Teks, betapapun, tak berdiri tunggal. Ia berkelindan dengan faktor determinan yang melingkupinya. Pelarangan musik, bila itu benar sebagaimana yang dimaksudkan secara pragmatik, harus diteroka kondisi sosiologis kenapa pelarangan itu muncul. Kelompok sektoral yang menafikan eksistensi peran dan fungsi musik biasanya sekadar memaknai teks secara telanjang.

Muhammad Ainun Nadjib (Cak Nun) pernah mendedah unsur mikro pembangun musik. Bunyi, nada, dan irama adalah tiga variabel terikat yang melingkupi musik. Tanpa ketiga itu musik batal disebut sebagai musik. Bila ditelistik lebih jauh, ketiganya mustahil terlepas dari kehidupan manusia. Manakala orang berbicara, secara fonologis, misalnya, akan mengujarkan kata yang mengandung bunyi, nada, dan irama. Tanpa itu manusia dianggap bisu.

Prasyarat bertutur, sebagaimana diuraikan di atas, memenuhi dimensi bunyi, nada, dan irama. Ekspresi verbal itu diungkapkan secara berbeda-beda tergantung aksentuasi manusia. Kedudukan logat, dengan demikian, berada dalam kondisi tersebut. Andaikan musik diharamkan maka manusia berbicara semestinya juga dilarang. Bukankah di sini letak epistemologi musik jika dikaji dalam perspektif universal?

Orang yang mengharamkan musik menunjukan bahwa ia tak menggunakan nalar secara sungguh-sungguh. Ia sebatas memaknai teks secara sepihak dengan melihat struktur makna denotatif di baliknya. Pemahaman model ini masih sebatas kulit luar karena abai terhadap aspek konotasi, hiperbola, idiom, dan bangunan semantik sebuah teks yang lebih luas.

Problem manusia modern dewasa ini adalah terlalu serampangan menginterpretasikan teks. Jagat teks dianggap simplifikatif. Belum pula memahami isi teks, ia langsung menganggap kebenaran versinya sebagai sesuatu yang absolut. Sikap keras kepala demikian diperparah pula oleh ketertutupan diri dalam berdialog.

Kepercayaan diri ini kemudian dibarengi dorongan subjektif agar orang lain mengikuti sikapnya. Tak ada dialog interaktif. Kebenaran ilmiah yang dipetik dari dialektika ditutup rapat atas nama dogma. Sayangnya posisi ini kerap dilihat di masyarakat yang masih mempersoalkan keharaman musik.

***

Manusia bebas memilih dan menikmati genre musik pilihannya. Jazz, pop, dangdut, atau keroncong sekalipun merupakan ekspresi pribadi sang penikmat. Dengan memilihnya, ia berada pada situasi kedaulatan diri. Dalam hal ini musik dan manusia serupa dua entitas yang saling berkomunikasi. Di dalam diri manusia terdapat potensi musikal, sedangkan di benak manusia musik disebut musik karena memiliki konsep tinanda (signifie).

Beban makna dan memaknai musik, bagi manusia, terikat oleh cakupan relativitas. Banyak orang menikmati musik karena sekadar hiburan, pembangkit semangat, kontemplasi, meratapi keadaan, dan sarana transendensi. Pilihan ini, tentunya, didasarkan atas latar pengalaman empiris tiap individu terhadap musik itu sendiri. Maka tak mengherankan bila terdapat pepatah arkais: selera musik menunjukan tipe dan kecenderungan manusia.

Yang menarik disoroti adalah musik laksana media komunikasi antara manusia dan Tuhan. Corak khas komunikasi itu terlihat jelas dari bagaimana manusia menikmati setiap nada dan irama. Di balik dua komponen tersebut ia seakan-akan menyentuh ke ceruk keadaan yang paling privat, yakni perjumpaan kepada Yang Maha. Kondisi semacam ini sukar terdeskripsikan secara detail kecuali dirasakan langsung.

Musik dan kesadaran akan kebesaran Tuhan bukan berarti ditandai oleh jenis musik religi. Secara universal musik tak memiliki identitas tertentu sebagaimana idiom dunia industri yang acap mempartisi genre musik berdasarkan agama. Semua jenis musik, karenanya, mempunyai potensi religiositas berdasarkan persepsi pendengar dan komposisi nada yang membangunnya. Komposisi inilah yang sering mengecoh khalayak.

Selama berabad-abad, musikus, baik Barat maupun Timur, mengekspresikan kerinduannya kepada Tuhan melalui musik. Cara ini persis seperti apa yang dilakukan para seniman lain. Seorang koreografer dengan gemulai tubuh, sastrawan dengan susunan kata, perupa dengan selembar kertas dan tinta, serta pemahat dengan kayu maupun batu. Dengan kata lain, seni adalah cara manusia berkomunikasi kepada Tuhan lewat karya kreatifnya.

Tuhan tak kalah romantis dengan menyuguhkan alam semesta beserta seisinya yang memenuhi syarat musikal itu. Dedaunan yang meranggas karena tiupan angin pun memberi orkestrasi damai kepada manusia. Suaranya sering kali riuh-rendah. Seakan-akan di sana tersirat betapa Tuhan ingin berkomunikasi kepada ciptaan-Nya.