1 minggu lalu · 41 view · 3 menit baca · Filsafat 37642_74221.jpg

Musik dalam Fenomenologi Max Scheler

Dunia kontemporer menawarkan beberapa jenis atau genre musik yang baru. Salah satu genre musik baru yang ditawarkan adalah Electric Dance Music (EDM). 

Genre musik ini banyak diminati oleh anak muda di seluruh dunia. Hal ini terbukti dari jumlah viewers lagu EDM Animals ciptaan Martin Garrix di YouTube mencapai 1,096,907,898 orang. 

Maka tidak heran bila lagu ini sempat menduduki peringkat atas pada Billboard Hot sebagai lagu EDM terpopuler. Beberapa di antara pecinta EDM bahkan rela membeli tiket konser yang cukup mahal demi menikmati musik tersebut secara langsung (live concert).

Apa itu musik? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), musik adalah ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan; nada atau suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat untuk menghasilkan bunyi-bunyi tersebut. 


Pendek kata, musik adalah kumpulan nada yang disusun untuk menghasilkan suatu komposisi yang harmonis. Lantas, bagaimana memberi penilaian terhadap musik?

Dalam gerakan Fenomenologi, nama Max Scheler merupakan satu nama yang penting dan dianggap sebagai tokoh nomor dua, yakni sesudah Husserl sebagai pendiri Fenomenologi dalam gerakan tersebut. 

Metode Fenomenologi Scheler bertumpu pada karya Husserl yang berjudul Penelitian-Penelitian tentang Logika. Bagi Scheler, metode Fenomenologi merupakan suatu cara dalam memandang realitas. Scheler berpendapat bahwa Fenomenologi merupakan suatu sikap dan bukan suatu prosedur pemikiran seperti induksi, deduksi, atau teknik berpikir lainnya. 

Hubungan langsung manusia dengan realitas didasarkan pada intuisi. Scheler menyebut hubungan itu sebagai "pengalaman fenomenologis". Beberapa jenis fakta (bukan sembarang fakta) memainkan peran dalam pengalaman fenomenologis. 

Scheler membedakan tiga jenis fakta, yakni fakta natural, fakta ilmiah, dan fakta fenomenologis. Fakta natural berasal dari pengalaman inderawi dan menyangkut benda-benda konkrit. Fakta ilmiah mulai melepaskan diri dari pencerapan inderawi yang langsung dan menjadi abstrak. Fakta fenomenologis merupakan isi intuitif atau hakekat yang diberikan dalam pengalaman langsung dan tidak tergantung berada tidaknya dalam realitas di luar.

Dalam ajaran etikanya tentang nilai, Max Scheler memperlihatkan bahwa moralitas perbuatan-perbuatan manusia itu berdasar pada berlakunya nilai-nilai objektif dan tidak tergantung pada manusia. Inilah yang dimaksudkannya sebagai etika-nilai material. 

Menurut Scheler, suatu perbuatan yang baik secara moral bukanlah dilakukan semata-mata karena kewajiban (Etika Deontologis Kant), melainkan karena bernilai secara moral maka wajib dilakukan. 

Berdasarkan penelitian Fenomenologisnya, Scheler menggolongkan nilai-nilai dalam empat kelompok. Pertama, nilai-nilai yang menyangkut kesenangan dan ketidaksenangan. Kedua, nilai-nilai yang berkaitan dengan vitalitas: nilai-nilai vital kehidupan manusia. 

Ketiga, nilai-nilai rohani seperti nilai-nilai estetis, nilai-nilai yang menyangkut kebenaran, nilai-nilai yang menyangkut pengetahuan murni. Terakhir, nilai-nilai yang menyangkut objek-objek absolut atau nilai-nilai yang terdapat di bidang religius.

Kecintaan seseorang terhadap musik merupakan suatu sikap yang memperlihatkan adanya hubungan langsung antara manusia dan realitas. Kecintaan itu didasarkan dan dirasakan melalui intuisi. Inilah yang disebut Max Scheler sebagai pengalaman fenomenologis. 

Dalam pengalaman tersebut, fakta-fakta (natural, ilmiah, fakta fenomenologis) mengenai musik memainkan peran penting. Misalnya dalam fakta natural, musik dicerap melalui indra manusia, secara khusus oleh indra pendengar manusia.

Dalam pembicaraan sehari-hari, penilaian musik masih sering terbatas pada suka-tidaknya atau enak-tidaknya musik tersebut didengar. Padahal, penilaian terhadap musik itu beragam. 

Dari Max Scheler, musik dapat dinilai berdasarkan nilai-nilai yang digolongkannya menjadi empat kelompok. Nilai-nilai pada kelompok pertama menyangkut kesenangan atau ketidaksenangan. Dalam kelompok yang pertama ini, penilaian musik didasarkan pada rasa suka-tidaknya seseorang pada suatu musik atau jenis musik tertentu ketika mendengarnya. 

Nilai-nilai pada kelompok kedua menyangkut vitalitas, yakni nilai-nilai vital kehidupan manusia. Pada kelompok nilai yang kedua ini, penilaian seseorang terhadap musik tidak lagi sekadar suka atau tidaknya terhadap musik atau jenis musik tertentu, melainkan menjadikan suatu musik atau jenis musik tertentu sebagai bagian dari kepenuhan diri seseorang. 


Pada kelompok ketiga, yakni nilai-nilai menyangkut nilai-nilai rohani, penilaian terhadap musik terkait dengan nilai-nilai rohani seperti estetis (keindahan). Dengan kata lain, penilaian terhadap musik didasarkan pada rasa akan keindahan yang terkandung dalam musik itu sendiri. 

Pada kelompok nilai yang terakhir, penilaian terhadap musik terkait dengan nilai-nilai kekudusan. Penilaian musik yang didasarkan pada nilai-nilai kekudusan melampui ketiga kelompok nilai yang lain. Dalam penilaian yang terakhir inilah musik dinilai dan dimaknai sebagai persembahan yang kudus bagi kemuliaan Allah.

Referensi

  1. Kees, Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, Jakarta: Gramedia, 1983
  2. Yuli, Manfaat Mendengarkan Musik bagi Kesehatan dan Otak

Artikel Terkait