Teriknya matahari menemani langkahku menuju kaki Gunung Merapi. Angin tertiup sepoi-sepoi menyambutku damai. Langkahku tertuju pada sebuah bangunan unik yang terletak di Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tampak depan bangunan ini sangat sederhana, tetapi di baliknya menyimpan banyak  sekali makna.  Bangunan yang menjadi saksi atas kejadian erupsi Merapi tahun 2010 silam yang menelan banyak sekali korban jiwa dan kerugian material.

Bangunan ini bernama Museum Mini Sisa Hartaku. Berdiri di atas tanah milik keluarga Bapak Sriyanto. Awal pendirian museum ini tidak serta-merta untuk tujuan pariwisata. Bapak Sriyanto berinisiasi untuk mengumpulkan sisa-sisa materinya pasca erupsi dan disimpan di rumah lamanya.

Barang-barang tersebut dikumpulkan sebagai media untuk bercerita kepada anak dan cucunya kelak tentang bencana alam yang terjadi di sana. Akan tetapi, banyaknya temuan menjadikan masyarakat mendukungnya untuk mendirikan museum.

Tujuan pendirian museum ini untuk mengenang tragedi erupsi Merapi tahun 2010. Atas usulan masyarakat tersebut akhirnya pada 4 April 2011, Bapak Sriyanto meresmikan bangunan tersebut dengan nama Museum Mini Sisa Hartaku.

Saat ini, Museum Mini Sisa Hartaku menjadi destinasi andalan bagi wisatawan yang berkunjung ke lereng Gunung Merapi. Mayoritas wisatawan yang datang merupakan wisatawan rombongan yang menggunakan paket wisata dengan Jeep.

Akses menuju destinasi ini cukup mudah karena melewati jalan dengan kondisi baik dan akan lebih mudah jika menggunakan panduan Google Maps. Fasilitas yang ada di sana juga cukup baik, terdiri dari toilet, musala, dan warung.

Kegiatan yang dapat dilakukan di sana selain berfoto ialah wisatawan sangat disarankan untuk mempelajari cerita sejarah di baliknya. Hal ini dapat  didukung dengan bantuan pemandu wisata, baik dari biro paket wisata maupun pemandu wisatayang ada di Museum Mini Sisa Hartaku.

Bagi wisatawan yang tidak mengambil paket wisata, jasa pemandu tersedia di sana. Wisatawan dapat meminta bantuan pemilik warung di sekitar sana untuk menemukan pemandu wisata. Adapun biaya pemanduan diberikan secara suka rela.

Museum Mini Sisa Hartaku terdiri atas tiga bangunan. Bangunan rumah lama Bapak Sriyanto (bangunan pertama), bangunan rumah lama orang tua Bapak Sriyanto (bangunan kedua), dan bekas kandang ternak.

Koleksi yang disimpan di bangunan pertama meliputi jam erupsi, kerangka sapi, kain, alat kesenian, kerangka unggas, benda pusaka, beberapa instrumen gamelan, foto-foto saat erupsi Gunung Merapi. Keunikan yang ada di bangunan ini ialah jam erupsi yang menunjukkan pukul kejadian bencana alam tersebut.

Bangunan kedua menyimpan koleksi peralatan makan, kasur, televisi, foto-foto Gunung Merapi, miniatur Museum Mini Sisa Hartaku, sepeda, motor, dan peralatan rumah tangga lainnya. Bangunan pertama dan kedua ialah bangunan inti dari museum ini.

Adapun bangunan yang ketiga ialah bekas kandang ternak. Saat ini, kandang tersebut hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang bangunan dan koleksi yang belum ditampilkan di bangunan inti.

Jumlah koleksi yang ada di sana 90% merupakan barang pribadi milik Bapak Sriyanto dan Keluarga, sedangkan 10% lainnya yakni milik organisasi karang taruna desa dan masyarakat sekitar.

Koleksi yang bukan milik keluarga Bapak Sriyanto diperoleh dengan cara dibeli dan ada juga yang merupakan sumbangan masyarakat. Adapun koleksi yang merupakan barang milik keluarga Bapak Sriyanto akan diletakkan di posisi semula.

Pengelolaan dan perawatan museum ini dilakukan oleh Bapak Sriyanto dan keluarga. Oleh sebab itu, museum ini merupakan museum milik pribadi. Meski demikian, masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan berjualan di area museum.

Perawatan terhadap koleksi yang ada di sana dilakukan dengan sangat hati-hati. Debu yang ada di barang-barang tersebut dibiarkan menempel. Hal ini bertujuan untuk menjaga keaslian barang yang telah terkena lahar dan awan panas Gunung Merapi 2010.

Debu dibiarkan menempel bersama dengan abu vulkanik erupsi 2010. Adapun untuk koleksi tertentu, seperti rangka unggas dan perangkat salat, disimpan di kotak kaca dan perawatannya hanya dibersihkan kacanya saja.

Selain wujud koleksi yang dibiarkan alami, bangunan museum ini juga tidak banyak direnovasi. Hanya atap museum saja yang diperbaiki. Hal ini bertujuan agar tidak bocor dan dapat melindungi koleksi.

Selain pengelola museum, wisatawan diharapkan dapat berpartisipasi dalam perawatan koleksi. Hal tersebut dapat wisatawan lakukan dengan menaati segala peraturan yang ada seperti tidak memegang dan memindahkan barang-barang koleksi.

Museum ini menjadi destinasi wisata yang unik karena wisatawan yang datang tidak dipungut biaya. Pengelola museum hanya menyediakan kotak sumbangan suka rela untuk menunjang pembangunan Museum Mini Sisa Hartaku.

Uang hasil sumbangan wisatawan tersebut akan dialokasikan untuk perbaikan atap museum, pembelian air bersih, dan digunakan untuk merawat koleksi yang ada (seperti membelikan kaca pelindung).

Mengunjungi Museum Mini Sisa Hartaku tidak hanya belajar tentang fenomena alam, tetapi juga mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat Tuhan. Museum Mini Sisa Hartaku sangat cocok dikunjungi oleh semua kalangan dan dapat dijadikan sebagai pilihan untuk melakukan kegiatan wisata edukasi.