Menjelang hampir tiga bulan masa iddah kesendirianku, aku masih saja enggan keluar dari ruang elegi – sepetak ruang yang digunakan para penyendiri sebagai tempat peribadatan untuk melangsungkan ibadah nyepi dan merenungkan nasib mereka di kemudian hari. 

Beberapa mushaf tercecer di dalamnya. Beberapa di antaranya adalah yang paling gemar kubaca dan kurenungkan isinya: Kiat Sukses Menjadi Penyendiri yang Diridhoi Sepi.

Di ruangan ini, aku tak tinggal seorang diri. Sepi adalah teman sekaligus sang imam yang selalu mengguruiku. Ia juga yang mengarang mushaf kesukaanku itu. 

Pada waktu peribadatan, ia mengajariku cara membaca kenangan dengan baik dan benar. Kepiawaiannya dalam melantunkan bunyi detik yang berdetak juga sudah tak bisa diragukan lagi.

Fatwanya, dentuman tiap detik adalah jelmaan masa suram yang kau tabung dari masa depan.

Di luar waktu peribadatan, di waktu luang, aku gemar menyusun rangkaian kalimat demi kalimat – yang sumbernya kunukil dari sisa-sisa kenangan – menjadi sebuah mushaf yang bisa bermanfaat bagi para penyendiri lainnya di masa yang akan datang. 

Tak jarang, beberapa penggalan ayat di dalamnya dikisahkan oleh sang imam, sepi, pada saat ibadah ngelamun berlangsung.

Di waktu luang lainnya, jika pikiranku sedang suntuk-suntuknya, aku sering senonoh mengingat-ingat lekuk wajah sang mantan yang gemar berlalu lalang di area ingatan. Acapkali kumenemuinya di beranda elegi. 

Untungnya aku tak selalu sendirian. Ada si kopi – yang juga merupakan anak asuh sang sepi – yang selalu setia menjadi kawan setiaku.

Kali ini, di beranda elegi, ia menemaniku menemui wajah sang mantan yang berasal dari wilayah kenangan. Sesekali ia mengepulkan uapnya. Dua tiga kali kuseruput legam cairannya. 

Ada hening yang berlalu-lalang selama masa perenungan. Di sela-sela kerumunan hening, sesekali aku dan si kopi berbasa-basi membuka obrolan.

Belum genap sepuluh seruput, tak ada uap yang mengepul di cangkirmu meski sudah kuaduk berulang kali.

Aku terlampau dingin menyaksikan bola mata mantanmu yang beromondar-mandir kesana-kemari. Alih-alih aku kau habisi, kau malah sibuk merangkai senyummu yang kemanyut-manyutan.

Lah, bagaimana kau tahu aku sedang merenungi mantanku yang bahkan tak kasat pikiran?

Kau sendiri yang mengajariku cara menafsirkan pikiran, bukan.

Asal kau tahu saja, aku mengajakmu ke bilik renungan ini bukan semata untuk menyongsong temu dengan wajah sang mantan. Aku ke sini untuk mengembangkan bakat ngelamun. Mengadakan dialog dengan diri sendiri. 

Hasilnya nanti akan kutuang ke dalam mushaf usang sebagai referensi tambahan untuk ditafsirkan dan didabit ulang oleh sang sepi. Kamu mafhum, kan?"

ENGGAK!

Sini. Biar kuhabisi saja kau!

Aku melaksanakan sabdaku untuk menyeruput habis si kopi sebelum gema panggilan kesepian dikumandangkan oleh sang sepi. Di ruang elegi, aku terpojok di sudut ruangan, menjauh dari kerumunan detik yang kesemuanya sibuk melantunkan sholawat sunyi. 

Mereka mafhum atas jiwaku yang terlampau mati digerogoti rasa kangen.

Pada pelaksanaan ibadah ngelamun yang begitu takzim, sang sepi menghampiriku dengan tatapan iba. Dengan segumpal angin yang ia bawa, diusapnya kepalaku yang sudah lama tak dibelai telapak tangan mantan yang maha lembut – lebih lembut dari gumpalan angin yang dibawa sang sepi. 

Ah, aku jadi khawatir. Jangan-jangan, aku sudah candu akan telapak tangan itu.

Hai anak muda, kau tahu apa itu insomnia?” Tanya sang sepi.

Afwan, guru. Aku tidak tahu.” Jawabku merendah.

Ia adalah semacam kangen yang tabah berdoa agar kelopak matamu senantiasa terbuka. Kau tahu dari mana datangnya insomnia?” Lanjutnya.

Afwan, guru. Aku juga tidak tahu.

Sesungguhnya ia datang dari kantuk yang tak menemui nasibnya.

Kusimpulkan bahwa kangen yang mengerogoti jiwaku akhir-akhir ini telah membawaku pada situasi yang membuatku merasa gundah, gelisah, dan susah tidur. 

Sang sepi melontarkan pertanyaan itu karena ia yang senantiasa mengawasiku secara menyeluruh. Ia tak ingin terjadi apa-apa padaku jika sewaktu-waktu rasa kengen ini terlampau kronis.

Aku lantas berkontemplasi bahwa barangkali aku punya dosa tertentu –entah apa - yang hanya bisa dihapus dengan cara tidak lagi mengingat-ingat binarnya bola mata mantanku. 

Tapi, barangkali saja aku juga pernah mengamalkan suatu kebaikan tertentu – entah apa – sehingga Tuhan memberiku pahala dalam bentuk sempat kumiliki kedua bola mata itu.

Kemudian, wahai guru, apa yang semestinya saya perbuat?” Pungkasku berlanjut dengan intuisi yang berkobar. Dengan tidak melupakan kodratnya sebagai sesuatu yang menggurui, sang sepi menggubahkan firman usang pada kitab kasmaran surah jomblo yang berbunyi:

"Barangsiapa di antara kelian mencintai seseorang, hendaklah berjuang dengan selalu membuatnya bahagia. Bila tidak mampu, hendaklah berikhtiar untuk sedapat mungkin menghindari sesuatu yang dibencinya. Bila masih tidak mampu, hendaklah pasrah. 

Sesungguhnya kepasrahan adalah selemah-lemahnya iman seorang pecinta.

Bahwa aku telah meluluh-lantahkan kepercayaannya. Kuporak-porandakan kesetiaannya. Kutancap dan hunuskan luka tajam di hatinya. Adakah firman itu berpihak padaku? Lalu ia membuangku jauh keluar dari sabana hatinya yang maha luas – sebagai balasan atas perlakuanku yang maha keji. 

Adakah firman itu masih berpihak padaku?

Sang sepi lalu melanjutkan petuahnya yang kali ini ia kutip dari sebuah sabda kontemporer gubahan penyair ulung yang telah wafat di hati kekasihnya:

Wahai kamu dan sekalian umat jomblo di semesta raya, teruslah mencintai meski sudah tahu hasilnya. Urusan ia masih mengingat atau melupakanmu itu hanyalah fiktif. 

Mencintailah dengan tujuan agar kamu semakin tidak punya waktu untuk membenci. Mencintailah supaya hatimu tidak ada ruang bagi kebencian. Dan di situ cintamu akan menjadi agung.

Sabda itu kini telah membuat imanku dalam mencintai semakin ambigu. Kini aku menyadari bahwa aku adalah musafir yang tersesat di ruang elegi yang gelap. Sang sepi telah menguasaiku. Aku telah membuatnya sebagai objek pemberhalaan. 

Adakah kau titipkan binar bola matamu sebagai petunjuk, hai kekasihku?