Kemarin saat berbincang bersama rekan di Utan Kayu, ada perbincangan menarik. “Bro, nonton Inggris vs. Rusia? Itu penontonnya kayak di Indonesia saja pada ribut,” kata temanku dengan begitu bersemangat. Dia sendiri seorang fundamentalis Juventus.

Sepakbola selain ramai di stadion, memang asik juga jika memperhatikan kelakuan para suporternya. Ada yang ekstrem, seolah tim kesayangan adalah warisan Tuhan yang harus dibela mati-matian. Tengok saja Viking dan Jackmania yang seolah air dan minyak. Jika berjumpa saling pukul, saling timpuk.

Tapi syukurnya di dalam sepakbola, transfer pemain antar tim bukanlah sebuah dosa. Para suporter pun sudah biasa dengan “ritual” musiman ini. Amat jarang sepengetahuanku, seorang pemain  yang berpindah klub sepak bola mendapat ancaman mati.

Lagipula, memang tak ada aturan FIFA yang mengharamkan pemain berpindah dari satu klub ke klub lainnya. Ini mungkin yang membuat para suporter kehabisan akal mencari dalil untuk membenci jagoannya yang pindah dari klub kesayangan.

Kondisi ini tak akan terjadi dalam kehidupan beragama hari ini di dunia Islam. Jika Anda pindah ke agama lain, akan banyak mimpi buruk di depan yang harus siap Anda terima. Paling baik dikucilkan, paling buruk dicabut nyawa. Sayangnya ini bukan mimpi belaka, tapi tragedi yang sudah begitu lama dan menjadi hal yang biasa.

“Transfer” dari Islam ke agama lain di beberapa negara Islam bahkan memang dilarang. Karena alasan itu pula negara-negara Islam banyak menolak Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM). Pasalnya, di dalam DUHAM kebebasan beragama juga memasukkan poin mengenai kebebasan orang untuk berpindah agama.

Dunia Islam menolak dengan membuat Deklarasi tandingan di Kairo tahun 1990. Sebagian negara Islam meyakini bahwa berpindah agama sama halnya dengan sebuah pengkhianatan politik pada era perang dingin. Di mana hukuman terberat bisa dijatuhkan. 

Parahnya, saking ketakutan kehilangan jumlah “massa” (sebagian besar) umat Islam menjadi begitu fobia terhadap agama apa pun di luar dirinya. Mereka bahkan menolak berdialog dengan tanpa prasangka. Segala di luar dirinya adalah hal yang patut dicurigai tanpa alasan, tanpa pikiran. Segala macam  tindak tanduk, bahkan semata mendirikan rumah ibadah umat lain, diangap sebagai “agenda terselubung” untuk mengurangi populasi umat Islam.

Dua hari lalu di sebuah televisi swasta, Walikota Bandung, Ridwan Kamil, punya cerita yang cukup menarik soal ini. Ia sempat bertanya pada para penolak pembangunan sebuah gereja di Kota Kembang. Mereka mengaku, kata Kang Emil, takut bahwa gereja akan melakukan kristenisasi (memasukan orang Islam menjadi Kristen.)

Kang Emil pun bertanya balik ke pengurus gereja – kebetulan yang sedang dipersulit izinnya adalah gereja milik masyarakat dari suku Batak. “Benar, bisa orang non-Batak dikristenkan karena ada gereja ini?” Kira-kira demikian pertanyaan Kang Emil. Pengurus itu, sambung Kang Emil, menyatakan: jelas tak mungkin, karena itu adalah gereja Batak.

Di sini kita bisa melihat, bahkan mengetahui hal paling sederhana terkait cara beragama masyarakat yang berbeda agama dengan dirinya pun tak tahu. Wajar saja bila ada prasangka. Tapi, katakanlah ada kristenisasi, bukankah Islam juga senang menambah populasi – meski jika pun sudah bertambah kondisi kehidupan umat ya tetap saja belum bisa sesejahtera negara-negara Utara.

Dengan dakwah, selain menambah keimanan, tujuan lainnya adalah memang menambah jumlah. Tapi, di sisi lain, sebagian umat Islam begitu ngotot ingin memasukkan umat lain ke dalam Islam. Cara berpikir ini menurut saya adalah cara berpikir masyarakat antikompetisi dan mau menang sendiri.

Cara berpikir umat Islam, sebagian besar, tampaknya kalah dengan para suporter bola dalam melihat transfer antarklub bola. Para suporter memang ekstrem dalam cinta pada tim kesayangan, tapi, transfer antarpemain tak berujung pada dikeluarkannya fatwa mati. Tidak! Para suporter bola, sudah paham kalau transfer pemain mungkin saja mempengaruhi performa tim tercinta, tapi mereka tahu bahwa itu hal yang biasa dalam dunia bola.

Ketika berpindah klub, seorang pemain mungkin tak merasa sesuai lagi dengan nuansa maupun soal fulus di tim. Dan tidak ada dari para suporter yang lantas tak paham akan hal ini.  Semestinya, umat Islam bisa melihat kondisi umatnya yang berpindah agama seperti itu saja. Mungkin yang bersangkutan sudah merasa tidak cocok lagi dengan klub bernama Islam ini. Yang bersangkutan mungkin merasa nyaman dengan klub lain yang Ia pilih.

Lebih baik lagi, ketika ada seorang muslim berpindah keyakinan, umat Islam berpikir lebih dalam. Jangan-jangan suasana hidup sebagai seorang Islam memang tak nyaman lagi sekarang ini. Menjadi seorang Islam lebih dipenuhi oleh rasa ancaman-ancaman. Sedikit beda, dikafirkan. Jadi, untuk apa jadi pseudo kafir, mending kafir sekalian. Begitu jika kita mainkan candaannya.

Terlepas dari kalahnya mental umat Islam dari para pemain bola, saya merasa agama yang saya cintai sedari kecil ini lebih mirip seperti partai politik. Kontestasi partai politik bukan benar salah tapi menang kalah. Nah, logika berpikir sebagian besar umat Islam rasanya memang demikian. Bahwa kehilangan jumlah adalah suatu hal yang salah. Karena dengan kehilangan jumlah, agama seolah dipandang telah kalah.

Di ruang hati terdalam saya pun lantas bertanya, “Apakah engkau yang begitu ketakutan kehilangan jumlah sebenarnya tak yakin dengan imanmu sendiri sehingga harus membutuhkan afirmasi dari jumlah followers sebagaimana anak-anak zaman kini di Twitter?”