“Bisa jadi saya yang salah. Tetapi, saya tak habis heran, mengapa susah sekali meyakinkan orang bahwa sistem pendidikan kita-mulai paradigma hingga praktiknya-mengandung kesalahan-kesalahan fundamental?” tulis Haidar Bagir dalam  Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia.

Saya ingin memulai tulisan ini lewat pernyataan itu. Apa yang dinyatakan Haidar bukanlah masalah pribadi saja. Saya pun juga merasakannya. Sangat susah memberi tahu bahwa pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Bila pembaca tidak merasa demikian, mari kita urai pelan-pelan.

Kita tahu, selama waktu sekolah dulu, anda akan dicap kurang pintar, nakal, berani, dsb saat Anda kurang bisa mengerjakan soal, ramai di kelas, banyak tingkah, doyan omong, kurang aktif, terlambat, membantah guru, dan tidak lulus ujian.

Saat penerimaan raport, orang tua anda akan diberi peringatan serius perihal itu semua. Akibatnya, orang tua akan memberi peringatan lebih keras kepada Anda. Ini masalah pertamanya.

Kedua, selepas lulus SMP, saya/Anda (sebagai contoh) mulai fokus belajar di poin lemah menurut hasil belajar selama ini (raport). Saya mulai begitu tekun menulis rumus, melakukan penghitungan, mencatat uraian, diam di kelas, patuh pada guru, dan menghafal konsep-konsep pembelajaran lainnya.

Sampai ujian terakhir berlangsung, semua baik-baik saja. Tidak ada masalah. Bahkan saya sebenarnya banyak bingungnya. Saya beserta teman lainnya mengakui kelemahan masing-masing dalam pelajaran. Tapi, entah mengapa nilai akhir di ujian mengatakan semua baik-baik saja, bahkan setara dengan siswa berprestasi lainnya.

Nilai baik di akhir ujian jelas menimbulkan pertanyaan bagi saya. Saya yang memiliki kosakata Bahasa Inggris cukup payah ternyata dapat nilai lebih dari cukup. Begitu pun dengan mata pelajaran lain. Semua terlihat aman, baik, bahkan melebihi batas minimal kelulusan. 

Padahal, sekali lagi saya katakan bahwa saya cukup payah dalam menghitung dan menghapal. Pada titik ini, kita harusnya sadar ada manipulasi yang sedang diproduksi massal oleh sekolah.

Pada era seperti sekarang ini, sungguh tidak mungkin guru memberi nilai buruk pada siswanya. Selain alasan tuntutan dari yayasan (sekolah), memberi laporan nilai baik saat rapotan cukup membantu citra sekolah ke orang tua dan masyarakat lainnya. 

Asal diketahui, tindakan semacam itu merupakan cara yang aman untuk mengatakan pendidikan baik-baik saja. (Seorang guru pasti merasakan betul himpitan kondisi semacam itu).

Alih-alih membantu siswa, atas dasar kasihan dan masa depan, tindakan manipulasi nilai jelas mencederai proses belajar itu sendiri. Bagaimanapun, nilai itu adalah tolok ukur kualitas pendidikan. Bila acuan dalam tolok ukur itu ternyata adalah berupa manipulasi massal, sudah jelas bahwa hasil dari pendidikan itu sendiri rendah kualitas. Kita harus memahami hal fundamental ini terlebih dahulu.

Permasalahan ketiga, setelah lulus dan masuk ke dunia kerja, perasaan kecewa bakal berada pada puncaknya. Apa yang dibekalkan sekolah (soal dan ujian) selama ini sebenarnya tidak membantu saya sama sekali. Dunia kerja tidak membutuhkan nilai-nilai itu. Dunia kerja cuma butuh legalisasinya. Ini menimbulkan pertanyaan baru.

Teman saya yang bekerja cleaning service, penjaga pom bensin, kantoran, dan buruh, tidak pernah ditanyai rumus matematika maupun fisika, apalagi biologi dsb saat interview kerja, apalagi saat praktik kerja.

Selain itu, teman saya yang bekerja sebagai admin kantor tidak ada bedanya. Mereka tidak menggunakan rumus-rumus matematikanya. Para admin akan tunduk oleh logaritma komputer (sistem) yang sudah disediakan kantor (minimal kalkulator). Admin hanya tinggal input-input jumlah angka masuk-keluar (yang sebenarnya bisa dilakukan oleh orang yang tidak lulus matematika “sekalipun”).

Lalu pada akhirnya hanya akan menyisakan satu pertanyaan, mengapa guru dan orang tua saya begitu marah saat saya tidak begitu pandai mengerjakan soal? Padahal soal-soal itu tidak berguna sama sekali sekarang. 

Itulah alasan mengapa pengangguran begitu kian menjamur di negeri ini dan para pekerja kurang bisa berkembang. Ini adalah buntut dari sistem pendidikan kita yang rusak-parah. Lantas, siapa yang paling dibohongi dan dirugikan atas itu semua?

Tampaknya, apa yang dinyatakan Nadiem Makarim sangat relevan dan objektif. Yang dikatakannya bisa jadi pukulan telak atas praktik pendidikan kita selama ini. Betapa tidak, semua orang sekolah bertujuan agar memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan akhirnya pekerjaan. Nyatanya, tidak.

Para murid hanya diberi lembaran berstempel yang berisi nilai-nilai (palsu). Sama seperti saya, harusnya para murid itu menggugat, mengapa nilai ijazah begitu baik, padahal secara kejujuran hal itu tidak pantas tercapai. Sekolah benar-benar membekali kita semua dengan hal yang tak berguna dan palsu.

Lebih dari itu, fakta menarik ditunjukkan oleh dunia setelah sekolah. Kita sama-sama tahu, di dunia kerja selalu ada tahapan latihan (training) untuk pegawai baru. Ini bukti autentik bahwa perusahaan sebenarnya tidak butuh pengetahuan/praktik/keterampilan yang ada di ijazah.

Dunia kerja memiliki motif dan bentuk pengetahuan-keterampilan-praktiknya sendiri. Sekolah tidak mampu menyesuaikan dan menyediakan itu. Alhasil, banyak lulusan yang pada akhirnya bingung dan akhirnya menganggur. Karena, pengetahuan-keterampilan-praktik yang diberikan sekolah tidak jelas manfaat dan kegunaannya. Padahal, bukan itu harapan orang tua dan masyarakat.

Sekolah gagal memberi timbal balik yang pas dan seimbang. Sekolah sepertinya hanya menjual ijazah dengan prosedur jenjang berkelanjutan. Belum lagi, masalah kesejahteraan, perlindungan guru, kualitas guru, dan kurikulum, yang sampai sekarang masih menjadi masalah klasik yang tidak tahu kapan bisa teratasi. Itu makin menambah kelam daftar hitam pendidikan kita.

Pada massa wabah corona, pendidikan kita kian menunjukkan wajah aslinya. Betapa tidak, dari dulu konsep pendidikan kita hanya pada soal, ujian, soal, ujian, dan soal, ujian. Saat pandemi global seperti sekarang ini, hal itu kian parah, menjamur, membengkak, dan mencuat menunjukkan wajah aslinya..

Kalau orientasi pendidikan kita hanya pada soal, jawab, ujian, nilai, dan lulus, sungguh itu “pelatihan binatang” yang dijual-belikan. Kita harus sadar, di luar sekolah teknologi sudah sedemikian maju, informasi sudah bertebaran di mana-mana, sumber pengetahuan bukan lagi searah, lalu guru masih saja berkutat dengan soal 1+1, nama ibukota A, ciri-ciri herbivora, laju kendaraan, membuat kalimat, menggambar gunung, dsb.

Semua yang diberikan guru sejatinya bisa dijawab dengan mudah dan cepat oleh teknologi (Google beserta teman-temannya itu) yang sangat akrab dengan muridnya. Lalu ada guru yang mengaku gaptek (gagap teknologi) dengan polosnya atas nama pendidikan memberi soal pada muridnya. Betapa lucunya kondisi itu.

Melihat hal itu, agaknya pernyataan Neil Postman perlu direnungkan dalam-dalam oleh pelaku pendidikan kita. Jika jawaban sudah tersedia, apa yang harus dipertanyakan?

Saya yakin, semua soal yang diberikan guru bisa dijawab dengan mudah dan cepat oleh kemampuan piranti komputer. Lalu, mengapa kita menguji kualitas siswa kita dari hal semacam itu?

Assessment terhadap siswa sudah seharusnya tidak didominasi oleh ujian. Apalagi hanya untuk menentukan kelulusan. Maka, bisa dikatakan, banyak yang perlu dibenahi dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Pertama, harus ada evaluasi sistem pendidikan Indonesia secara keseluruhan. Pemetaan pendidikan nasional harus segera dilakukan dengan baik, tepat, benar, dan transparan.

Kedua, assessment terhadap siswa harus digunakan sedemikian rupa untuk memberikan dukungan siswa dalam belajar. Membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Sistem pendidikan bukan untuk melabeli mereka dengan kata lulus atau tidak lulus.

Ketiga, kita memang harus mulai meninggalkan paradigma belajar yang menekankan pada ujian. Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, bahkan pernah mewasiatkan kepada kita sebagai gerasi penerus.

“Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar dapat belajar dengan tenteram, karena dikejar-kejar oleh ujian yang sangat keras dalam tuntutannya. Mereka belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiwaannya, sebaliknya mereka belajar untuk dapat nilai-nilai yang tinggi dalam raport sekolah atau  untuk dapat ijazah. 

Dalam soal ini, sebaiknyalah kita para pemimpin perguruan bersama-sama dengan Kementerian PP dan K mencari bagaimana caranya kita dapat memberantas penyakit examen cultus dan diploma jacht (mengultuskan ijazah dan diploma)”.

Pelaku pendidikan gagal memahami bahwa dunia telah sangat jauh berubah dan ada masalah serius pada pendidikan ini. 

Pernyataan Nadiem Makarim agaknya tinggal kenangan setelah 5 tahun mendatang. Bila hari ini Anda menemui siapa pun sedang belajar daring, lalu hanya diberi soal, kerjakan, kumpulkan, lalu swafoto sebagai bukti telah belajar, sesungguhnya pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja.