Libertarian
2 tahun lalu · 281 view · 8 menit baca · Cerpen screen_shot_2016-11-07_at_1.10.12_pm.png
Sungai di Mamuju

Murbei

Ibuku penenun. Penenun yang selalu merasa sukses setiap kali dia berhasil mengubah benang-benang sutra menjadi kain panjang. Kain panjang itu kemudian dikiraikan dengan sekali dua kali hentakan. Lalu disampir ke tali jemuran di belakang rumah. Besok, jerih payah sebulan penuh itu akan diserahkan kepada juragan sutra dari kota. Ditukar dengan dua tiga lembar uang merah muda: sesuai dengan fluktuasi harga.

Ayahku petani murbei. Setiap hari dengan perhatian yang sungguh-sungguh membesarkan tanaman-tanaman itu. Daun-daunnya tidak boleh rontok menguning. Daun-daun yang akan menjadi santapan ulat sutra.

Para ulat menyukai daun segar hijau tua. Daun-daun itu berguna bagi percepatan pertumbuhan benang di dalam perut ulat. Benang-benang halus itu kemudian dikeluarkan. Ulat-ulat itu sendiri yang akan melilitkan benang perutnya ke tubuhnya. Dan mereka akan terus mengeluarkan isi perut. Melilit tubuh sendiri. Menjadi kurus mengecil. Hilang di dalam lilitan isi perut sendiri. Membiarkan tubuh menjadi benang. Bunuh diri.

Adikku lahir tahun lalu. Adik manis dengan mulut mungil. Berkomunikasi hanya dengan lengking tangis. Merepotkan seisi rumah. Berteriak-teriak girang sehabis mandi.

Aku bocah ulat sutra yang senang berlama-lama di pekarangan. Bermain-main dengan cahaya matahari. Kulitku segelap bayangan. Di malam-malam dingin, aku meringkuk seperti kepompong.

***

Sering juga ayah mengajakku ke huma di seberang sungai. Memeriksa murbei-murbei muda yang baru ditanam. Mereka seperti menyeruak serentak dari dalam tanah semalam. Tunas-tunas itu berbaris rapi. Semuanya ingin berpeluh disiram cahaya matahari pagi. Di dalam biji-biji di balik tanah, mereka hanya bagian dari gelap. Kini mereka menyeruak dan menjadi semesta alam yang lapang.

Ketika ayahku sibuk menyiangi rumput-rumput yang menyelinap di sela-sela murbei. Aku berlari-lari ke arah pohon langsat di pinggiran huma. Pohon itu berbunga rupanya. Bunga-bunga putih muncul dari pohon dan dahannya. Dua tiga bulan lagi bunga-bunga putih itu akan bersalin warna. Menguning.

Orang-orang menyebut jenis langsat di pinggir huma ayah itu dengan nama langsat bambang. Jenis langsat paling manis dengan biji kecil. Bentuknya tidak bulat utuh, tetapi lonjong. Kalau gigiku mulai ngilu membuka langsat-langsat itu, aku akan meminta ayah memencetnya untukku.   

Di belakang pohon langsat, ada burung punai yang mengendap-endap. Biru bulu-bulunya serasi betul dengan warna dedaunan perdu semak belukar. Dia berjalan mendekati pohon tangan-tangan. Senang dia dengan buah tangan-tangan kering yang jatuh.

Buah-buah mungil hitam lonjong itu ditelannya bulat-bulat. Kaki-kakinya mulai mengais-ngais tanah. Menyisihkan daun-daun kering. Mencari-cari buah tangan-tangan yang tersisa. Lau dia terbang menjauh, hilang di reranting pohon, persis ketika aku mulai berlari mendekatinya.

Ayahku berhenti menyiangi rumput ketika aku mulai merengek minta burung punai. Sabitnya dia tancapkan ke tanah. Membimbingku ke arah sawung. Dia menarik parang dari sarungnya yang sejak tadi tergeletak saja di balai-balai. Aku mengikutinya dari belakang.

Ayah menebang sebuah ranting lurus dari sebatang pohon berdaun lebar. Dia timbang-timbang kekuatan lengkungnya. Lalu bergegas ke arah pohon tangan-tangan. Jebakan ayun yang rapi itu kemudian ditutupi dengan daun-daun kering.

Aku ingin mengingatkan ayah agar tidak mengusik jejak-jejak kaisan kaki punai. Tapi jebakan itu telah usai dipasang dan ayah membimbingku pulang. Aku pulang sambil berharap punai itu tidak akan curiga dengan perubahan di sekitar pohon tangan-tangan.

Aku kembali ke huma ayah beberapa hari kemudian. Kuncup-kucup murbei telah tampak menjadi pohon-pohon kecil dengan dua tiga lembar daun. Aku tidak ingin berlama-lama memperhatikan daun-daun murbei kecil. Segera saja aku berlari ke arah pohon langsat. Sekilas kulihat mulai ada satu dua bunga langsat putih yang mekar.

Di dekat pohon langsat itu kutemukan jebakan ayun yang dipasang ayah tempo hari sudah berantakan. Talinya melilit ke pohon tangan-tangan. Tak jauh dari situ kutemukan bangkai punai. Bangkai punai dengan kaki terjerat jebakan ayah. Aku murka dengan ketidakpedulian ayah terhadap jebakan ayun buatannya sendiri. Murka karena punai itu mati sebelum aku menemukannya.

***

Ibu yang mengajariku menangkap udang di sungai. Udang-udang itu bersembunyi di balik batu. Tetapi lebih banyak mereka bersembunyi di balik bongkahan kayu. Bongkahan-bongkahan kayu itu banyak di pinggiran sungai. Dulu terseret banjir dari hutan di hulu. Terjepit di batu-batu. Melapuk. Tidak ikut terseret ke laut di musim banjir tahun lalu.

Aku memasukkan tangan perlahan-lahan ke air mengikuti petunjuk ibu. Ibu berkata udang bisa mengetahui gerak-gerik bahaya dari kecipak air. Udang-udang sangat lincah menghindar dari tangkapan tangan yang disadarinya. Tidak jarang ada udang begitu nakal. Ia tidak bergerak didekati. Tetapi ketika tangan sudah hampir menyentuh kulitnya, secepat mungkin ia menghindar. Melompat dari satu batu ke batu lain. Tidak menjauh. Menantang. Mempermainkan emosi.

Di musim kemarau seperti sekarang ini, ibu akan mengajakku berburu ikan penja. Ikan-ikan kecil yang bergerak berbaris melawan arus. Entah kenapa mereka bergerak melawan arus. Pernah kutanyakan kepada ibu. Ibu menceritakan kisah tentang bunga di hulu. Bunga penyembuh yang ditanam orang dulu.

Penja­-penja itu meninggalkan lautan. Mengejar ke hulu untuk melihat bunga penyembuh. Sebenarnya lautan bukan asal mereka. Mereka berasal dari langit. Ditumpahkan ke bumi pada suatu malam oleh entah apa. Mereka hanya ada di laut sekitar muara sungai ini.

Kami lalu mencari pinggiran sungai berpasir. Aku membantu ibu membuat saluran pasir. Permainan yang menggembirakan. Ikan-ikan kecil yang saban hari bergerak ke arah hulu itu akan terjebak ke dalam saluran air di pasir. Mereka akan bergerak masuk ke saluran. Sebelum menyadari apa yang terjadi, mereka sudah terjerat ke dalam perangkap ibu. Kami pulang dengan sekantung penja segar.

***

Menenun adalah kegiatan ibu sepanjang hidup. Aku menyukai semua pekerjaan ibu selain menenun. Melihat ibu berselonjor menenun membuatku bosan. Ibu asyik sendiri. Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membantunya.

Ibu sangat suka menenun. Seharian penuh dia bisa tidak berdiri. Berselonjor saja. Alat-alat tenunnya beradu membuat bising suasana. Jika adik menangis. Dia akan meraihnya ke pangkuan. Bukan ke pangkuan, melainkan diletakkan di atas helai kain sutra sure’ parara yang belum jadi. Menetekinya sesaat. Setelah itu kembali bletuk-bletuk. Menenun.

Di hari-hari ketika ayah enggan mengajakku ke huma murbei, aku kecewa. Ibu terus saja berselonjor menenun. Sementara adikku yang masih terlalu kecil sibuk bermain dengan semua hal di sekelilingnya. Dia bermain dengan arutan bambu tempat benang-benang sutra aneka warna terlilit.

Dia bermain dengan bambu-bambu berongga tempat arutan bambu sutra lilit. Dia bisa bermain apa saja. Di tengah benda-benda mainan itu aku seperti tidak punya tempat. Lamat-lamat kurasakan kesendirian yang semakin sempurna. Aku berlari ke pekarangan. Berharap matahari membakar tubuhku. Menjadikan aku berwarna bayangan.

Kegemaran ibu menenun sure’ parara terusik ketika suatu hari datang utusan saudagar sutra langganan ibu. Dia membawa pesan agar ibu menenun kain sure’ sengkang dengan motif bunga-bunga. Bukannya ibu tidak mahir membuat sure’ sengkang. Dia hanya lebih menyukai sure’-sure’ yang telah turun-temurun dikerjakan keluargaku, terutama ibu dan nenek.

Selain sure’ parara, ibu juga gemar menenun sure’ salaka dan sure’ aroppo. Sesekali ibu juga membuat sure’ mara’dia. Sure’-sure’ kegemaran ibu itu bermotif elegan sederhana. Kotak-kotak kecil dengan warna dasar hitam atau merah. Ada juga dengan garis-garis panjang yang dibubuhi benang-benang sutra emas dan perak. Orang-orang menyebut kain sutra sure’ sengkang itu dengan sure’ modern.

Ibu mengeluh, sure’ yang digemarinya itu bukan melulu sederhana melainkan juga menyimpan kekuatan yang tidak ibu mengerti. Kekuatan sederhana untuk bertahan hidup tanpa ambisi. Sure’ aroppo dengan motif garis-garis lurus melambangkan ketulusan. Sure’ dengan garis-garis lurus dan melintang membentuk kotak-kotak menggambarkan kemauan untuk berbagi. Mungkin. Ibu tidak begitu mengerti. Aku pun tidak.

Sure’ modern dengan latar bunga-bunga itu membuat kegiatan menenun ibu melambat. Bunyi bletuk-bletuk tidak sesering ketika ibu membuat kain sure’ parara, salaka, aroppo, atau mara’dia. Di antara sela suara bletuk-bletuk yang melambat, ibu menyulam. Memasukkan gambar bunga-bunga ke kain sutranya. Ibu semakin sering mengajakku ke sungai. Menangkap udang. Membuat perangkap ikan penja. Aku gembira.

Hari demi hari membuat ibu semakin bosan menenun. Kain tenun sutra sure’ modern diselesaikan dalam dua bulan. Lambat sekali. Ternyata bukan cuma ibu yang melambat. Ibu-ibu lain juga menenun lambat. Sebenarnya tidak lambat, tetapi bosan.

Semakin banyak ibu yang pergi ke sungai. Berlama-lama di sungai. Ada yang menangkap udang. Ada yang memasang perangkap penja. Ada yang tak selesai-selesai membilas pakaian. Sungai menjadi semakin ramai suara orang bercakap-cakap.

Daun-daun murbei yang telah dipanen dari huma ayah hanya laku separuh. Selebihnya lagi menumpuk di bawah kolong rumah. Ayah membiarkan saja kambing-kambing yang berkeliaran memakan daun-daunnya. Kambing-kambing itu bergegas melahapnya: takut keburu kuning dan mengering.

Peternak-peternak ulat sutra kehilangan gairah. Benang-benang sutra mereka semakin hari semakin kehilangan peminat. Mereka berkeluh kesah sendiri, tidak tahu harus berbuat apa.

***

Bunga-bunga langsat di huma ayah yang dulu putih kini menguning. Sekeluarga kami ke huma memanen langsat bambang itu. Sekarung penuh ayah panggul ke rumah. Menyeberangi sungai yang riuh. Sepuas-puas hati aku terus memakan langsat dengan biji kecil itu. Sesampai ke rumah, berkali-kali aku berlari ke halaman belakang. Menumpahkan ampas-ampas langsat bambang manis di balik rimbun pohon pisang.

Esok hari, pagi-pagi benar ayah berangkat ke pasar. Menjajakan langsat bambang. Tidak sampai setengah hari, ayah telah pulang. Membawa ikan kering dan beras beberapa gantang. Di sore yang itu juga, ayah bergegas meraut bambu. Menimbang-nimbang daya lengkungnya.

Ayah akan memasang perangkap-perangkap burung di huma di dekat pohon-pohon tangan-tangan yang semakin banyak tumbuh: menggantikan murbei. Dua perangkap juga dipasang di halaman belakang di dekat rumpun pisang. Di situ sering juga ada punai. Kalau tak ada punai, barangkali ada burung lain yang terjerat.

Bukan hanya punai yang kita jebak. Suatu ketika ayah juga mengajakku berburu burung puyuh. Burung-burung itu benar-benar kita buru. Tidak terlalu susah memburu puyuh. Mereka hanya mampu melompat tiga kali terbang. Setelah itu burung-burung mungil itu akan kelelahan dan dengan mudah ayah menangkapnya.

Semua hasil buruan itu dijajakan di pasar. Ayah yang melakukannya. Di musim ikan penja, ayah ikut ke sungai. Ikan-ikan itu pun dijajakan di pasar. Segantang pun tak apalah. Sesekali aku ikut ke pasar. Sementara ibu semakin jarang menengok peralatan tenunnya. Tak jarang dia juga ikut-ikutan ke pasar. Menjajakan apa saja yang mungkin dijajakan.

Aku menjalani keterlibatanku dalam perubahan-perubahan ini dengan gembira. Bersungguh-sungguh gembira. Aku turuti saja perintah-perintah ayah dan ibu. Memasang perangkap punai. Memburu puyuh. Berlama-lama menipu ikan-ikan penja. Berjualan di pasar.

Alat-alat tenun ibu berdebu. Tak tersentuh. Sementara burung-burung punai semakin jarang mengunjungi pohon tangan-tangan. Burung-burung puyuh tidak lagi tampak. Ikan-ikan penja semakin sedikit yang sampai ke pinggir sungai berpasir. Orang-orang di hilir menangkapnya terlebih dahulu.  Ulat-ulat sutra telah lama mati muda. Tidak ada lagi murbei di huma ayah.

Utan Kayu, 18 Desember 2009