Freelancer
1 bulan lalu · 603 view · 4 min baca menit baca · Politik 48001_29185.jpg
nuralhudadotorg.wordpress.com

Mungkinkah Politik Machiavelli Kesurupan di Indonesia?

Dalam mendirikan negara, sang penakhluk harus mengumpulkan kejahatannya sekaligus agar tidak terjadi terhadap mereka setiap hari; keuntungan akan didapat sedikit demi sedikit agar dapat dinikmati dengan baik.

Itu adalah sebuah saran yang benar-benar murni bahkan blak-blakan menyatakan bahwa kejahatan adalah untuk dapat dinikmati keuntungannya dengan baik demi kekuasaan. Saran yang benar-benar jujur ini disampaikan oleh Machiavelli, seorang filsuf dan figur utama dalam realitas teori politik yang sangat disegani di Eropa pada masa Renaissance. 

Dua karyanya yang sangat terkenal, yaitu Il Principle dan Discorsi Sopra La Prima Deca di Tito Livio mungkin dijadikan hand book atau teori politik oleh elite politik saat sekarang ini, khususnya di Indonesia, baik itu secara terang-terangan atau secara sembunyi, terutama pada teori kekuasaan yang ditawarkan Machiavelli yang berfokus pada metode bagaimana atau apa yang harus dilakukan seseorang untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan.

Dalam suasana perpolitikan Indonesia, sangat mudah ditemui atau dianalisis bahwa teori politik Machiavelli sudah dipraktikkan walaupun secara tidak langsung sangat menyadari atau tidak. 

Sebagaimana gagasan Machiavelli menyatakan, “Siapa yang mempunyai senjata akan mengalahkan siapa yang tidak mempunyai senjata.” 

Di tanah air yang tercinta ini, terlihat jelas siapa yang memiliki senjata, senjata untuk memenangkan pesta pemilu, baik itu di legislatif ataupun pemilihan presiden. Tak lain adalah senjata 2M yang dimiliki oleh orang yang berpunya. 

Dengan mempunyai senjata 2M, maka dia bisa melakukan aksi menuju kemenangan. Aksi mengunjungi pelosok kampung mulai terlihat. Aksi pembagian sembako. Aksi pembagian mi kardus. Aksi pembagian amplop dan lainnya. Hal ini terlihat ketika pesta demokrasi dimulai.

Telah kita lalui bahkan saksikan banyaknya drama politik yang terjadi di tanah negeri ini. Apa pun itu akan dilakukan yang kata orang, “Menghalalkan segala cara” demi kekuasaan. Bahkan sampai saat detik ini, keributan yang terjadi masih kita saksikan. Keributan atas quick count pilpres yang berbeda setiap waktu. Kubu A menyatakan bahwa dia pemenangnya. Kubu B juga menyatakan bahwa dia juga pemenangnya.


Belum lagi alih-alih KPU yang katanya berpihak pada kubu tertentu dalam menghitung suara. Sebagai rakyat, tentu kita tidak mengetahui siapa yang benar, jujur, dan adil di balik semua ini. Drama ini benar-benar susah ditebak siapa yang berperan sebagai protagonis dan siapa yang berperan sebagai antagonis.

Seiring dengan pendapat Machiavelli bahwa “Seorang penguasa yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaannya harus menggunakan tipu muslihat, licik dan dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman dan penggunaan kekuatan.”

Semua kejahatan, walaupun itu demi kekuasaan, maka itu boleh-boleh saja bagi Machiavelli. Apakah demikian juga di Indonesia? Yang katanya negara demokratis. Rakyat bebas berpendapat. Rakyat mempunyai hak asasi manusia (HAM). Apakah itu benar apa adanya?

Belakangan ini kita lihat kasus meninggalnya petugas KPPS sebanyak 500 lebih tidaklah dianggap sebagai musibah dan ada yang menganggap itu biasa saja karena kelelahan. Sudah takdirnya meninggal. Hanya sebatas itu saja, bahkan tidak takut atau bahkan tidak mau menindak lanjuti lebih jauh apa yang menyebabkan mereka meninggal.

Bahkan Dokter Robiah Khairani Hasibuan belakangan menjadi pembicaraan publik lantaran karena pernyataannya banyaknya petugas KPPS meninggal selama pemilu dan meminta kasus ini diselidiki atau mayat diautopsi malah dianya yang dilaporkan dan akan diselidiki.

Dalam beberapa minggu ini, seorang pria pencipta robot pemantau Sistem Informasi Perhitungan Suara (Situng), yaitu Hairul Anas, lulusan ITB, menjadi perbincangan. Robot ciptaan Hairul diklaim menyimpan bukti-bukti halaman KPU dari screen monitoring tampilan situng KPU dari menit ke menit. Dan dari robot tersebutlah dia menemukan kejanggalan dalam situng. Nah, di salah satu pihak, dia dituding berbohong atas ciptaan robotnya.

Sungguh ini hanya Tuhan yang tahu siapa yang benar.

Selama pemilu, ada ratusan lebih kasus dugaan pelanggaran di negeri ini. Mulai dari surat suara yang sudah tercoblos, kotak suara hilang, surat suara yang ditemukan di tong sampah, tertukarnya angka dalam penghitungan suara, dan lainnya.

Menurut Machiavelli, semua ini tidak masalah dilakukan. Dalam bukunya The Prince yang dasar pemikirannya adalah untuk suatu keberhasilan seorang penguasa harus mengabaikan pertimbangan moral sepenuhnya dan melakukan segala sesuatu walaupun dengan cara melakukan kelicikan.

Seorang pemimpin menurut Machiavelli harus bertindak sesuai kondisi lingkungan dan tidak menutup kemungkinan pemimpin itu melakukan hal-hal negatif. Selain itu, penguasa juga mesti memiliki sifat positif dan negatif jika dibutuhkan demi menjadi penguasa yang kuat tentunya dapat memajukan negara.

Dikemukakan Machiavelli dalam bukunya Il Principle bahwa “Penguasa, yaitu pemimpin negara, haruslah mempunyai sifat-sifat seperti kancil dan singa. Ia harus menjadi kancil untuk mencari lubang jaring dan menjadi singa untuk mengejutkan serigala.”

Perlu ditekankan bahwa ajaran politik Machiavelli lahir karena kondisi perpolitikan di Italia pada saat itu tidak sangat stabil. Sehingga Machiavelli sangat menganjurkan terbentuknhya masyarakat sekuler dan menganggap bahwa moralitas sangat tidak dibutuhkan. 

Moralitas ataupun agama akan dibutuhkan jika itu untuk kepentingan negara. Agama dijadikan hanya sebagai alat jika itu melancarkan dan demi kebaikan negara.

Machiavelli menyarankan seorang penguasa harus memperlakukan warga negaranya dengan benar, dalam artian untuk mencapai tujuan penguasa. Tidakkah ini sama saja bersandiwara dengan moral?

Bisa jadi. Moral dan kekuasaan tidak ada hubungannya sama sekali. Moral dan politik adalah dua ruang yang terpisah. Bahkan moral sama sekali bukanlah  menjadi pertimbangan dan tidak mempunyai tempat di ruang politik. Segala tindakan yang dilakukan demi kepentingan dan pencapain tujuan, maka itu dapat saja dibenarkan menurut Machiavelli.

Mungkinkah Indonesiaku seperti itu?

Dan tak heran jika Taufik Ismail mewakili ungkapan perasaannya melalui puisi  yang berjudul Malu Aku Menjadi Orang Indonesia yang isinya:


Di negeriku yang didirikan pejuang relijius,
Kini dikuasai pejabat rakus.. Kejahatan bukan lagi kelas maling sawit,
melainkan permainan lahan duit.. Di negeriku yang dulu agamais,

Sekarang bercampur liberalis sedikit komunis.
Ulama-ulama diancam karena tidak punya pistol,
Yang mengancam tinggal dor.. Hukum-hukum keadilan tergadai kepentingan politis.
Akidah akidah tergadai materialistis,

Aku hidup di negara mayoritas beragama Islam,
Tapi kami tersudut dan terancam.. Telah habis sabarku..
Telah habis sabar kami..
Pada presiden yang tak solutif..
Pada dewan dan majelis yang tak bermufakat..
Pada semua bullshit yang menggema saat pemilu.
Pada nafsu yang didukung asing dan aseng..

Rakyat kelas teri yang tak berdosa pun digoreng..
Kesaksikan keindahan negara yang menegakkan khilafah..
Diceritakan hidup mereka sejahtera..
Lalu ditanya darimana asalku..

Kusembunyikan muka..
Tak kujawab aku dari Indonesia..
Negeri yang kini tumbuh benih islamophobia

Artikel Terkait