5 bulan lalu · 557 view · 6 menit baca · Filsafat 83836_26957.jpg

Mungkinkah Kita Mendefinisikan Tuhan?

Ngaji Mantik Bag. 38

Selain tiga poin yang sudah penulis terangkan dalam tulisan sebelumnya, ada satu hal lagi yang jarang dibahas oleh para logikawan terkait hal-hal yang tidak bisa didefinisikan itu, yakni definisi tentang Tuhan. Mungkinkah kita mendefinisikan Tuhan? Pertanyaan tersebut mungkin terkesan tidak lazim. Apalagi di mata orang-orang awam.

Tapi, suka atau tidak, dalam dunia filsafat justru yang kerap kita jumpai ialah orang-orang yang suka mempertanyakan hal-hal yang tak lazim untuk dipertanyakan. Salah satunya ialah pertanyaan tentang Tuhan.

Jika pertanyaan yang kita ajukan itu hendak merumuskan sebuah definisi, maka pertanyaan yang bisa kita ajukan ialah: “apa itu Tuhan? (what is God?)” Tapi, jika pertanyaan yang kita ajukan itu bertujuan untuk mengenal atribut/sifat dari sesuatu yang ditanya, maka pertanyaan yang harus kita ajukan ialah: “siapa itu Tuhan? (who is God?)”.

Dalam perspektif ilmu logika, pertanyaan yang menggunakan kata “apa” (mâ/what) itu pada umumnya bertujuan untuk menyingkap esensi sesuatu (mahiyyat al-Syai). Sedangkan pertanyaan yang menggunakan kata “siapa” (man/who) bertujuan untuk mengenal atribut, sifat, identitas, atau predikat yang dimiliki oleh sesuatu yang ditanyakan itu.

Sebagai contoh sederhana, misalnya saya bertanya: Apa itu Nissa Sabyan? Kepada siapapun pertanyaan ini diajukan, jawabannya hanya ada satu, yaitu manusia. Nissa Sabyan adalah seorang manusia. Titik. Kata manusia itu dengan sendirinya sudah menjelaskan esensi utuh dari seorang Sabyan.

Tapi ketika saya bertanya siapa itu Nissa Sabyan? Jawabannya tentu bisa beragam. Tergantung sejauh mana pengenalan orang yang hendak menjawab pertanyaan itu terhadap Nissa Sabyan.

Nissa Sabyan adalah seorang penyanyi dengan suara aduhai mempesona yang mampu menyihir hati dan telinga. Nissa Sabyan adalah artis muda yang imut dan disukai banyak pria. Nissa Sabyan adalah seorang Muslimah yang terhormat dan taat beragama. Nissa Sabyan adalah gadis mungil yang layak dijadikan sebagai pasangan hidup bagi pria manapun saja.

Itu semua adalah jawaban-jawaban yang bisa kita kemukakan ketika pertanyaan yang diajukan menggunakan kata “siapa”. Artinya yang kita sertakan di sana adalah atribut/sifat, bukan hakikat.

Nah, begitu juga halnya ketika kita ingin bertanya tentang Tuhan. Sebelum menyertakan jawaban, kita perlu luruskan terlebih dahulu pertanyaan yang hendak kita ajukan itu. Apakah pertanyaan tersebut bertujuan untuk menerawang hakikat, atau hanya menanyakan sifat? 

Jika pertanyaan yang kita ajukan hendak menerawang hakikat, maka, sekali lagi, kata yang digunakan adalah adalah kata "apa" (ma/what). Tapi jika pertanyaan yang kita ajukan hanya untuk sedekar mengenal atribut/sifat, maka kata yang digunakan adalah kata "siapa" (man/who). Dan jawaban yang dihasilkan dari dua pertanyaan tersebut tentu akan berbeda-beda.  

Bolehkah kita bertanya tentang Tuhan? Tentu saja boleh. Kalau pertanyaan itu bertujuan untuk mengenal sifat. Tapi, bolehkah kita bertanya tentang hakikat Tuhan? Pertanyaan ini bisa diubah dengan pertanyaan lain yang lebih substansial: mungkinkah/bisakah kita mendefinisikan Tuhan, yang dengan definisi tersebut kita bisa mengetahui hakikatnya sebagai Tuhan? 

Kalau Anda menjawab iya, dan Anda mengajukan suatu definisi tertentu, itu artinya esensi Tuhan tersandra dalam definisi yang Anda sebutkan. Dengan kata lain, dengan adanya pendefinisian itu Tuhan menjadi terbatas. Dan kalau sesuatu yang kita anggap sebagai Tuhan itu terbatas, maka gugurlah sudah aspek ketuhanannya. Artinya dia sudah tidak layak lagi disebut sebagai Tuhan. 

Di sisi lain, Tuhan itu dinamai Tuhan karena Dia tidak diciptakan (ghair makhluk/uncreated), bahkan yang ada justru Dialah yang menjadi sumber segala ciptaan. Karena kalau Dia diciptakan, ya jelas namanya bukan Tuhan lagi. Sementara definisi yang kita kemukakan, apapun bunyinya, itu adalah kreasi nalar, yang selain diciptakan (makhluk), juga sarat dengan keterbatasan (mahdud).

Pertanyaannya: mungkinkah kita menjelaskan hakikat Sang Maha Pencipta dengan sesuatu yang tercipta? Dengan pertanyaan yang lebih jelas: mungkinkah kita menjelaskan sesuatu yang tak terbatas dan tak tercipta dengan sesuatu yang terbatas yang diciptakan oleh nalar kita?

Anda bisa termenung sejenak untuk menjawab pertanyaan ini. Tapi pada akhirnya--selama Anda waras--saya yakin kesimpulan Anda akan berakhir dengan kata tidak. Pertanyaan di atas, kira-kira, hampir mirip dengan pertanyaan seperti ini: mungkinkah sebongkah teko menampung hamparan samudera yang terbentang luas di seluruh pelosok jagad raya?

Kalau pertanyaan seperti ini yang diajukan, dengan tegas semua orang akan menjawab tidak. Kira-kira begitulah perumpaan ketika kita mengajukan pertanyaan apa itu Tuhan. Karena pertanyaan tersebut bertujuan untuk menyingkap hakikat, sementara hakikat Tuhan tak akan bisa dijangkau, maka pertanyaan itupun pada akhirnya hanya akan berujung dengan kesia-siaan.

Mengapa bisa demikian? Ya karena memang jawabannya tidak tersedia. Di kitab suci manapun tidak akan ada ayat yang menjelaskan hakikat Tuhan yang sesungguhnya. Yang ada hanyalah penjelasan tentang sifat-sifat-Nya, bukan hakikat-Nya. Bahkan, kata salah seorang guru saya, Syekh Gamal Faruq, penyebutan nama dan sifat-sifat Tuhan itu sendiri sejujurnya tidak menjelaskan hakikat yang sesungguhnya.

Penyebutan nama-nama itu—terang Syekh Gamal—hanya littaqrib saja. Artinya hanya untuk mendekatkan pemahaman kita saja, agar kita memahami-Nya sesuai dengan kadar kemampuan kita, bukan menjelaskan hakikat sesungguhnya. Soal hakikatnya seperti apa, jangankan kita, para nabi saja tidak tahu. Karena itu, pertanyaan yang bertujuan untuk mendefiniskan Tuhan tak akan berujung dengan jawaban yang memuaskan.

Pertanyaan yang lebih relevan untuk diajukan sebenarnya bukan apa itu Tuhan, melainkan siapa itu Tuhan? Jika pertanyaan ini yang diajukan, akal kita pun sejujurnya tidak akan mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Tapi, untungnya, kita memiliki kitab suci yang menyediakan sekian banyak jawaban. Dan dari sanalah kita bisa mengenal Tuhan.

Jadi, Tuhan itu bisa dikenal dan bisa diketahui sifat-sifatnya. Dan karena itu kitapun diperintahkan untuk menyembah-Nya. Tapi Dia tidak bisa—dan tak akan pernah bisa—diketahui hakikatnya, hatta oleh para nabi sekalipun. Karena itu kita tidak akan pernah mampu untuk mendefinisikannya.  

Itu sebabnya, kalau kita merujuk pada al-Quran, tidak ada ayat yang menjelaskan hakikat Tuhan. Yang ada hanyalah ayat-ayat yang menjelaskan sifat-sifat dan perbuatan-Nya, bukan hakikat-Nya. Bahkan ketika ada pertanyaan yang bertujuan untuk meminta penjelasan tentang hakikatpun, jawaban yang diberikan al-Quran hanya berkaitan dengan sifat, bukan hakikat.  

Dalam suatu ayat, Fir’aun pernah bertanya kepada Nabi Musa tentang Tuhan yang disembahnya dengan menggunakan kata man (siapa), yang tujuannya ialah mengenali atribut/sifat. Petikan ayatnya ialah sebagai berikut:

“Dia (Fir’aun) berkata: “Siapakah Tuhanmu, wahai Musa? Dia (Musa) menjawab: “Tuhan kami adalah Tuhan yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.” (QS 20: 49-50).

Di ayat lain, Fir’aun menggunakan kata ma (apa), yang tujuannya—seperti yang penulis singgung di atas—ialah menanyakan esensi/hakikat. Tapi, meski yang ditanya adalah hakikat, jawaban al-Quran lagi-lagi hanya menyertakan sifat, bukan hakikat. Perhatikan potongan ayat sebagai berikut:

“Fir’aun bertanya: “Apa Tuhan seluruh alam itu?” (ma rabbul 'alamin?). Dia (Musa) menjawab: “Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu memercayai-Nya.” (QS 26: 23-24).

Sayangnya, al-Quran terjemah versi Depag menerjamkan kata ma itu dengan siapa. Padahal ma dengan man itu dua kata yang memiliki fungsi berbeda. Dan karena fungsinya berbeda, maka jawaban yang dihasilkan pun akan berbeda.

Tapi yang jelas, baik menggunakan ma ataupun man, jawaban yang dikemukakan al-Quran sama saja, yaitu berbicara tentang sifat, bukan hakikat. Karena hakikat Tuhan tak bisa akan terjangkau oleh nalar kita. Manakala hakikat itu bisa dijelaskan, maka cukuplah itu menjadi bukti akan keterbatasan Tuhan. Dan itu mustahil.

Pada akhirnya, apapun definisi yang kita kemukakan, definisi kita itu adalah syai (sesuatu). Sementara Tuhan—seperti yang ditegaskan dalam al-Quran—laisa kamitslihi syai (tidak diserupai oleh sesuatu). Apapun definisi yang kita kemukakan, definisi kita itu adalah sesuatu yang tercipta (makhluk). Sementara Tuhan adalah khalik (Sang Maha Pencipta), yang tidak mungkin tercipta, juga tidak mungkin dijelaskan oleh sesuatu yang diciptakan-Nya. Demikian, wallahu 'alam bisshawab.