Khilafah bukanlah kosa-kata anyar yang muncul karena propaganda HTI, atau baru terdengar karena boomingnya pemberitaan konflik di Syuriah yang berdarah-darah. Khususnya di kalangan muslim, Khilafah dikenal sedari awal dan bahkan menjadi bagian integral yang suka-tidak suka melekat pada ajaran Islam yang tercatat jelas dalam naskah-naskah dan juga sejarahnya.

Namun patut disayangkan bahwa persepsi yang muncul tentang Khilafah akhir-akhir ini sangat jauh dari apa yang sebenarnya dipahami dalam Islam. Ada banyak sekali kekeliruan yang disadari atau tidak demikian mendiskriditkannya, dimana Khilafah seringnya dipersepsikan dengan gerakan radikal, pemberontakan dan atau makar.

Kita tentu tidak menutup mata bahwa gerakan-gerakan demikian memang ada dan masiv dalam propagandanya, bahkan tak jarang menghalalkan segala cara. Lihat apa yang sudah dilakukan ISIS dengan kerusakan yang telah diperbuatnya? Atau Hizbut Tahrir dengan rongrongan dan politik pecah belahnya yang demikian terasa melemahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa kita? Yang kemudian menjadi sebab munculnya framing bahwa khilafat merupakan ancaman. 

Apa yang dilakukan ISIS dan Hizbut Tahrir jelas tidak mencerminkan konsep khilafah dalam  Islam, sama sekali. Islam tidak membenarkan langkah-langkah yang menjurus pada pembangkangan dan atau pemberontakan demi sebuah kekuasaan. Hal ini secara nyata dilarang dalam Al-Quran:

"Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan pemberontakan." (Qs. An-Nahl, 16:90)

Dan jika kita merujuk kepada sabda Rasulullah saw, pembangkangan itu sendiri dihukumi sebagai bentuk kejahilan. Man kharaja minas sulthani syibran maata miitatan jaahiliyyatan. 

Pertanyaan muncul kemudian, bagaimanakah sebetulnya faham Khilafah dalam Islam? Dan mungkinkah Khilafah dapat tegak ditengah-tengah kehidupan berbangsa seperti sekarang ini? 

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, baik kita kupas terlebih dahulu sumber referensi tentang khilafah. Sebab, pemahaman akan hal ini sangat menentukan pada jalur mana sepatutnya perjuangan itu ditempuh. 

Spirit perjuangan menegakan Khilafah pada umumnya bermuara pada hadits Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Hadhrat Huzaifah ra, dimana Rasulullah Saw pernah bersabda ; 

"Saat ini sedang berlangsung kenabian diantara kalian hingga Allah menghendaki, kemudian Dia akan mengangkatnya ketika ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian terjadi khilafah 'ala minhaajin nubuwwah (Kekhilafahan yang berdasarkan kenabian), dan itu terjadi sesuai kehendakNya dan Dia akan mengangkatnya ketika Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian akan terjadi kerajaan yang menggigit/diktator dan itu terjadi hingga Allah menghendaki, kemudian akan terjadi kerajaan bengis. Kemudian akan terjadi khilafah 'ala minhaajin nubuwwah (khilafah yang berlandaskan kenabian)." (Musnad Ahmad bin Hanbal, jolid 6 hal 285) 

Point pertama yang dapat kita catat dari hadits tersebut bahwa  masa depan Islam akan diwarnai dengan beberapa fase kepemimpinan yakni Kenabian - Khilafah' ala minhaajin nubuwwah (Khilafah yang bersandar pada kenabian) - Masa-masa kerajaan - dan kembali pada Khilafah 'ala minhaajin nubuwwah (Khilafah yang berdasarkan pada kenabian).

Semua fase itu benar-benar terjadi dan bergulir sesuai dengan nubuwatannya. Pasca Rasulullah Muhammad Saw, umat Islam dipimpin oleh Khalifatur Rasyidah yang berakhir pada kekhalifahan Hadhrat Ali Bin Abi Thalib ra, selepas itu dilanjut dengan masa kerajaan-kerajaan mukai dari Ummayyah - Abbasiyyah dan seterusnya dan seterusnya. 

Sampai disini menjadi klir bahwa khilafah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Islam dan akan ada lagi masanya untuk kembali tegak. 

Point kedua yaitu Khilafah yang akan benar-benar tegak dalam Islam adalah Khilafah 'ala minhaajin nubuwwah (khilafah yang berlandaskan pada kenabian). Dan misi kenabian atau nubuwwah selalunya berhubungan dengan kesejahteraan ruhani umat, bukan kekuasaan duniawi. Sehingga upaya-upaya perebutan kekuasaan dari pemerintah-pemerintahan yang sah demi menegakan khilafah menjadi sesuatu yang absurd. 

Mungkin sebagian orang akan berkomentar bahwa selain menyandang kenabian bukankah Nabi Muhammad Saw juga sebagai pemimpin pemerintahan? Demikian juga dengan para khalifah beliau?

Benar demikian, tapi menjadi pemimpin pemerintahan di Madinah bukanlah cita-cita ataupun tujuan dari Nabi Muhammad Saw, pangkat itu merupakan amanat warga Madinah kepada Nabi Saw dan imfact dari kemuliaan akhlak Rasul. Karena bagi mereka Rasulullah Saw adalah orang mulia yang ada didekat mereka juga diakui sebagai al-Amin dan Shiddiq sehingga layak menjadi pemimpin mereka.  Yang kemudian para khalifah pun mendapatkan berkah dari itu. Tujuan diutusnya Rasul Allah adalah membimbing manusia pada jalan Tuhan yang benar;

“Dan sungguh, kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, jauhilah Tagut”. (Q.S an-Nahl: 36)

Menyampaikan pesan-pesan Allah;

"Allah tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib, tetapi Allah memilih siapa yang Dia kehendaki di antara rasul-rasul-Nya. Kerena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya...” (Q.S Ali Imron: 179)

Dan menjadi tauladan baik bagi manusia;

"Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik…" (Q.S al-Ahzab: 21)

Sampai disini semoga menjadi jelas bahwa khilafah yang akan tegak adalah 'Khilafah Ruhaniah' yaitu Khilafah yang bertujuan memberikan kesejahteraan ruhani kepada manusia. Khilafah seperti ini sama sekali bebas dari campur tangan politik praktis karena tidak membutuhkan batas teritorial sebagai wujud eksistensinya, ia universal sebab goalnya adalah menjadikan hati setiap manusia untuk tunduk dan patuh kepada Allah Ta'ala. 

Khilafah seperti ini dapat hidup dan berkembang di setiap negara di dunia tanpa bertentangan dengan hukum-hukum formal yang ada. Khilafah ini ramah lingkungan, karena misi menablighkan perintah-perintah Tuhan bisa tersampaikan tanpa harus berkonflik.

Mungkinkah khilafah demikian ada? Jawabannya ada. Khilafah Islam Ahmadiyah telah berdiri tegak sejak 111 tahun yang lalu (1908-2019) dan konsisten menjalankan dakwah Islam keseluruhan penjuru dunia. 

Kini Ahmadiyah telah tersebar di 212 negara dengan jumlah anggota lebih dari 200 jiwa. Di bawah bimbingan Khalifah ke 5, Hz. Mirza Masroor Ahmad Atba berbagai usaha terus dibuat untuk menablighkan Islam dan dengan motto; Love For All Hatred For None, Ahmadiyah terus berupaya menjadikan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta.