Mahasiswa
8 bulan lalu · 25 view · 5 menit baca · Olahraga 24330_66137.jpg
archive.rimanews.com

Mungkinkah Kedamaian dan Persatuan dalam Sepak Bola Kita?

Kasus kematian Haringga Sirila, salah satu supporter The Jakmania menambah daftar hitam dosa sepak bola kita. Rivalitas antara Persib dan Persija sudah sedemikian parahnya. Sebuah nyawa melayang lantaran hanya karena perbedaan kecintaan pada klub sepak bola. Perbedaan yang harusnya dapat menyatukan menjadi alat yang mampu menihilkan rasa kemanusiaan.

Berkaca pada bunyi sila ke- 2 Pancasila yaitu “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, tentunya kejadian ini jauh dari sikap mulia manusia yang mampu memuliakan manusia lainnya. Sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kejadian ini jelas mencoreng nama baik negara kita.

Kebobrokan sepak bola kita terjadi atas berbagai persoalan riuh yang orang awam pun saya kira bisa lihat. Mulai dari rangkap jabatan yang diemban ketua organisasi sepak bola kita, kurangnya ketegasan wasit dalam memimpin pertandingan, para pemain yang tidak mampu mengontrol emosi mereka, dan yang terakhir anarkisme supporter. Kejadian semacam pengeroyokan wasit dan perusakan fasilitas stadion sepertinya sudah biasa kita dengar.

Budaya kekerasan sejatinya telah mengakar pada diri supporter sepak bola. Sensitifitas terhadap klub kebanggaan atau klub rival telah tertanam sangat kuat. Pertandingan sepak bola antara Persib dan Persija kemarin hanyalah menjadi pemicu untuk membenarkan tindakan kekerasan mereka terhadap pendukung klub rival. Begitu seterusnya, ajang balas dendam yang turun temurun. Apakah rasa kemanusiaan itu sudah hilang dari diri mereka?

Media sosial juga berperan dalam memburuknya rivalitas supporter sepak bola. Media sosial menjadi alat provokasi satu sama lain yang semakin mempertebal rasa kebencian yang ada. Tindakan kekerasan seolah menjadi jalan keluar dan membunuh rasanya halal-halal saja.


Ketika sisi kemanusiaan itu telah hilang, tindakan salah dibenarkan, dan hilangnya batasan-batasan yang telah ditentukan. Ketika itu pula kehancuran telah menanti didepan. Kesadaran akan betapa tak ternilainya harga sebuah nyawa seolah menjadi isapan jempol semata.

Menurut Winston Churcill “Seseorang fanatisme tidak akan bisa mengubah pola pikir dan tidak akan mengubah haluannya”. Seseorang yang sudah terlanjur cinta secara berlebihan terhadap sesuatu akan sangat sulit mendengarkan opini atau pendapat yang bertentangan dengan apa yang ia yakini. Tindakan kekerasan menjadi hal yang lumrah dilakukan untuk dapat mempertahankan kecintaan mereka. Mungkin ungkapan “Cinta itu Buta” benar adanya.

Dikutip dari acara Mata Najwa #DukaBolaKita, terdapat 63 kasus kematian akibat sepak bola kita dan 5 diantaranya terjadi di tahun ini. Lantas siapa yang harus disalahkan atas banyaknya kasus kematian dalam sepak bola kita? Banyak pihak menyatakan bersalah atas kematian Haringga, sama seperti kasus-kasus sebelumnya. Namun apa yang terjadi? 

Kejadian seperti itu masih saja berulang dan berulang. Seperti yang disampaikan oleh Akmal Marhali (Koordinator Save Our Soccer) dalam acara Mata Najwa #DukaBolaKita, “jangan sampai kejadian seperti ini seperti jamur di musim semi”, yaitu seminggu ramai kemudian seminggu sepi. Artinya bahwa jangan sampai kita menunggu kejadian seperti ini terjadi baru kita ramai meributkan persoalan tersebut, namun tetap saja kejadian seperti ini terjadi kembali.

Dari catatan yang didapat oleh BolaSport.com dari Save Our Soccer, tercatat hingga saat ini telah terdapat tujuh korban yang harus kehilangan nyawa akibat rivalitas antara Persib Bandung dan Persija Jakarta. Mayoritas meninggalnya korban-korban tersebut disebabkan oleh pengeroyokan. Saya sendiri tidak habis pikir, kok bisa-bisanya mereka tega menghabisi nyawa atas persoalan yang saya kira mereka sendiri juga tidak terlalu paham. 

Fanatisme dalam sepak bola sejatinya bukan hal yang baru. Kisah-kisah kekerasan hooligan terus mewarnai dunia sepak bola. Di Skotlandia, yang paling sering terjadi adalah perang antar-suporter Glasgow Celtic dan Glasgow Rangers. Celtic adalah klub yang dianggap mewakili agama Katolik, sedangkan Rangers mewakili Protestan. Di Italia, pertandingan derby Inter Milan versus AC Milan disebut-sebut sebagai perang kaum miskin (Milan) melawan kaum kaya (Inter). Konteks yang sama terjadi pula di Turki. "Derby Istanbul" yang memertemukan Fenerbahce versus Galatasaray adalah pertandingan yang dianggap sebagai perang kaum miskin (Fenerbahce) versus aristokrat (Galatasaray) (Kompasiana.com, 2011).

Sepak bola telah tumbuh menjadi sebuah identitas baru bagi kaum fanatik. Segala macam cara boleh dilakukan untuk mempertahankan identitas mereka.

Sepak bola harusnya menjadi olahraga yang mampu menyatukan bukan memecah belah. FIFA sebagai induk organisasi sepak bola dunia telah lama menggaungkan nilai sportifitas, solidaritas, fair play, say no to racism, equal dalam setiap pertandingan sepak bola. Itulah yang harusnya dilakukan. Namun realitanya, sepak bola seringkali disejajarkan dengan agama dan bertaruh nyawa demi sepak bola seolah menjadi hal yang biasa.

Jika kita melihat sebelum terjadinya kasus kematian Haringga, kita baru saja merasakan euforia bersama saat timnas U- 16 sepak bola kita berhasil meraih juara dalam kancah regional Asia Tenggara. Kemudian euforia itu kembali kita rasakan saat kita menjadi tuan rumah Asian Games dan berhasil mencatatkan sejarah dalam pencapaian medali selama pagelaran tersebut resmi digelar. 

Poinnya adalah, kedamaian dan persatuan itu sebenarnya dapat kita wujudkan. Tidak peduli adanya perbedaan ras, agama, suku, pendukung Persib atau Persija, namun ketika kita berbicara Indonesia, kita adalah satu. Keanekaragaman itu pula lah yang dahulu dapat menyatukan kita (Bhinneka Tunggal Ika). Sehingga persatuan dalam sepak bola kita harus dilakukan.

Upaya untuk mendamaikan kedua belah pihak sejatinya telah dilakukan. Nota-nota perjanjian damai pernah dilakukan, hukuman dan denda terhadap klub yang bersangkutan pernah dilakukan, namun kejadian-kejadian seperti ini masih saja terjadi. Kemudian apa lagi yang harus dilakukan?.


Kurangya tindakan yang dapat langsung menyentuh ke akar permasalahan atau menyentuh langsung ke supporter dalam tataran bawah menjadi kunci kurang efektinya tindakan-tindakan yang telah dilakukan. Sejatinya supporter sendiri memiliki karakteristik yang keras dan loyal. Hal ini kemudian menjadi tugas dari pihak-pihak yang terkait untuk dapat mengarahkan karakteristik supporter kepada hal-hal yang positif.

Dalam artian bahwa dibutuhkan upaya pembinaan supporter yang berjenjang baik itu dari pihak klub, PSSI, ataupun tingkat daerah. Selain itu, dibutuhkan wadah yang dapat mempertemukan supporter-supporter yang bertikai untuk dapat menyatukan mereka. Tidak hanya untuk supporter Persib dan Persija, namun juga untuk supporter-suporter lain. Selain itu, dibutuhkan keteladanan dari para pemangku elit dan tokoh-tokoh lain yang memiliki pengaruh besar dalam dunia sepak bola kita.

Kemudian janganlah kita seolah-olah menyudutkan salah satu pihak. Dalam konteks ini, sejatinya yang melakukan tindakan adalah segelintir oknum Bobotoh. Tidak bisa kemudian kita menstigma bahwa semua Bobotoh seperti itu. Insiden ini merupakan akibat dari konflik berkepanjangan yang tidak ada henti-hentinya. Ibarat pohon jika kita ingin menumbangkannya, tidak bisa kita hanya memotong tangkai atasnya saja. 

Namun lebih dari itu, kita harus mencabut hingga ke akar-akarnya. Memang diperlukan proses yang panjang dan usaha kolektif untuk dapat menciptakan kedamaian dan persatuan dalam sepak bola kita.

Artikel Terkait