Narasumber pertama dalam kajian online ini adalah Prof. Dr. Alimatul Qibtiyah. Beliau merupakan guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang memaparkan tentang wasathiyah dan isu-isu gender, sehingga poin penting dari pertemuan ini adalah gender dan pemaknaannya, penyebab ketidakadilan gender, ragam pemaknaan keagamaan, dan beberapa contoh gender dalam Islam dalam pendekatan wasathiyah yaitu, keluarga, poligami, seksualitas, dan kepemimpinan.

Pemaparan ini dikemukakannya dalam kajian pemikiran Islam Kontemporer, serial kegiatan tadarus online Ramadan 1442 Hijriah, dengan tema Islam Washatiyah dan Peran Perempuan dalam Isu Gender yang diselenggarakan oleh Maarif Institut selama bulan puasa ini.

Beliau yang merupakan pakarnya gender mengungkapkan bahwa gender terbagi dalam lima hal yaitu: pertama, gender sebagai fenomena sosial misalnya, laki-laki memakai kopiah dan perempuan memakai jilbab. Kedua gender sebagai persoalan misalnya, perempuan yang berhijab lebih diuntungkan daripada laki-laki yang berkopiah, atau perempuan yang mendapat menstruasi tidak berpuasa. 

Ketiga, gender sebagai sebuah perspektif. Keempat, gender sebagai sebuah alat analisis, dan terakhir kelima, gender sebagai suatu gerakan kesadaran sosial dengan adanya muslimat dan Aisyiah.

Diawal, kita harus membedakan antara jenis kelamin biologis dan gender. Mana yang merupakan pemberian Tuhan (kodrat) dan mana yang kemudian konstruksi sosial.

Apa sih Wasathiyah itu?

Wasathiyah, atau al washat adalah titik tengah, seimbang, tidak ke kanan, atau pun tidak ke kiri berlebihan atau biasa yang dikenal dengan ekstrim. Yang artinya, wasathiyah mengandung arti keadilan, istiqomah, jalan lurus atau kebaikan, keamanan, dan kekuatan, itu menurut Al Shafani dalam jurnal Amar tahun 2018.” Begitu penjelasan Jalaluddin tentang wasathiyah. 

Jalaluddin merupakan alumni sekolah kemanusiaan dan kebudayaan buya Ahmad Syafii Maarif angkatan kedua (SKK II) yang merupakan pembicara kedua dalam kajian online ini. Acara yang dimoderatori oleh Suryani Muis dari alumni SKK II berlangsung dengan lancar sampai selesainya acara.

Lebih lanjut, Jalaluddin mengungkapkan bahwa menurut Arif tahun 2020, wasathiyah atau wasath merupakan keberkahan karena mampu memberikan keadilan, keseimbangan, jadi kita (diharapkan) menjadi umat muslim yang mampu bersikap adil atau washatiyah itu di jalan tengah mampu memberikan keadilan dan keseimbangan bagi semua, bukan hanya dalam lingkungan muslim namun juga diluar itu.

Sedangkan menurut Ahmad, 2017, wasath, atau wasathiyah di Indonesia diterjemahkan sebagai moderat, atau yang sering kita dengar sebagai "Islam Moderat", tidak ekstrim, atau memilih jalan tengah, mempertimbangkan padangan orang lain. 

Jadi, ada dialog sesungguhnya yang tidak langsung mengklaim, tidak langsung menjudge, tapi menjustisfikasi bahwa kita yang paling benar, kita yang paling hebat, kita yang paling saleh, dan seterusnya tapi ada jalan dialog, atau jalan tengah untuk setiap persoalan (permasalahan).

Contohnya; ketika ada ekstrim kanan yang tekstual dengan adanya pelaku yang melakukan bom bunuh diri di gereja Katedral, Makassar baru-baru ini. Padahal  Islam tidak seperti itu, berjihad dengan cara yang salah. Orang-orang ini tidak tidak mau melihat kondisi aktual di lapangan. 

Sedangkan ekstrim kiri atau liberal seperti salat tarawih yang super cepat seperti di beberapa daerah yang salat tarawih hanya beberapa menit sehingga mereka melihat teks Al Quran itu seperti melampaui dari substansinya.

Setelah membahas Islam Washatiyah, Jalaludin juga membahas gender. Ia pun memutar video yang tidak sampai lima (5) menit itu. Video itu bertajuk menyemeratakan arti peran perempuan dan laki-laki, hal ini bukan kodrati lho! Inti video itu tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam konteks kodrat dan budaya dan bagaimana memosisikan perempuan.

Jalaluddin kemudian menjelaskan banyak apa itu gender, dan penjelasannya, contoh kasusnya berhubungan dengan kasus penelitiannya di suatu desa di Gowa, Sulawesi Selatan dimana di sana banyak sekali fenomena pernikahan dini.

Terakhir dari Jalaluddin, ia mempertanyakan, mungkinkah Islam Wasathiyah dan gender sejalan? Ia pun merujuk pada surah Al Baqarah ayat 143, yang artinya, Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”

Artinya, kita sebagai umat Islam telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk bersikap adil dan itu adalah pilihan sebagai sunatullah kita untuk menghilangkan ketidakadilan di muka bumi seperti ketidakadilan gender. Ia sepandapat dengan Ann Oakley dalam (Rokhima, 2014:136) memandang gender sebagai alat analisis yang baik untuk memahami persoalan diskriminasi terhadap perempuan secara umum.

Diskriminasi di sini dapat diartikan sebagai ketidakadilan. Sehingga, isu gender adalah percakapan tentang bagaimana kaum perempuan seharusnya diposisikan secara adil di tengah masyarakat.

Sehingga kesimpulannya, Islam Wasathiyah nyatanya dapat berjalan dengan baik atau tidak keberatan dengan kehadiran si gender karena sejak awal dua-duanya telah dibekali oleh atribut atau simbol perjuangan yang sama, yakni keadilan atau jalan tengah sebagai bentuk kedekatan dalam praktik simbiosis mutualisme.

Dengan demikian, Islam yang baik adalah mereka yang mampu menghormati dan menghargai perempuan di tengah masyarakat utamanya kaum laki-laki.

Sampai jumpa pada serial kajian tadarus online selanjutnya, selamat berpuasa.