Sejak ditemukannya kasus pertama COVID-19 pada pertengahan Februari lalu, Iran sangat terpukul karenanya. Dilansir dari Kementerian Kesehatan Iran (5/1/2021), kasus COVID-19 telah mencapai 1.249.507 kasus dan merenggut nyawa sebanyak 55.650 jiwa. 

Walaupun, akhir-akhir ini kasus dan kematian itu perlahan mulai berkurang. Namun, bagi mereka, itu bukanlah kabar baik selama vaksin tak mampu mereka buat.

Pasalnya, embargo Amerika Serikat (AS) ke mereka tak juga dilonggarkan. Dan itu, membuat mereka semakin terjerembab dalam kesulitan. Khususnya, soal vaksin, Iran yang belum mampu memproduksi vaksin sendiri, apabila hendak membelinya dari luar negeri, dipaksa oleh AS untuk melakukan pembayaran via Bank Internasional milik AS. 

Sementara, AS sendiri tidak memberikan jaminan keamanan transaksi, yang mana dikhawatirkan oleh Iran akan terjadi penyitaan uang oleh AS, dilansir dari France 24, Sabtu (26/12/2020).

Itulah sebabnya, Negeri Para Mullah ini nyaris tidak bisa menaruh harapan besar akan vaksin dari luar negeri, sehingga mereka mau tidak mau harus memproduksinya sendiri. Sekalipun diapit oleh ancaman krisis ekonomi dan juga ganasnya COVID-19, Iran terus berusaha untuk menemukan vaksin COVID-19. 

Akhirnya, pada Selasa (29/12/2020) lalu, Iran sudah mulai melakukan uji coba tahap pertama vaksinnya yang bernama "Coviran Barekat” ke manusia dengan hasil yang memuaskan. 

Mengenai itu, dalam keterangan persnya, Wakil Menteri Kesehatan Iran, Alireza Raeisi mengatakan, “tidak ada tanda-tanda negatif yang terlihat dari orang-orang yang telah menerima vaksin corona (Iran) dalam 24 jam terakhir,” dikutip dari parstoday.com. Dalam uji ini, disaksikan juga secara langsung oleh beberapa pejabat senior, termasuk Wakil Presiden Sains dan Teknologi, Sorena Sattari dan Menteri Kesehatan, Saeed Namaki.

Lagi-lagi, proyek penelitian vaksin COVID-19 ini Iran kerjakan secara mandiri, baik dari operasional penelitian sampai pendanaan. Memang, untuk pendanaan tidaklah berasal sepenuhnya dari anggaran negara, melainkan sebagian besar dari sektor swasta dalam negeri, lantaran keuangan pemerintah Iran sendiri tidak cukup baik akibat embargo dan pandemi. 

Barulah untuk operasional pengerjaan penelitian dikelola seluruhnya oleh negara melalui tim khusus bernama Eksekusi Perintah Imam Khomeini (EIKO). Sementara, khusus untuk pembuatan berada di bawah tanggung jawab tim riset Komite Pusat Implementasi Instruksi Imam Khomeini yang bekerja di kantor Badan Pelaksana Instruksi Imam Khomeini.

Tak kalah penting, belajar dari kemandirian Iran mengerjakan penelitian vaksin ini adalah antusiasme penduduknya untuk bahu-membahu bersama pemerintah menghadapi pandemi ini. Hal itu tampak jelas tatkala sekitar 20.000 sukarelawan mendaftarkan diri untuk uji coba vaksin, dikutip dari Anadolu Agency

Namun, pada tahap pertama itu hanya dipilih 56 sukarelawan saja untuk disuntikan vaksin, yang tiga diantara itu adalah putri Presiden EIKO, dan dua lainnya anak pejabat tinggi perusahaan swasta yang mendanai.

Tentu, keterlibatan ketiga anak pejabat itu menunjukkan bahwa seluruh elemen masyarakat disana turut serta mensukseskan proyek vaksin, serta secara moral menunjukkan kalau proyek ini dikerjakan secara serius. Bahkan, ke depannya, pemerintah Iran juga telah merencanakan untuk memproduksi vaksin secara massal pada musim semi mendatang, jika vaksin ini lolos seluruh tahapan uji coba.

Berbicara tahapan uji coba vaksin, nantinya vaksin tersebut akan diuji dalam tiga tahap. Sebagaimana tahap pertama sudah dimulai, maka 14 hari setelahnya akan dilakukan uji tahap kedua, dimana mereka akan disuntik vaksin lagi. Kemudian, 28 hari setelah itu, sambil mengamati dan mengevaluasi jalannya proses uji coba ini dilakukan uji coba tahap ketiga. Pada tahap ini, setelah menyuntik vaksin yang terakhir akan diperiksa respon imunitas vaksin.

Di sisi lain, gayung bersambut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut antusias menyambut vaksin buatan Iran ini. Tarik Jasarevic, juru bicara WHO, mengatakan “ kami tidak sabar untuk mengetahui hasil uji klinis dari prestasi besar Iran ini,” dilansir dari IRNA, Kamis (31/12/2020). 

“Keberhasilan ilmuwan Iran memproduksi vaksin Corona adalah bukti yang secara asasi menunjukkan bahwa kita bisa membuat vaksin untuk melawan penyakit COVID-19,” lanjutnya.

Respon WHO ini tentu positif dampaknya untuk Iran khususnya, dan umumnya untuk dunia. Dalam konteks Iran sendiri, banyak pihak yang masih sangsi dengan kemampuan Iran dalam memproduksi vaksin COVID-19 ini. Padahal, reputasi mereka untuk produksi vaksin terbilang tinggi, lantaran dunia medis disana mengalami kemajuan pesat dalam beberapa dekade terakhir. Salah satunya stem cell (sel punca), yang telah berhasil dikembangkan disana.

Sementara untuk dunia, WHO secara terbuka membuka peluang untuk setiap negara dapat berkontribusi dalam menemukan vaksin COVID-19 ini. Dimana selama ini, dalam banyak hal di dunia medis didominasi oleh negara-negara barat. Karenanya, ke depan, melihat perkembangan vaksin COVID-19 buatan Iran ini, dan juga respon WHO, maka kemajuan medis mungkin saja akan pesat perkembangan di banyak negara.

Seperti baru-baru ini, Iran juga tengah menjalin kerja sama dengan Kuba untuk memproduksi vaksin COVID-19 bersama. “Salah satu lembaga tertua dan terkenal bidang vaksinasi di Kuba menjalin kerja sama dengan Institut Pasteur Iran untuk memproduksi vaksin Corona," kata juru bicara badan pengawasan obat dan makanan Iran, Kianoosh Jahanpour, dimuat di parstoday, pada Jum’at (1/1/21) lalu.

Sama halnya dengan vaksin Coviran Barekat, vaksin kerja sama Iran dengan Kuba ini juga telah berhasil melalui uji klinis tahap pertama vaksin corona terhadap manusia di Kuba. Untuk selanjutnya, akan memasuki uji coba tahap kedua dan ketiga dalam beberapa bulan mendatang di Iran.

Jadi, karena embargo AS dan semakin banyaknya korban berjatuhan akibat COVID-19 ini, maka Iran harus segera menemukan vaksin COVID-19 secara mandiri. 

Dan, hal itu tidaklah mustahil dapat dilakukan Iran, setelah vaksin COVID-19, Coviran Barekat, buatan dalam negeri yang berhasil di uji klinis tahap pertama. Juga, vaksin yang mereka kerja samakan dengan Kuba menunjukkan hasil yang serupa.