54648_35567.jpg
Foto: Viva.co.id
Politik · 5 menit baca

Mungkinkah Ini Strategi Politik TGB Mendekati Jokowi?

Nama Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zainul Majdi atau biasa dikenal dengan panggilan Tuan Guru Bajang (TGB) menjadi pusat perhatian dan perbincangan hangat di kalangan masyarakat dalam pekan ini. Pernyataan TGB yang menyatakan Presiden Jokowi adil dan layak untuk diberikan kesempatan melanjutkan periode kedua dalam memimpin Indonesia menjadi perhatian dan mendapat tanggapan beragam.

Dilansir dari detiknews, berikut kutipan pernyataan TGB: "Jadi, keputusan apa pun itu harus mempertimbangkan kemaslahatan bangsa, umat, dan akal sehat. Keseluruhan dari tiga hal ini, menurut saya, pantas dan fair kalau kita beri kesempatan kepada Bapak Presiden Jokowi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang selama empat tahun ini beliau mulai," kata TGB saat berkunjung ke redaksi Transmedia, Rabu (4/7/2018).

TGB menyoroti percepatan pembangunan di NTB, khususnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Dia khawatir pembangunan itu jadi mandek ketika ada pergantian kepemimpinan.

"Saya tidak bisa membayangkan kalau KEK Mandalika yang sekarang sedang berlari ini lalu terjadi pergantian kepemimpinan di tingkat nasional. Bisa saja mandek atau stuck dan itu cost-nya besar sekali. Tidak hanya cost infrastruktur yang sudah terbangun, tapi juga sosial," papar kader Partai Demokrat ini.

Atas dasar itu, TGB menilai pemerintahan Jokowi perlu dilanjutkan hingga periode kedua di Pemilu 2019. Berdasarkan pengalamannya di NTB, gubernur yang sedang menjalani periode kedua kepemimpinannya ini juga menilai 2 periode dibutuhkan.

"Dua periode secara common sense dan empirik yang saya alami, waktu yang lumayan fair bagi seorang pemimpin," ucap TGB. "Beliau layak dan pantas diberi kesempatan dua periode," tegasnya.

Pernyataan TGB tersebut menjadi ramai diperbincangkan karena TGB dikenal dengan tokoh ulama dan umara. Beliau mempunyai pemahaman dan pengetahuan ilmu agama yang sangat baik dan berhasil dalam karier politik. Beliau merupakan seorang Doktor Hafiz Alquran yang mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

Di samping seorang ulama, beliau juga mempunyai karier yang cemerlang di bidang perpolitikan. Beliau pernah menjabat sebagai anggota DPR-RI pada tahun 2004-2009. Kemudian beliau adalah Gubernur NTB dua periode hingga 2018 tahun ini.

Pada periode kepemimpinan Gubernur di NTB, TGB berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi di NTB melalui sektor pariwisata (wisata religi), perbankan syariah (Bank Daerah pertama menggunakan sistem syariah), dan pertanian (lumbung jagung nasional). Terakhir, yang perlu diketahui tentang TGB adalah beliau merupakan cucu dari pahlawan nasional dari NTB, yaitu Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) M. Zainuddin Abdul Madjid (tribunews dan sumber lainya).

Dalam agenda keumatan dan politik nasional, TGB digadang-gadang menjadi salah satu kandidat terkuat dalam bursa cawapres pada pemilu 2019. Nama beliau sangat ideal dipasangkan dengan dua kandidat Capres, yaitu Jokowi dan Prabowo.

TGB juga tergabung dan aktif dalam Persaudaraan Alumni 212 yang notabene-nya kerap berbeda pandangan serta menginginkan dan “memelopori” agenda pergantian pemeritanhan di Pemilu 2019.

Namun, pasca pernyataan yang dikeluarkan TGB di kantor Transmedia beberapa waktu yang lalu yang seolah memberi restu kepada Presiden Jokowi untuk melanjutkan kepemimpinanya di periode berikutnya (2019-2024), diberitakan oleh media dan diartikan oleh masyarakat sebagai dukungan TGB kepada Jokowi pada Pemilu 2019.

Pasca pernyataan tersebut, banyak masyarakat mempertanyakan maksud dari pernyataan yang disampaikan oleh TGB tersebut, terutama bagi masyarakat yang selama ini menginginkan pergantian kepemimpinan di Pemilu 2019 yang mana TGB juga termasuk di dalamnya.

Di sisi lain, ada juga kalangan yang menyambut baik pernytaan TGB yang berasal dari “kubu” pemerintah saat ini. Pernyataan TGB diartikan bahwa kepemimpinan pemerintahan saat ini sangat baik dan layak dipertahankan di pemilu 2019.

Di samping itu, ada juga satu pihak yang masih percaya dengan kredibilitas dan kapabilitas TGB. Mereka melihat rekam jejak TGB yang menyandang status ulama yang Hafiz Alquran serta mempunyai karier politik cemerlang. Jelas TGB mempunyai strategi politik yang jitu dalam menjaga amanah umat. Beliau melakukan itu semua untuk kepentingan umat.

Barangkali asumsi di atas benar, mengingat TGB selama ini ia berada pada posisi yang berbeda dengan pemerintah. Pada tahap ini, kita sudah bisa menyimpulkan, yang dilakukan oleh TGB adalah langkah politik. Lalu apa motif politik di baliknya? Itulah yang menarik kita lihat dengan menggunakan teori strategi politik.

Analisis awal, jika TGB benar bergabung dengan “kubu” pemerintah Jokowi saat ini karena alasan memang ingin bergabung dan menyukseskan pemerintahan Jokowi periode kedua yang akan datang, maka kita tidak perlu mengalisis lebih jauh tentang pernyataan TGB tersebut. Kita bisa simpulkan, ia telah memutar arah politiknya selama ini.

Namun, jika TGB mempunyai maksud lain bergabung dengan kubu Jokowi agar ia masuk dalam sistem pemerintahan dan mengendalikan sistem dari dalam sesuai agenda politik keumatan yang beliau perjuangkan selama ini, bisa jadi TGB memang sedang merencanakan ingin mengendalikan sistem dari dalam. Maka dari itu, kita bisa memberikan suatu analisis lebih lanjut.

Dalam ilmu politik, ada namanya strategi dan taktik politik. Bagaikan sebuah peperangan, kita membutuhkan taktik dan strategi agar tujuan menjadi terarah dan terukur.

Sun Tzu adalah tokoh taktik dalam peperangan Cina. Dalam bukunya, menulis tentang taktik dan strategi, kita harus bisa mengusai tiga hal, yaitu kenali diri sendiri, lawan, dan wilayah.

Setelah tiga hal tersebut telah kita laksanakan, langkah selanjutnya adalah mengemas sebuah situasi agar kelemahan kita ditutupi dengan mendongkrak sisi kelebihan kita. Sebaliknya, juga menguatkan sisi lemah lawan dengan menutup sisi baiknya. Terakhir, kita harus mengemas situasi/wilayah pertempuran yang menguntungkan secara politik.

Berangkat dari teori di atas, diibaratkan dalam sebuah peperangan, TGB bisa jadi sedang menyusun strategi poilitiknya. Mungkin beliau telah memikirkan dengan sangat matang jika mengubah suatu sistem dari luar itu sangat sulit bahkan akan menimbulkan korban. Kita sangat tahu bahwa pemerintahan saat ini sangat super power. Siapa pun yang berseberangan dengan pemerintah akan “dikondisikan” berhadapan dengan hukum.

Maka dari itu, TGB sadar dan sangat piawai tentang hal di atas. Beliau sadar dengan “rezim” saat ini yang sangat sulit berseberangan pendapat dan kebijakan dengan pemerintah. TGB sadar untuk menerapkan kebaikan yang beliau pahami dengan keilmuan yang beliau miliki. Bahwa sangat tidak mungkin untuk diterapkan jika terus-terusan berhadapan dengan penguasa.

TGB membaca situasi saat ini. Ada banyak teman seperjuangannya yang harus berhadapan dengan hukum karena berseberangan dengan pemerintah. Di sisi lain, kondisi bangsa saat ini dalam ambang terjadinya krisis yang bisa berdampak pada disintegrasi bangsa. Melihat fenomena tersebut, TGB yang dikenal sebagai ulama yang umara mengambil jalan lain, menyimpang dari garis perjuangan sebagaimana ia perjuangkan selama ini bersama PA 212.

Jika kita memperhatikan pernyataan TGB yang mempertimbangkan kemaslahatan bangsa, umat, dan akal sehat dalam mengambil keputusan, maka bisa jadi strategi politik yang dimaksud di atas benar-benar sedang dilakukan TGB.