Negeri kita Indonesia telah berumur 73 tahun. Bukan tergolong umur yang muda, tetapi seharusnya menjadikan negeri ini tumbuh dewasa dengan belajar dari masalah yang telah terjadi di masa lalu. 

Keadaan aman dan damai tentu menjadi suatu situasi yang harus terwujud setelah semua penjajahan yang telah dialami negeri ini. Walaupun tidak mungkin juga suatu bangsa berdiri dan hidup tanpa ada masalah apa pun. 

Berapa pun umur dan sestabil apa pun keadaan suatu negara, pasti tetap ada masalah yang dihadapi, baik di dalam negeri maupun dengan negara lain.

Negara Indonesia baru saja melaksanakan pesta demokrasi yang diadakan 5 tahun sekali. Tapi kenapa justru pesta tersebut banyak membawa dampak yang membuat bangsa ini seakan-akan terkena guncangan seperti tahun 98?

Terselenggaranya Pemilu kemarin membawa peristiwa yang berujung pada kerusuhan di Jakarta tanggal 21 - 22 Mei. Ya, peristiwa yang membawa ingatan kita pada unjuk rasa penurunan Presiden Soeharto tahun 1998.

Terlepas dari kerusuhan kemarin, ada satu kejadian lagi yang terjadi pasca-pemilu. Dan hal ini mengingatkan saya kembali pada peristiwa yang terjadi pada tahun 1998, yaitu lepasnya Timor Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Walaupun saya tidak mengalami sendiri bagaimana kronologi Timor Timur lepas dari NKRI, tetapi setidaknya saya sudah mendapatkan ilmu sejak saya masih duduk di bangku sekolah. Seakan-akan hal yang sama akan terulang lagi seperti Timor Timur. 

Kemarin, lebih tepatnya Rabu, 29 Mei 2019, saya membaca artikel yang terbit di Qureta berjudul Referendum untuk AcehTulisan saya ini mengacu pada artikel tersebut. 

Tidak bisa dimungkiri juga bahwa sebelumnya di Aceh telah ada gerakan untuk lepas dari NKRI, yaitu Gerakan Aceh Merdeka (GAM), walaupun bisa diatasi dan akhirnya di bubarkan.

Dalam tulisan tersebut, berisi tentang kemungkinan rakyat Aceh ingin referendum sama seperti Timor Timur dulu. Dijelaskan oleh tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Muzakir Manaf yang tiba-tiba melontarkan kalimat menarik. Ia sepakat Aceh melakukan referendum dengan opsi tetap dalam NKRI atau keluar dari negara Indonesia.

Benar-tidaknya, mungkin ini efek dari penyelenggaraan pemilu kemarin. Karena tidak bisa dimungkiri juga pernyataan ini keluar pasca pesta demokrasi telah selesai dilakukan.

Berbagai kejadian pasca pemilu dianggap bahwa negara sedang dalam kondisi yang tidak baik. Seruan people power yang ternyata malah terjadi aksi bentrok sampai menimbulkan korban jiwa. Belum lagi ada berbagai tuduhan kecurangan dari kedua belah pasangan atas terselenggaranya pemilu.

Dan kemungkinan juga rakyat Aceh merasa geram karena di masa pemerintahan ini banyak kaum muslim yang merasa disudutkan. Banyak kejadian yang terjadi, dari mulai aksi 212, pembakaran bendera HTI, dan banyak tuduhan pendiskriminasian para ulama.

Aceh yang mendapat julukan Kota Serambi Mekkah sudah pasti akan bersimpati terhadap apa yang terjadi pada agama. Rakyat Aceh yang kental akan keislamannya bisa jadi mereka sakit hati kepada pemerintah dan memilih untuk melepaskan diri dari NKRI.

Di satu sisi, pemerintah juga merasa tersudutkan dengan segala apa yang dituduhkan rakyat bahwa pemerintah sekarang adalah rezim anti-Islam, diskriminasi ulama, dan lain-lain. Sehingga kepercayaan rakyat muslim terhadap pemerintah mulai luntur. Hal itu bisa saja mungkin terjadi karena mengingat rakyat Indonesia mayoritas beragama Islam, khususnya di Aceh.

Mungkin hal-hal seperti tadi yang membuat kebanyakan rakyat Aceh sudah tidak percaya lagi terhadap pemerintah sekarang. Ketidakpercayaan rakyat Aceh bisa kita lihat lagi dari kalahnya suara petahana di ajang Pilpres 2019. Rakyat Aceh lebih memilih oposisi yang dinilai bisa membawa negara lebih baik dan membawa perubahan.

Tetapi, semua itu hanya praduga yang belum tentu kebenarannya. Yang jelas, ini menjadi tugas kita bangsa Indonesia, khususnya pemerintah sekarang, untuk mengatasi jangan sampai Aceh mengikuti jejak Timor Timur.

Jangan sampai wilayah NKRI kembali hilang. Jangan sampai ada lagi akar yang tercerabut dari tanahnya. Aceh merupakan saudara tua dari wilayah-wilayah lain yang menjadi pendiri dari bangsa Indonesia.

Perasaan senasib sebagai wilayah yang pernah dijajah menjadikan spirit untuk menyatukan Nusantara di bawah bendera Merah Putih dan bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika. Yang artinya, negara ini berdiri dari berbagai agama, suku, bahasa, dan budaya.

Jadi tidak sepatutnya seorang ibu meninggalkan anaknya di tanah air tempat mereka menderita dan berjuang bersama hanya demi keegoisan sendiri. Pemerintah harus mempererat hubungan kembali dengan rakyat Aceh. Meyakinkan kembali bahwa Indonesia sekarang dalam kondisi baik-baik saja. Perundingan dari hati ke hati harus dilakukan agar praduga yang menjadi dugaan tidak terjadi.

Lewat berbagai perwakilan rakyat dari Aceh yang berada di pusat pemerintahan, diharapkan untuk terus menggaungkan bahwa Indonesia dalam keadaan baik-baik saja. Peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini merupakan suatu proses sunatullah kehidupan untuk menjadikan bangsa ini lebih dewasa lagi.

Apalagi Indonesia telah berumur 73 tahun, tentu tantangan yang akan dihadapi akan lebih besar untuk mencapai umur 1 abad. Bukan hal yang mudah untuk melewati itu semua, apalagi bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan berbagai perbedaan latar belakang di dalamnya. 

Jika integrasi tidak dibangun, maka gesekan akan terjadi, yang berpengaruh terhadap kedamaian ini.

Mengingatkan kembali kepada rakyat Aceh mengenai berbagai tuduhan anti-Islam yang diarahkan kepada pemerintah. Bahwa sebetulnya hal itu tidak benar. Keadilan harus tetap ditegakkan tanpa memandang siapa pun. Entah itu dia agama Islam atau non-Islam, jika bersalah, maka harus tetap dihukum.

Dan juga terus mengingatkan mengenai keputusan para pendahulu kita yang menjadikan negara ini bukan Darul Islam, yang artinya Negara Islam, tetapi sebagai Darus Salam, yang artinya negara yang penuh kedamaian. (KH Said Aqil Siradj, Ketum PBNU

Hal itu merupakan keputusan yang tepat karena negara Indonesia memang tidak hanya agama Islam yang hidup di dalamnya, melainkan ada agama lain juga, seperti Kristen, Hindu, Buddha, Katolik, Konghucu, dan kepercayaan-kepercayaan lainnya. Indonesia merupakan sebuah negara yang menjadi wadah bagi semua orang dengan berbagai latar belakang untuk menciptakan sebuah perdamaian.

Bagaimanapun juga, Aceh merupakan wilayah pendiri Nusantara sejak zaman penjajahan dulu. Banyak pahlawan dari Aceh yang gugur demi mencapai kemerdekaan dan bergabung dengan Indonesia, salah satunya adalah Cut Nyak Dien. Perasaan inilah yang membuat Aceh merupakan bagian terpenting dari NKRI.

Tidak seharusnya Aceh mengikuti langkah Timor Timur. Negara ini harus berbenah lagi agar tidak ada yang merasa didiskriminasi di negeri sendiri. Semua komponen bangsa, khususnya pemerintah sebagai perangkat yang menjalankan pemerintahan negara ini, harus memastikan agar tidak ada wilayah yang keluar dari tanah ibu pertiwi dan agar menjadi negara yang baldatun toyyibatun warrabbun ghoffur.