Wabah Covid-19 atau Virus Corona masih terus menghantui sejumlah negara di dunia, termasuk Indonesia. Jika sebelumnya Indonesia menjadi salah satu negara yang selamat dari cengkeraman wabah ini, namun kini sudah menjadi salah satu negara yang terinfeksi dengan jumlah kasus yang cukup tinggi. 

Bahkan, berdasarkan laporan Deep Knowledge Group (5/6/20), konsorsium perusahaan dan lembaga nirlaba milik Deep Knowledge Venture, firma investasi dari Hong Kong, Indonesia menempati peringkat ke 97 dari 100 negara di dunia yang teraman dari Covid-19.

Tak ada yang bisa memprediksi bagaimana dan kapan pastinya wabah ini akan pergi, termasuk otoritas pemerintahan, keagamaan, bahkan WHO sendiri. Besar harapan kita untuk segera mengakhirinya, hingga kondisi bumi pertiwi kembali normal lagi. 

Lantunan doa-doa yang bertajuk ‘istighasah qubro’ menyeruak hingga ke pelosok negeri. Tapi, yang Maha Esa, rupanya masih ingin menguji sejauh mana ketabahan manusia dalam menemukan jati diri ditengah pandemi.

Keganasan Covid-19 tak bisa dibendung. Sejumlah negara-negara besar dunia telah mengerahkan segala kemampuan tenaga dan berpikirnya untuk mengevakuasi diri, namun belum sepenuhnya berhasil. Akibatnya, sektor pendidikan kacau, ekonomi ambruk, dan sektor-sektor strategis lainnya harus mengurungkan rencananya untuk sementara waktu. 

Namun di atas persoalan-persoalan itu, ada persoalan kemanusiaan yang juga ikut terancam ganasnya virus ini. Di Indonesia, ribuan nyawa melayang. Ratusan bahkan ribuan orang sakit karena kelaparan. Anak-anak seusia pelajar harus menutup bukunya rapat-rapat, karena ternyata handphone merek jadul milik orang tua mereka tak lagi mendukung kebijakan PBM di era webinar ini.

Yang lebih menyayat perasaan, ketika sejumlah nama orang tua mereka harus terpampang di dinding media sosial, karena (terpaksa) mengambil handphone milik orang lain agar anaknya tetap bisa belajar.

Entah, apakah semua peristiwa memilukan itu tiba-tiba hadir begitu saja, tanpa diduga-duga, seperti kehadiran virus corona di Cina awal Desember 2019 silam. Atau, karena memang kita yang terlanjur abai terhadap mereka yang membutuhkan uluran tangan?

Semuanya menjadi kabur. Tidak jelas. Seperti nasib petani, buruh, dan nelayan, yang tanah dan sumber penghidupan mereka dirampas dan digusur atas nama kemapanan ekonomi global. Walhasil, mereka hidup dalam ketidakpastian yang, mohon maaf, hanya agar anaknya tetap bisa sekolah-sebagai salah satu tuntutan profetik-mereka harus mengorbankan harga diri dan melepaskan moral. Berat negeri ini!

Kenyataan pahit itu akhirnya memaksa saya untuk belajar teori-teori kriminologi. Mulai dari Edwin H. Sutherland (JE Sahetapy, 1992), Paul Moedigdo Moeliono (Soedjono D, 1976), hingga P. Topinard (1830-1911), antropolog Prancis yang sekaligus pencetus pertama kata ‘kriminologi’, saya baca dan pelajari pelan-pelan. 

Hampir semua teori yang saya temukan memiliki hipotesis yang kurang lebih sama. Selain karena faktor kesenjangan sosial, naiknya angka pengangguran, pergolakan ideologi-politik, kepadatan penduduk, ketidakadilan hukum, asimilasi budaya, dlsb, ternyata faktor kemiskinan sebagai biang keroknya.

Kemiskinan adalah salah satu faktor dominan yang menyebabkan mental dan etika masyarakat menjadi rusak. Makin tinggi angka kemiskinan, maka akan makin tinggi pula tingkat kejahatan. Begitu kira-kira dawuh Mbah Hasyim Asy’ari, sang pahlawannya pahlawan nasional itu. 

Jadi, kenyataan bahwa kriminalitas kerap terjadi dan angkanya mengalami peningkatan selama masa pandemi (CNN Indonesia, 6/5/20) hanya bisa dijelaskan dengan melihat data kemiskinan serta mengapa mereka menjadi miskin.

Kembali lagi ke laptop!

Benar apa yang diajarkan oleh para guru dan ulama-ulama kita tentang hakikat pandemi Covid-19; keberadaannya tak lebih dan tak kurang sebagai sebuah ujian dari Tuhan.

Para pemuka agama diuji integritas kesalehannya agar ikhlas mendoakan serta memberi petuah-petuah menyejukkan, bukan menyudutkan. Para ilmuwan diuji intelektualitasnya untuk terus mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan dan kepentingan rakyat, daripada sibuk mencetuskan teori-teori baru untuk membenarkan sikap birokrat. 

Orang-orang besar diuji harta kekayaannya seberapa jauh ia tersalurkan ke kantong-kantong kecil yang membutuhkan. Dan, semua manusia sedang diuji jati diri kemanusiaannya agar tetap menjadi manusia biasa yang memanusiakan manusia.

Jika melihat lonjakan angka kematian akibat infeksi Covid-19, mungkin kita akan segera berpikir bahwa ia memang mematikan. Apalagi, misalnya, sudah didukung oleh supremasi medis yang memberi penegasan tentang bahaya dan cara kerjanya. Ya, virus ini memang dapat menyebabkan masalah serius dan bahkan mematikan.

Kondisi itu terjadi ketika virus ini mulai bergerak ke saluran pernapasan dan menginfeksi paru-paru, ke dalam sel dengan reseptor Ace-2. Akibatnya, banyak sel-sel yang kemudian dihancurkan, dan paru-paru seketika padat dengan serpihan-serpihan sel yang rusak. Dalam kondisi begini, pasien harus segera ditangani secara intensif karena berpotensi kematian (The Guardian, 6/5/20).

Bagi ukuran manusia normal, kematian memang mengerikan. Menyakitkan. Menakutkan. Andai saja di antara kemampuan yang dimiliki manusia adalah menghindar dari kematian, mungkin bumi ini hanya menjadi obyek penggusuran, dikeruk dalam-dalam lalu dinikmati isinya, dieksploitasi sedemikian gencar, tak ada jasad-jasad yang terkubur di sana, dan Malaikat Izrail hanya akan meratapi nasib karena tak punya pekerjaan.

Tapi, sekali lagi, itu (terutama frasa terakhir) hanya pengandaian yang sampai cucu Jan Ethes menjadi Presiden RI sekalipun, tidak mungkin pernah terjadi.

Di fase new normal ini, ada baiknya kita belajar pada virus corona. Atau, cobalah sekali-kali membandingkan diri dengan virus corona, minimal dengan dampak yang ditimbulkannya; daya mematikannya itu. Lakukan pelan-pelan. Diam-diam. Letakkan egoisme kepongan sepuluh sampai dua puluh menit saja, agar benar-benar bisa melihat siapa diri kita sesungguhnya. 

Puncaknya, ketika kita sudah bisa bertanya; seberapa mematikannya ‘aku’ selama sekian puluh tahun menjadi penduduk bumi? Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan keterbukaan hati dan fikiran untuk menoleh pada masa lalu dan memandang jauh ke masa depan.

Dalam Masnavi, Jalaluddin Rumi berkata; ‘hatimu adalah rimba raya. Kadang serigala berkuasa, kadang babi liar. Maka, berhati-hatilah bernapas’.

Hati kita riuh rendah. Fluktuatif. Kadang lemah-lembut, kadang kasar, kadang baik seperti Musa As dan Harun As lalu jahat seperti Fir’aun. Kadang memuji tetapi kadang mengumpat, tergantung siapa yang berkuasa. Sekarang, siapa yang sedang berkuasa?

Taruhlah yang sedang berkuasa adalah serigala, atau babi liar. Terserah. Sebab, keduanya sama saja. Sama-sama memiliki daya represif-destruktif, terutama kepada yang dianggapnya lebih kecil, lemah, dan rendah kedudukannya. Persis seperti sikap sekelompok orang berseragam yang tipa hari muncul di tipi-tipi.

Di tengah kebisingan pasar, perang ideologi-politik, maraknya klaim spritualitas, dan gegap gempita Covid-19, ternyata kita sering membuang sampah di sepanjang jalan, tepi laut atau sungai, dan karena dirundung kepongahan, kita menganggapnya sebagai kewajaran. 

Padahal, secara tak sadar, dalam waktu yang bersamaan kita sedang mengganggu keseimbangan ekosistem yang sangat mungkin berujung pada kematian spesies lain.

Dan ternyata kita sering menggunduli hutan dan lahan-lahan tempat para petani bercocok tanam, kita ngotot meyakininya atas nama pembangunan. Alih-alih kemaslahatan. Padahal dalam waktu yang bersamaan, itulah awal terjadinya kerusakan dan kehancuran semesta alam sekaligus matinya rasa keadilan dan kemanusiaan. Jika insinuasi itu benar, maka jangan-jangan virus corona memang adalah kita. Mematikan!

Itulah mengapa Presiden RI mengimbau agar rakyat Indonesia seyogianya berdamai dengan virus corona (7/5/20). Mungkin, sekali lagi mungkin, adalah karena kita memang bagian tak terpisahkan darinya.