Manusia merupakan organisme terbaik yang masih bertahan hidup dan berkembang biak di muka bumi. Manusia, seperti yang kita tahu, memiliki struktur otak yang lebih baik dari mamalia lain dan 7 jutaan spesies hewan pada umumnya.

Meski demikian menurut salah seorang pemikir utilitarian kontemporer, Peter Singer, dalam bukunya "The Expanding Circle: Ethics and Sociobiology" (1981), dalam banyak hal manusia tak ada bedanya dengan hewan.

Seperti manusia, beberapa spesies hewan juga bisa bersikap altruis. Bedanya manusia memiliki tingkat intelegensi yang lebih baik dan punya kapasitas untuk mengembangkan altruismenya bukan hanya pada orang-orang terdekat (keluarga dan kelompoknya), juga pada orang lain, bahkan pada orang yang belum pernah kita jumpai.

Dalam pembukaan bukunya, Singer mengutip sebuah kalimat milik Mary Midgles, "We are not just rather like animals; we are animals." Ya, kita manusia ini memang hewan.

Penggambaran bahwa manusia adalah hewan, dengan apik 'disentil' dalam film animasi "Zootopia" (2016). Film yang beberapa jam lalu baru saja meraih Penghargaan Film Animasi Terbaik pada ajang Golden Globes 2017 ini, menyajikan antropomorfisasi hewan-hewan dalam setting kota Zootopia.

Semua hewan dalam film produksi Disney ini telah berevolusi menjadi organisme cerdas layaknya manusia. Dan dalam kota modern Zootopia, siapapun bisa menjadi apapun. Sebagaimana dunia ini, bagi manusia, siapapun bisa jadi apapun yg dikehendaki jika mau berkerja keras.

Judy Hopps, seekor kelinci menanam keyakinan itu sedari kecil. Meskipun ia seekor kelinci yang disemati sterotip menggemaskan, bodoh dan hidup di pertanian; ia berhasil mewujudkan mimpinya menjadi polisi pertama dari spesies kelinci di Zootopia Police Departement (ZPD).

Altruisme, Rasisme dan Spesiesme

Zootopia pada kenyataannya, berdasarkan pengalaman Judy beberapa hari menjalani perannya sebagai polisi dan ketika menyelidiki hilangnya Mr. Otteron (spesies berang-berang), bukanlah kota yang masyarakatanya sudah selesai dengan melakukan pelabelan-pelabelan negatif atau stereotyping berbasiskan spesies, atau spesiesme.

Pelabelan seperti kelinci dan kerbau yang bodoh, rubah yang licik, spesies predator yang jahat, dan spesies mangsa yang lemah. Spesiesme merupakan istilah yang Penulis temui dalam buku Peter Singer, "Animal Liberation" (1975) dan "Expanding Circle".

Spesiesme dapat dipahami sebagai pemikiran, sikap dan tindakan yang berdasarkan pada keyakinan bahwa spesies manusia merupakan spesies yang paling unggul dan cerdas sehingga berhak melakukan tindakan negatif dan sewenang-wenang terhadap spesies lain (baca: hewan) dan ekosistemnya.

Sebagaimana spesiesme, sikap rasisme juga didasarkan pada sikap penyeroreotipan secara negatif, dalam hal ini pada ras, suku dan agama. Dan Sebagaimana Zootopia, dunia dan secara khusus Indonesia, yang kita tinggali, belum selesai dari masalah rasisme, apalagi spesiesme.

Zootopia tidak memiliki peraturan diskriminatif terhadap spesies tertentu, tapi warga Zootopia memilik sikap lebih mementingkan kelompoknya dan cenderung menyingkirkan kelompok lain, serta spesies-spesies mangsa memendam naluri purba yakni kecurigaan tehadap spesies predator (harimau, singa, beruang, serigala, rubah, dsb.) yang memiliki sterotip jahat dan menindas mangsa. Sikap melakukan stereotipisasi masih menjadi basis bermasyarakat.

Naluri purba hewaniyah, tidak hanya melekat pada warga kota rekaan Zootopia, tapi juga pada dunia nyata kita ini, secara khusus Indonesia. Beberapa dari kita masih bersikap rasis.

Berdasarkan ilmu Sosiobiolgi, di luar manusia yang merupakan hewan cerdas, beberapa spesies hewan pra cerdas yang masih hidup hingga sekarang, menurut Singer, karena keterbatasan kecerdasan otak, mereka lebih mementingkan diri sendiri dalam hidup di ekosistemnya. Adapun beberapa spesies lain mampu bersikap altruis pada kerebatnya dan gerombolannya (kin altruism).

Manusia adalah spesies cerdas. Berbeda dengan hewan-hewan pra cerdas, manusia selain dapat bersikap egois, juga mampu mengembangkan altruismenya tidak hanya terbatas pada keluarga dan kerabatnya.

Manusia berdasarkan kapasitas otaknya, mampu bersikap altruis terhadap orang lain di luar keluarganya, kelompok kepentingan, agama, suku, negara dan bahkan pada manusia-manusia yang belum lahir (anak-anak cucu di masa depan), serta manusia dapat bersikap altruis pada hewan-hewan pra cerdas.

Tindakan rasisme dan spesiesme bagi Penulis adalah sikap yang bersumber dari naluri hewaniyah pra cerdas, yang tidak mampu diatasi oleh kapasitas otak kita yang sebenarnya mampu dan bisa lebih baik dari simpanse, kerbau, kelinci, tikus dan ubur-ubur dalam mengembangkan altruisme yang tidak terbatas pada keluarga, kelompok sekepentingan, sesuku, senegara dan seagama dan sesepesies.

Pada suatu scene dalam film "Zootopia", seekor tikus, kapala mafia yang memiliki ekspresi dan mimik wajah mirip Don Corleone 'Godfather', Mr. Big mengatakan, "Mungkin kita telah berevolusi, tapi dalam dasar lubuk hati, kita masih hewan."