Para pemikir modern mulai menatap lembaran masa depan dengan penuh gairah dan optimisme. Sembari mengumandangkan bahwa masa depan akan kian modern, manusia akan meninggalkan hal-hal yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya lewat penyelidikan secara ilmiah. Singkatnya dunia modern tak memberi ruang terhadap sesuatu yang adikodrati (Tuhan).

Gema yang dikumandangkan oleh para pemikir modern yang bersifat ateistik dan agnostik seperti Auguste Comte, Emil Durkheim, Karl Marx, dan Nieztsche. Tuhan seolah terusir dari panggung sejarah manusia modern, seakan kebalikan dari teks-teks suci dulu manusia terusir dari Taman Surga.

Manusia modern bergerak maju meninggalkan Tuhan dalam kesunyian, sebaliknya manusia sibuk dengan kebisingan suara mesin pabrik dan kendaraan yang super sibuk. Geliat aktivitas manusia begitu padat dari pagi hingga petang, dalam jadwal manusia modern yang serba teratur tiada tersisa untuk Tuhan.

Tapi, dalam kebisingan dan ketiadaan waktu untuk Tuhan yang dilakoni manusia modern, menimbulkan kegersangan yang tak terperihkan. Kesibukan aktivitas menimbulkan kepenatan dan kekurangan waktu untuk merefleksikan segala sesuatu. Akibatnya manusia modern seakan kehilangan pegangan.

Optimisme para pemikir modern seolah gema yang dikumandangkan hanya mencapai frekuensi materi. Tapi, redup frekuensinya pada nilai-nilai etik dan moral. Keresahan manusia modern seolah makin diperparah dengan fakta bahwa capaian teknologi modern digunakan sebagai alat memerangi sesama manusia seperti Perang Dunia I dan Perang Dunia II serta berbagai masalah lainnya.

Optimisme yang dikumandangkan oleh pemikir modern seolah buyar, diusik oleh sebuah ingatan lama bak gemerincing lonceng yang membangunkan kesadaran manusia. Hadirnya perasaan akan sesuatu yang adikodrati (Tuhan) yang telah diusir dan diasingkan oleh manusia, mulai tumbuh menembus besi mesin-mesin modern.

Kemunculan kesalehan baru di negara-negara modern yang berbasis industri dapat dilihat dengan keterlibatan dan keikutsertaan pada gerakan-gerakan keagamaan termasuk adanya yang ikut bergabung dengan gerakan jihad seperti ISIS. Bagaimana kesalehan baru ini bisa menjangkiti negara-negara berbasis industri?

Kesalehan baru yang menjangkiti negara-negara industri dapat disimak dengan meminjam paparan dari pemikir psikoanalisis Sigmund Freud terkait teori oedipus complex yang dialami oleh manusia modern. Timbulnya rasa bersalah yang dialami oleh manusia modern menyebabkan mereka mencari sesuatu yang dapat menenangkan hatinya.

Kesibukan manusia yang menyebabkan melupakan hal-hal yang bersifat adikodratik (Tuhan) menimbulkan rasa resah dan bersalah. Untuk mencari penebusan rasa bersalah manusia berusaha mencari penenang terhadap perasaannya. Ada yang menemukan penenang jiwanya yang tersalurkan kepada yang positif dan ada yang tersalurkan kepada yang negatif.

Kehadiran kesalehan baru di negara-negara industri yang mengusung semangat menolak institusi agama, tetapi menerima semangat spiritual. Kemunculan semangat yang tersebut tidak terlepas dari pengalaman beragama yang pernah terjadi di negara-negara Eropa. Institusi agama pernah menghegemoni kehidupan sosial dan budaya.

Pengalaman yang memperhadapkan antara agama dan ilmu pengetahuan di masa lalu, yang menjadi faktor penyebab lahirnya sekularisme. Terjadinya pemisahan antara wilayah publik dengan wilayah privat, membuat agama hanya diekspresikan secara privat dan tidak boleh agama memengaruhi wilayah publik.

Akibatnya agama tidak menjadi perbincangan di ruang-ruang publik, sebaliknya ilmu pengetahuan menghegemoni pembicaraan publik. Penemuan ilmu pengetahuan akan dengan sangat cepat menyebar dan diterima oleh masyarakat sebagaimana penemuan baru.

Tetapi, lewat penemuan-penemuan tersebut memberikan jalan untuk menguatkan perbincangan soal agama. Penemuan komputer dan gawai yang dari ke hari mengalami trasformasi kemajuan membuat akses saling terhubung akhirnya terjadi. Seakan penemuan tersebut menjadi jalan untuk membuka akses terhubungannya kembali antara wilayah publik dan privat.

Lewat media sosial yang menyediakan sarana untuk saling terhubung menjadi pemicu terjadinya pembicaraan terkait agama. Kalau dulu ilmuan sosial, antropolog dan sejarawan untuk meneliti kehidupan orang-orang beragama mesti mendatangi langsung seperti negara-negara Asia. Untuk mendapatkan informasi awal terkait keberadaan kaum beragama.

Media sosial berupa Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp dan YuoTube menyediakan jalan untuk saling terhubung kembali sembari membuka perbincangan soal agama. Update status baik berupa kata-kata atau foto maupun perpaduan antara kata-kata dan foto menyangkut peribadatan dan kehidupan keberagamaan menjadi daya pikat tersendiri.

Ada fakta yang menunjukkan kehadiran orang-orang Eropa atau Barat di daerah konflik yang dikuasai ISIS. Menurut pengakuan Mehdi Hasan yang ditulis oleh Michael Weiss dan Hassan Hassan, pria berusia dua puluh tahun asal Portsmouth, ketertarikan terhadap ISIS muncul dari citra gagah dan berani serta menyediakan petualangan yang menarik di daerah konflik yang didapatkan setelah melihat aksinya di YouTube.

Tampaknya pengaruh media sosial menjadi jalan bagi terkoneksinya orang-orang yang ingin merasakan kehidupan beragama. Walau tampak mengerikan dan brutal, namun pilihan untuk kembali merasakan pengalaman beragama menjadi pemicu ketertarikan tersebut. Kenyataan yang demikian mungkin tak dapat ditolak keberadaannya.

Pencarian pengalaman merasakan akan kehadiran adikodratik di negara-negara Eropa atau Barat dapat juga dijumpai dengan banyaknya yang tertarik mempelajari kehidupan spiritual orang-orang beragama. Sehingga ketertarikan kepada Yoga, ajaran sufi dan tarian bernuansa spiritual serta syair-syair bernuansa spiritual banyak digandrungi sebagai jalan menghayati Tuhan.

Tidak mengherankan apabila muncul tokoh-tokoh Barat yang mendalami dunia spiritual Timur seperti Annmarie Schlemiel, Karen Armstrong, Sachiko Murata, Rene Guenon, Frithjof Schoun, Louis Massigon, Robert Frager, Roger Graudy dan tokoh-tokoh lain yang menaruh minat terhadap kehidupan spiritual.

Kehadiran tokoh-tokoh intelektual yang mempromosikan kehidupan spiritual yang toleran dan inkslusif. Seakan menggairahkan dan menggembirakan tak heran bila lembaga The Carnegie Endowment for International Peace pada tahun 2007 mengungkapkan terjadinya peningkatan penganut agama di Barat termasuk agama-agama dari Timur.

Mungkin sudah saatnya agama dan kemajuan saling duduk bersama saling berdialog, membuka ruang-ruang peran yang mesti dimainkan para tokoh agama dan ilmuan guna berbagi peran mengatasi persoalan-persoalan dunia modern. Sudah saatnya untuk tidak saling menegasi, melainkan saling mengafirmasi.