Dalam bekerja kita sering kali merasa penuh tekanan, yang mengakibatkan terjebak dalam fenomena hustle culture. Hustle culture sendiri merupakan tekanan untuk bekerja lebih banyak dan lebih sibuk dari yang lain. 

Bahkan hustle culture ini pun dianggap normal—normal saja oleh sebagian orang. Sering kali kita memiliki ekspektasi yang tinggi dalam karier, di mana bekerja lebih giat berarti lebih mudah dalam menggapai kesuksesan dalam hidup.

Namun, justru lupa  meluangkan waktu untuk diri sendiri, keluarga ataupun teman-teman. Ini yang dikenal oleh orang-orang sebagai hustle culture. Pola pikir lebih banyak kerja maka lebih banyak uang yang akan dihasilkan.

Pola pikir seperti ini membawa fenomena ini berkembang kian pesat. Dilansir dari Forbes, mudah sekali bagi seseorang terjebak dalam fenomena ini. Padahal jika terus tersesat dan terjebak dalam hustle culture ini, hal yang didapatkan pada akhirnya hanyalah rasa lelah. 

Saat terjebak dalam hustle culture, dampak yang akan didapatkan adalah produktivitas yang tidak sehat. Tidak ada yang salah untuk menjadi produktif, yang menjadi kekhawatiran adalah jika munculnya perasaan cemas saat tidak melakukan hal yang produktif dalam waktu yang singkat. 

Jika perasaan ini sering muncul setiap waktu, maka waktunya untuk kembali mengatur waktu antara kerja dan diri sendiri. Hal ini bisa memperbaiki kesehatan mental, dan mengurangi perasaan cemas. 

Anggapan bahwa “jika tidak bekerja keras, maka susah untuk menggapai kesuksesan”, hal ini justru bisa menjadi salah satu faktor fenomena hustle culture ini. Bekerja keras tidak selalu mengartikan seseorang itu sukses, apabila tidak bisa menentukan batasan diri sendiri. 

Bekerja dan menjaga kesehatan mental juga menjadi bagian yang sangat penting. Jika terus terjebak dalam fenomena ini bisa mengalami burnout, kelelahan bahkan yang paling parah adalah kematian. 

Hustle culture pun di artikan sebagai budaya yang mendorong seseorang atau pekerja untuk bekerja lebih dari waktu normal. Budaya ini menuntut seseorang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan sesuai target dan tepat waktu. 

Hustle culture bisa berdampak pada kehidupan sehari-hari, misalnya tingginya tingkat risiko terserang penyakit. 

Penelitian yang dilakukan Current Cardiology Reports pada 2018, menemukan bahwa orang yang bekerja lebih dari 50 jam setiap minggu memiliki peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular. 

Seperti serangan jantung dan penyakit jantung koroner yang mematikan. Dampak yang lain akibat fenomena ini adalah gangguan kesejahteraan mental. Beberapa masalah yang dialami merupakan gejala depresi, kecemasan, hingga pikiran untuk bunuh diri. 

Hustle culture membuat pekerja mengalami burnout dan memberi efek negative untuk kesehatan. Badan Kesehatan Dunia atau dikenal juga dengan WHO mendefinisikan burnout sebagai sindrom yang disebabkan karena stres berkepanjangan. 

Burnout syndrome menyebabkan pekerja akhirnya merasa pesimis dengan hasil yang dikerjakan, hingga membuat para pekerja kurang memiliki motivasi serta energi untuk kembali bekerja dan tidak mampu memenuhi kompetisi. 

Dampak yang terakhir akibat fenomena ini adalah hilangnya keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi. Stres yang muncul karena pekerjaan bisa seketika hilang jika seseorang melakukan aktivitas yang disenangi, seperti bertemu keluarga hingga berkumpul bersama teman. 

Seperti dimasa pandemi, kampanye produktif dari rumah meningkatkan trend hustle culture, karena bekerja dari rumah justru membuat hilangnya batasan jam kerja seperti dikantor. 

Adapun cara mengatasi fenomena hustle culture ini adalah hindari membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Sosial media menjadi salah satu sumber tekanan yang menciptakan budaya kerja tanpa istirahat. 

Semua orang bahkan ingin terlihat sukses dan mapan dalam pekerjaannya. Kemudian merasa bangga saat memperlihatkan waktu bekerja di tengah atau malam hari diacid pekan. 

Untuk menghindari fenomena ini, usahakan untuk tidak membandingkan diri sendiri dengan orang-orang yang melakukan hal tersebut di sosial media. 

Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mencari waktu luang untuk menjalani hobi dan hal-hal yang dicintai, hal ini bisa membuat hidup semakin seimbang. 

Hal ini biasa dikenal dengan istilah work life balance, di mana waktu kerja dan kehidupan berjalan dengan seimbang. Setidaknya kita harus pandai mengatur waktu, jangan biarkan waktu yang berlebihan digunakan untuk bekerja terlalu keras. 

Hal terakhir yang dapat dilakukan untuk mengatasi fenomena hustle culture ini adalah dengan mengetahui batasan diri sendiri serta membuat batasan dalam diri dengan jelas. 

Seperti paham dan tahu kapan untuk mengatakan tidak, serta berani untuk mengungkapkannya. Tahu kapan tubuh harus beristirahat dan kapan tubuh siap dan bisa untuk diajak bekerja keras. 

Jangan memaksakan diri sendiri hanya karena ini memenuhi standar yang tidak manusiawi. 

Menciptakan keseimbangan dalam bekerja dengan situasi yang sehat dikantor merupakan hal yang seharusnya dianut oleh banyak pekerja. Lingkungan kerja yang suportif dan bisa menghargai setiap usaha bisa membuat kondisi mental pekerja menjadi lebih baik dan tidak merasa tertekan. 

Demikian dampak serta cara mengatasi budaya hustle culture ini. Budaya tersebut sangat lekat dengan generasi muda sekarang, oleh sebab itu generasi muda perlu dibekali dengan pendidikan yang berkompeten.