Di negeri kami tumbuh perempuan bukan milik perempuan. Dada dan paha sudah dijatahkan buat biro iklan dan wartawan,” demikian kata kolumnis Ariel Heryanto, seperti dikutip Idy Subandi Ibrahi dalam bukunya Budaya Populer sebagai Komunikasi Dinamika Popscape dan Mediascape di Indonesia Kontemporer (Ibrahim, 2007: 18).

Ya, inilah gambaran umum nasib kaum Hawa di selingkungan negara yang membentang dari Sabang hingga Merauke: Indonesia, tanpa terkecuali.

Iklan dan wartawan adalah dua entitas yang termaktub dalam apa yang dinamakan oleh manusia modern dengan “media massa”. Media massa, lebih khusus lagi mengerucut kepada televisi, yang hemat penulis, sungguh berdampak masif terhadap pemanjangan tubuh perempuan.

Daya jangkau yang sangat tak terbalaslah penyebabnya. Ceruk-ceruk kampung, daerah perbatasan, lembah-lembah berbukit di pedalaman Papua, semuanya dijamah oleh benda yang bernama televisi ini. Makanya, tampilan tubuh perempuan ini menjadi komoditas nan manis bagi para pemodal.

Akibatnya, kaum perempuan diredaksi sedemikian rupa. Perempuan yang tentu saja sangat mulia itu, saat ini hanya sekadar tubuh yang bersifat material saja. Tubuh yang dipamerkan. Tubuh yang menjadi tatapan lelaki.

Berangkat dari fenomena tubuh perempuan yang menjadi komoditas inilah, perlu kiranya bagi kita mencari media-media alternatif untuk mengangkat tubuh perempuan menjadi tubuh yang “nyata”, bukan tubuh yang diimajinasikan oleh media selama ini.

Imajinasi agama terhadap tubuhlah agaknya yang perlu menjadi wacana dominan dalam rangka merubah atau melawan wacana dominan yang dikonstruk oleh media televisi di atas tadi, yakni tubuh yang begitu mulia karena peranannya dalam hal relasinya dengan kaum Adam.

Dalam ranah agama, tubuh perempuan tentu saja bukan hanya media seksualitas yang menjadi objek, tetapi ia adalah media yang berperan besar sebagai pelestari kehidupan, ia adalah tonggak sebuah peradaban. Lebih ekstrem lagi, kalau dalam bahasa agama, tubuh yang  melampaui laki-laki itu sendiri, karena predikat mulia yang melekat pada seorang wanita itu.

Pram yang Memuliakan Perempuan

Terkait dengan media alternatif yang meninggikan derajat perempuan ini, sekiranya kita perlu meniru apa yang telah dilakukan oleh novelis besar, Pramoedya Ananta Toer. Hampir dalam setiap novelnya, novel adalah salah satu dari jenis media massa juga, Pram (panggilan akrabnya) selalu meninggikan seorang perempuan.

Dalam masterpiece-nya Bumi Manusia, misalnya, Pram mengangkat seorang gundik yang bernama Nyai Ontosoroh sebagai tokoh protagonis. Walaupun ia adalah seorang gundik, posisi yang sangat rendah, tokoh ini pada akhirnya bangkit, meminjam bahasanya Christanty (2009:27), Nyai Ontosoroh adalah budak yang akhirnya menguasai ilmu dagang, pintar menulis, dan bercakap dalam bahasa penjajahannya.

Dalam novel memikat lainnya, Arus Balik, Pram juga sangat “mendewa-dewakan” perempuan-perempuan yang menjadi tokoh dalam novel bersetting pasca-runtuhnya Majapahit itu, adalah Idayu, istri tokoh protagonis Wiranggaleng.

Idayu dideskripsikan oleh Pram sebagai seorang juara tari kadipaten Tuban tiga kali berturut-turut. Wajah cantik membuat adipati Tuban terpikat, dan menginginkan Idayu menjadi selirnya yang kesekian.

Namun, Idayu bukanlah perempuan penurut, yang ketika itu selalu menjadi sub-ordinat kaum lelaki. Ia memberontak menolak menjadi selirnya adipati. Ia lebih memilih sang kekasih, juara gulat yang juga anak seorang petani, Wiranggaleng.

Masih dalam Arus Balik, tokoh perempuan “perkasa” lainnya adalah Nyai Gede Kati, istri seorang syahbandar Tuban. Beberapa kali Nyi Gede Kati akan dilecehkan oleh suaminya.

Tetapi Nyi Gede Kati bukanlah perempuan biasa. Ia adalah perempuan luar biasa.

Dalam novel bertebal 760 halaman ini, Nyi Gede Kati digambarkan sebagai tokoh yang selalu memenangkan “pertarungan” ketika suami istri ini bertengkar, bahkan tidak jarang suaminya yang licik dan haus kekuasaan ini menjadi bulan-bulanan Nyi Gede Kati karena ilmu beladiri yang dimiliki.

Baca Juga: Betis Ken Dedes

Pernah dalam suatu perkelahian, tarbus (penutup kepala) suaminya, yang notabene adalah simbol kekuasaan yang dimiliki sang syahbandar, copot dari kepala syahbandar dan tanpa ampun Nyi Gede Kati langsung menendang tarbus itu.

Dalam novel lain, Arok-Dedes, sosok ken Dedes digambarkan bukan hanya sebagai wanita pasif pelayan sang pemimpin Tumapel, Tunggul Ametung saja, tetapi Dedes adalah wanita yang tak mau takluk pada suaminya. Bahkan, patih dan para menteri Tumapel berada di bawah kekuasaannya.

Saking mulianya seorang Dedes, Pram mengatakan dalam novelnya, Dedes lebih berharga daripada Tumapel itu sendiri. 

Perempuan lain yang mendapatkan tempat terhormat dalam novel ini adalah Ken Umang, istri Ken Arok sebelum Ken Dedes. Ken Umang adalah pemimpin pasukan para wanita bercawat. Salah satu pasukan andalan Ken Arok untuk menumpas kekuasaan Tunggul Ametung.

Demikian kekuatan novel dalam hal kaitannya dengan posisi kaum perempuan. Novel adalah media alternatif untuk menaikkan derajat kaum perempuan karena kita tidak bisa berharap banyak lagi pada media jenis lain semacam televisi yang mengumbar tubuh perempuan secara berlebihan itu. Saatnya tubuh perempuan merdeka dari segala eksplorasi para pemodal!