"Secara tak langsung, film-film tentang ikan Hiu selama ini turut memicu perburuan ikan bertulang rawan tersebut, hingga beberapa spesies diantaranya dinyatakan punah."


Setiap tanggal 16 September, hari Ozon diperingati oleh dunia. Tema yang diusung, hampir selalu menyebut biang perusak Ozon adalah ChloroFluoroCarbon (CFC) yang dikenal sebagai bahan kimia pendingin ruangan, refrigeran.

Jika dituding sebagai perusak Ozon, maka seberapa banyak penggunaan CFC di Bumi? 

Jika pun bocor, apakah gas CFC sanggup menguap sampai puluhan kilometer, menembus langit meluluh lantakkan ozon?


Bukan Karena CFC Tapi Gas Rumah Kaca.

Perusak ozon yang pasti adalah gas rumah kaca, yaitu Karbon Dioksida (CO2) yang menumpuk di atmosfer bumi, gara-gara polusi dan berkurangnya jumlah serta fungsi hutan.

Isu gas perusak Ozon telah menjadi semacam pengalih penyebab utama yang ironisnya malah membuat ekonomi berputar, yaitu; kegiatan industri dan eksploitasi hutan.

Oleh karenanya selama masa pandemi, saat kegiatan industri dan eksploitasi hutan nyaris terhenti, Ozon pun terlihat menutup kembali.

Usut punya usut, CFC bisa berperan sebagai pencuci silikon bahan dasar pembuatan chips, pada industri teknologi informatika. Bahan kimia CFC disalahkan sebagai perusak lingkungan hidup, justru agar tak beredar bebas ke negara-negara yang mampu bersaing dalam industri tersebut.


Ayo Menanam.

Tema Gerakan Menanam dalam setiap peringatan tentang lingkungan hidup, lebih keren ketimbang dari tahun ke tahun selalu tentang CFC si tersangka perusak Ozon.

Komposisi gas udara bebas adalah; Nitrogen 78%, Oksigen 21%, Argon 1%. Nitrogen adalah gas yang bersifat innert, tak mudah bereaksi, yang membuat setiap makhluk hidup nyaman tinggal di Bumi.

Jika hanya berisikan Oksigen tanpa Nitrogen, maka bumi bakal menjadi tempat yang panas dan mudah terbakar. Nitrogen dihasilkan oleh tanaman. 

Berminat menjadi bagian agar Bumi tetap nyaman ditinggali? Ya, mari kita menanam tanaman. 

Termasuk tanaman rumahan dalam sepetak halaman mini, sudah mewakili niatan memuliakan bumi.


Lautan Sumber Kehidupan.

Planet Bumi tampak biru bukan hanya karena langitnya membiaskan gelombang warna biru dari cahaya matahari. Namun, juga karena Bumi lebih dominan berisikan air daripada dataran, dalam bentuk samudra, lautan luas.

Lautan berlimpah mineral sumber protein pembentuk jasad renik awal kehidupan. Lalu oleh paparan panas matahari, maka air laut menguap menjadi gumpalan awan, digiring angin menuju daratan turun menjadi hujan. Kehidupan pun menyebar lalu berkoloni dan berkembang biak.

Lautan adalah sumber kehidupan di Bumi. Di dalamnya kaya sumber pangan tak kalah melimpah dibanding kelimpahan bahan pangan di darat, bagi manusia sekaligus keturunannya.

Tak hanya itu, lautan juga penyumbang air tawar berupa hujan bagi daratan. Tanpa lautan, Bumi tak memiliki air resapan, tak ada sumur, tak ada sungai mengalir, tak ada air minum bagi makhluk hidup di daratan.

Tanpa kehadiran lautan, manusia tak bakal bisa menikmati secangkir teh, kopi ataupun segelas es sirup Markisa yang embunnya menetes-netes di permukaan gelas menggoda insan yang tengah berpuasa seharian.

Dengan demikian, menjaga keseimbangan sistem kehidupan dalam lautan menjadi sangat penting, tak hanya bagi lautan sendiri namun juga bagi seisi Bumi.


Hanya Hiu.

Satu makhluk hidup yang berperan sangat menentukan bagi keseimbangan ekosistem dalam laut adalah ikan Hiu.

Tak disangkal, ikan Hiu adalah pemangsa nomor satu di lautan. Ikan ini yang menentukan keberimbangan rantai makanan alamiah dalam lautan.

Mulai dari plankton, zooplankton, tanaman, ikan pemangsa plankton, ikan pemangsa tanaman, ikan pemangsa ikan pemangsa tanaman, ikan pemangsa ikan pemangsa ikan pemangsa tanaman dan seterusnya hingga ikan pemangsa ikan besar sampai akhirnya ikan Hiu sebagai biangnya ikan pemangsa.

Siklus Ekosistem Lautan Menunjukkan Ikan Hiu Sebagai Top Predator.


Jika ikan Hiu punah yang bukan karena dikeroyok ikan-ikan pemangsa di bawahnya, melainkan diburu oleh manusia, maka pelan namun pasti kepunahan beberapa spesies Hiu bakal menjadikan ekosistem lautan menjadi tak imbang, lalu rusak.

Ikan berukuran besar pemangsa ikan berukuran sedang yang tadinya takut akan kehadiran ikan Hiu, menjadi tak khawatir lagi memangsa ikan berukuran sedang. Lalu ikan berukuran sedang menjadi berkurang, tak lagi semena-mena memangsa ikan berukuran kecil.

Ikan-ikan kecil pun lalu tak khawatir lagi memangsa tanaman laut. Tanaman laut lalu berkurang, membuat plankton dan zooplankton juga jasad renik tak punya tempat tinggal, lalu menyebar dengan mudah dimangsa ikan. Plankton dan Zooplankton pun kemudian turut berkurang kelimpahannya dalam lautan.

Pelan namun pasti, tanpa adanya top predator, lautan bakal kehilangan tanaman. Unsur kimiawi yang diperlukan bagi metabolisme makhluk hidup lautan dari hasil fotosintesa dan asimilasi tanaman berangsur berkurang. 

Pelan namun pasti, laut menuju ambang kematian. Hanya berwujud air asin yang keruh, tanpa kehidupan.

Jika lautan dalam bumi hanyalah air asin tanpa jasad renik di dalamnya, maka saat menguap menjadi mendung lalu turun sebagai hujan, bakal hanya turun sebagai air saja, H2O semata.


Hujan Tak Bergizi.

Tak hanya jasad renik yang tak turut serta dalam air hujan. Namun, beragam unsur mineral juga tak terkandung didalamnya. Air hujan yang bakal jatuh, ibaratnya adalah air yang tak mengandung gizi bagi daratan bumi.

Unsur hara pada lapisan tanah bagian atas, top soil, lalu diperkosa untuk diserap bagi tanaman daratan sebagai satu-satuya sumber mineral bagi kehidupan mereka.

Lama kelamaan, tanaman di daratan Bumi pun layu kekurangan mineral. Tanah pun demikian, menjadi kerontang, kehabisan unsur hara. Lalu, manusia dan binatang daratan nasibnya bagaimana?

Naluri bersaing dan bertahan, kemudian menjadi satu-satunya usaha agar tetap hidup di Bumi. Bisa saja terjadi demikian, namun sangat primitif, tak manusiawi.

Bayangan mengerikan tersebut di atas, bukannya tak mungkin dapat terjadi apabila ekosistem lautan menjadi rusak. Semua itu diawali dengan sang pemangsa nomor satu dalam lautan, ikan Hiu, punah.


Pengaruh Pop Culture.

Sayangnya, hingga detik ini, cara berpikir, mindset, kebanyakan manusia terhadap ikan hiu, sangatlah miring. Diperparah dengan budaya populer dalam bentuk kisah-kisah dalam layar perak bergenre laga, yang menggambarkan betapa ikan hiu adalah musuh bersama.

Sebut saja judul beberapa film yang menyajikan kengerian deretan taring ikan hiu sebagai sosok antagonisnya.

Mulai dari film-film berjudul; Shark! (1969), Jaws(1977), Deep Blue Sea (1999) dan sekuelnya buatan tahun 2020, Open Water (2003), The Reef (2010), The Shallow (2016), The Meg (2018), 47 Meters Down: Uncaged (2019), hingga yang terbaru; Great White (2021).

Semua karya sineas luar negeri tersebut di atas, berkisah tentang kebuasan ikan Hiu, yang lalu berakhir pilu. Tuturan kisah-kisah film tersebut di atas, juga mesti berhias adegan ikan Hiu menyerbu wanita berbikini yang tengah berenang-renang. Lha iya, wong Hiu kok mata keranjang.

Hanya satu penggambaran tentang ikan hiu yang cukup jenaka dan ramah sebagai tontonan edukatif bagi anak-anak, yakni Shark Tale (2004), film animasi.


Poster Film Shark Tale (2004).


Dampak dari ketegangan yang dibuat insan seni perfilman tentang ikan hiu yang brutal, berbuah mindset bagi hampir seluruh orang sedunia, bahwa ikan Hiu tak layak hidup di bumi, tak berhak mewarnai keanekaragaman hayati dalam samudera.

Secara tak langsung, film-film tentang ikan Hiu selama ini turut memicu perburuan ikan bertulang rawan tersebut, hingga beberapa spesies diantaranya dinyatakan punah.

Apabila kampanye hitam tentang keberadaan ikan Hiu dalam bentuk karya seni layar perak tersebut tak berimbang, karena hanya menyorot keganasan ikan hiu semata, sementara ada sisi lain yang menguntungkan akan keberadaan ikan tersebut, maka kengerian terhadap adanya ketidakseimbangan ekosistem yang membahayakan seluruh isi Bumi, bakal terjadi.


Bertindak Cerdas Kepada Bumi.

Udara, tanah dan air yang bersih alami, adalah anugerah. Bumi beserta sistem di dalamnya adalah karunia yang tak ternilai bagi manusia dan makhluk hidup yang tinggal di dalamnya.

Sejauh ini, manusia hanya bakal mampu tinggal di Bumi. Memuliakan Bumi agar sepadan untuk ditinggali adalah sebaik-baiknya cara manusia dalam mengaktualisasikan kecerdasan yang dianugerahkan olehNya.