gambar_rokok_34.jpg
Kesehatan · 4 menit baca

Mulailah Meninggalkan Rokok!

Pembahasan mengenai rokok tengah hangat diperbincangkan. Mengenai wacana kenaikan harganya menjadi Rp. 50.000/bungkus, pro dan kontra bermunculan. Mulai dari para perokok itu sendiri, orang-orang yang berkecimpung dalam industri ini, pemerintah, lembaga farmasi dan berbagai pihak lainnya. Semua yang berkepentingan angkat bicara, berupaya mempertegas statusnya dalam memperjuangkan eksistensinya.

Rokok bukanlah sesuatu yang bebas nilai. Dari sebatang rokok tercermin egoisme, mengejar kenikmatan, ketiadaan tanggung jawab juga hilangnya rasa menghargai. Dengan rokok, seseorang menjustifikasi kemerdekaan individualnya, tanpa memperhatikan lingkungannya bahkan juga dirinya.

Sebab, tidak ada yang dapat menyangkal betapa berbahayanya rokok. Batang-batang tembakau ini mengandung 4.000 zat berbahaya, 64 diantaranya menjadi penyebab kangker. Rokok berkaitan erat dengan penyakit tidak menular penyebab kematian utama di dunia. Rokok adalah satu-satunya produk yang apabila digunakan dengan benar akan membunuh separuh dari penggunanya dalam jangka panjang.

Rokok seibarat fatamorgana yang menggoda orang-orang yang kehausan untuk terus mengejarnya hingga mereka lelah mengejarnya. Saat itulah mereka memperoleh hukumannya, ketika mereka menyadari bahwa apa yang dikejarnya adalah sebuah kehampaan, kekosongan.

Citra diri yang fana berupa kematangan, kemapanan, kesuksesan, kebebasan, kesenangan, petualangan dan sebagainya, digambarkan akan terbentuk melalui rokok. Kenikmatan semu yang diperoleh dari asap-asap yang memenuhi relung dada.

Budaya rokok mendekap erat para pencandunya. Data dari The Atlas Tobacco 2015 menyebutkan bahwa 90 juta penduduk Indonesia adalah perokok aktif. Setiap tahun jumlah ini terus meningkat, demikian pula jumlah rokok yang mereka hisap setiap harinya.

Hz. Mirza Tahir Ahmad mengungkapkan bahwa Islam menyederhanakan, menertibkan dan membatasi dorongan nafsu alamiah yang jika tidak dikendalikan akan mengharu-birukan emosi manusia. Islam menengahkan atau melarang pemenuhan hawa nafsu yang pada akhirnya alih alih membawa kenikmatan malah hanya akan membawa lebih banyak kesengsaraan bagi diri dan masyarakat.

Rokok tidak hanya berbahaya bagi diri pribadi, orang-orang di sekitar perokok juga akan terkena asap berbahaya dari rokok. Sebagai perokok pasif, juga merupakan sesuatu hal yang sangat berbahaya. Tingginya bayi yang lahir cacat dan berbagai penyakit bawaan berkaitan erat dengan rokok.

Biaya yang dikeluarkan sebuah rumah tangga untuk rokok juga menjadi permasalahan tersendiri, karena akhirnya kebutuhan primer terkalahkan demi memenuhi biaya membeli batang-batang tembakau ini pada sekitar 70% warga miskin. Sementara beras, telur, susu, apalagi biaya sekolah tersisihkan. Rokok menyumbang besar bagi angka kemiskinan di Indonesia.

Tidak hanya itu, contoh dari orang tua dan lingkungan juga menyebabkan munculnya para perokok muda bahkan baby smoker. Mengutip data dari Global Youth Tobacco Survey 2014, sebanyak 20,3% anak usia sekolah (13-15 tahun) sudah mengonsumsi rokok.

Tentu masih lekat dalam ingatan kita, bocah berinisial AR yang sempat menggegerkan dunia ketika video merokoknya menjadi viral di media tahun 2010. Dalam video tersebut diperlihatkan betapa piawainya ia menghisap dan memainkan rokok dengan bibir dan tangan munggilnya layaknya seorang profesional.

Padahal usianya masih 2 tahun saat itu, namun ia telah terbiasa mengonsumsi 40 batang rokok per hari! Betapa menyedihkannya, saat anak-anak seusianya menangis karena meminta susu, anak ini malah meminta rokok!

Setelah terapi panjang, ia kini telah sembuh dari kecanduannya terhadap rokok. Namun ternyata fenomena baby smoker tidak berhenti, dan kasus-kasus serupa terus bermunculan.

Pada tahun 2012, Komnas Perlindungan Anak mencatat ada 36 balita yang diketahui menjadi perokok aktif. Dan kini berdasarkan data dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohanna Yembise, terungkap bahwa 54% anak Indonesia adalah perokok.

Dari rokok, pencarian kenikmatan tersebut tidak kemudian berhenti, karena kegelisahan akan terus mengerogoti. Dibutuhkan inovasi dan perubahan agar selalu dapat memuaskan segala nafsu yang mencengkram. Tak ayal, obat-obatan terlarang menjadi batu loncatan berikutnya bagi sebagian mereka.

Inilah yang ditakutkan, karena tidak hanya jumlah perokok yang semakin meningkat, jumlah pengguna narkoba pun di Indonesia semakin tinggi setiap waktunya, dan dapat dipastikan 100 persen pengguna narkoba adalah juga seorang perokok.

Bahaya besar tengah mengintai dengan adanya fakta ini. Dengan rokok, kita membentuk generasi penerus bangsa yang ringkih dan rapuh. Sementara itu, sebagai tantangan masa depan, diperlukan pohon yang berakar kuat di bumi dengan cabang-cabang tinggi yang menggapai langit. Pohon ini dihidupi oleh cahaya langit dan ia menghasilkan buah yang baik setiap musim.

Poin penyelesaian bagi permasalahan kemasyarakatan diatas dijelaskan oleh Al Qur’an sebagai berikut:

             “Dan mereka yang mejauhkan diri dari segala yang sia-sia.” (Q.S Al Mu’minun ayat 4)

Alih-alih melepaskan stress dan ketegangan, mencari kenikmatan melalui rokok bukanlah sesuatu yang dilarang. Hanya saja kita mengetahui bahwa terdapat bahaya yang demikian besar dengan menghisapnya. Maka hal tersebut jelas tidak disarankan. Apalagi kemudian menjadi candu yang tidak terpisahkan dalam kehidupan, maka hal itu dalam terminologi Al Qur’an dicerca sebagai laghaw (sia-sia dan tidak bermanfaat).

Hz. Mirza Tahir Ahmad menekankan bahwa Islam memberikan batasan agar masyarakat dalam mengejar kenikmatan tidak menjadi timpang. Dengan demikian Islam menengah setiap perilaku, tidak peduli betapa polosnya pada awalnya, yang kemudian akan menjurus ke arah permisivitas dalam masyarakat. Kerusakan akibat hal demikian yang ditimpakan kepada masyarakat adalah sangat besar dan berlapis lapis.

Manusia tidak sepatutnya mengejar kenikmatan tanpa batas dan hambatan meskipun memang itu yang diinginkannya. Apa yang dapat dilakukannya adalah mempertukarkan beberapa pilihan dan nilai-nilai tertentu. Suatu masyarakat yang ingin mengelak dari pertanggungjawaban atau realitas kehidupan melalui candu dan obat bius, suatu masyarakat yang terobsesi oleh seks, keriaan dan hura-hura.

Jika demikian, maka terbentuklah suatu masyarakat dengan selera yang dipelencengkan secara sengaja agar cocok dengan pasar artifisial dan instrument kenikmatan yang hanya akan menghasilkan kegembiraan berikutnya. Suatu pasar yang dikendalikan oleh sindikat-sindikat kuat yang tujuan pokoknya hanya mengumpulkan kekayaan.

Untuk itu, menurut Islam, disiplin harus ditanamkan pada semua segi aktivitas sosial melalui keyakinan dan pemahaman, dengan demikian keseimbangan yang rusak dapat segera diperbaiki.

Jadi dalam hal ini, bukan masalah mahal atau murahnya suatu benda, akan tetapi bagaimana karakteristik benda tersebut dalam konteks kemaslahatan atau kemadaratannya. Jika nature dari barang tersebut menghadirkan manfaat yang besar bagi pribadi maupun umum, maka sebuah keniscayaan untuk dipilih sebagai fondasi kuat sebuah kehidupan yang mulia.

Akan tetapi sebaliknya, jika nature benda tersebut adalah kemudharatan demi kemadaratan maka tinggalkanlah. Al Qur’an acapkali mengingatkan kita semua, “Afalaa tatadzakkaruun, Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”.