Berkembangnya sejarah pendidikan di Indonesia hingga saat ini terus dibumbui berbagai persoalan. Seperti persoalan kebijakan sistem pendidikan yang sering mengejutkan di tengah jalan, oknum siswa yang membangkang atau para oknum guru yang melakukan tindakan asusila terhadap siswa. Hal itu merupakan dinamika dalam perkembangan pendidikan di Indonesia.

Berangkat dari dinamika perkembangan pendidikan di Indonesia, semua stakeholder harus bersama-sama mengevaluasi secara total untuk menuju pembaharuan dan perbaikan sistem pendidikan di Indonesi.

Kita sudah sering mengganti, menambah, mengurangi sistem pendidikan di negeri ini. Tapi jika kinerja institusi pendidikan, terutama tenaga pengajar tidak mau berubah ke arah yang lebih baik, apa pun sistem pendidikannya, sebagus apa pun sistem pendidikanya jika tidak diimbangi up grading institusi pendidikan atau tenaga pengajar, maka hasilnya akan sama saja.

Teknologi berkembang begitu pesat bak panser raksasa yang siap menggilas bangunan bagi penghuninya yang tak mau maju atau bergeser ke arah yang lebih baik. Barang siapa yang tidak mau mengikuti perkembangan zaman, maka ia akan tergilas oleh zaman. 

Seorang guru harus bisa mengikuti atau bahkan melebihi zaman dengan inovasi yang selalu dihadirkan. Pepatah kuno mengatakan, "guru kencing berdiri, siswa kencing berlari". Sebuah pepatah yang menggelitik para tenaga pendidik.

Selain harus mengikuti perkembangan zaman, guru juga harus menjadi teladan bagi siswanya. Karena guru adalah cerminan dari ahklak siswanya.

Dilansir dari laman Seputarsjarah.com. Menurut Undang-undang nomor 14 tahun 2005, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. 

Dengan tupoksi dan tanggung jawab guru tersebut, kiranya guru harus mampu memformulasikan atau meramu bagaimana cara mendidik di era kids zaman now. Karena tentunya mendidik kids zaman now tidak bisa disamakan dengan cara mendidik kids zaman old.

Perkembangan teknologi berdampak pada kurikulum 2013, di mana mata pelajaran Teknik Informasi dan Komunikasi (TIK) tidak lagi menjadi mata pelajaran melainkan dijadikan sebagai media pembelajaran.

Dengan demikian, para guru harus kreatif dan jeli dalam penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran. Karena, jika para siswa dilepas begitu saja, dikhawatirkan mereka akan menjadi korban budaya Mcdonaldisasi di mana segala sesuatu dikerjakan dengan cepat saji namun tidak memiliki sesuatu yang khas, karena dikerjakan secara copy paste dengan hasil yang sama dari sumbernya. 

Hal yang perlu diingat oleh para guru adalah metode pembelajaran kurikulum 2013, di mana siswa harus dituntut lebih aktif, kreatif dan inovatif dalam menggunakan media pembelajaran. Jika siswa mengerjakan sesuatu hanya asal jadi dan sama dengan yang lainnya, maka di situlah budaya Mcdonaldisasi sudah mendarah daging.

Penggunaan smartphone sudah tidak asing lagi di kalangan kids zaman now. Tapi apakah penggunaan itu sudah tepat guna? Banyak cara untuk menggunakan smartphone sebagai sarana pembelajaran?

Khususnya di mata pelajaran sejarah. Seperti misalnya penggunaan media sosial. Agar siswa selalu membaca peristiwa sejarah, siswa disarankan mem-follow akun-akun twitter atau instagram yang aktif membagi peristiwa sejarah, dengan demikian akan muncul pada beranda.

Kemudian agar siswa lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitar siswa diberi penugasan mengupload foto-foto terkait perubahan lingkungan sosial di sekitar tempat tinggalnya. Selain itu juga, untuk mengasah public speaking, dan keterampilan action, siswa diberi tugas untuk membuat video kunjungan ke situs-situs sejarah atau museum dan kemudian hasilnya di-upload ke youtube yang kemudian bisa dishare ke media sosial.

Jika itu menarik, bukan tidak mungkin akan ada banyak orang yang memviralkan. Untuk aktivitas sehari-hari, siswa juga bisa diarahkan untuk menginstal aplikasi game sejarah di play store atau apple store.

Sementara itu, untuk metode pembelajaran di kelas, juga harus dibuat menarik dan simpatik. Awalnya banyak siswa menganggap pelajaran sejarah sangat membosankan apalagi disampaikan dengan metode ceramah, karena selalu berbicara siapa, kapan, di mana, dan apa. 

Jika pelajaran sejarah diterapkan dengan pertanyaan bagaimana (sebab-akibat) dan mengapa (proses terjadi) maka itu akan lebih menarik dengan metode pembelajaran diskusi, karena siswa akan diajak berpikir kritis dan analisis. Sesekali untuk menghilangkan rasa penat dikelas. Buatlah game tradisional atau ice breaking yang masih berhubungan dengan materi yang dibahas.

Knowledge is power, Demikianlah pernyataan yang dikutip dari Francis Bacon. Pernyataan tersebut jelas mengungkapkan pentingnya pendidikan bagi manusia. Sumber pokok kekuatan manusia adalah pengetahuan. 

Dengan pengetahuan manusia akan terus maju dan perkembang kearah yang positif dan negative. Mengapa demikian? Karena tidak diimbangi oleh etika dan keterampilan. Perlu ditekankan kembali bahwa dalam kurikulum 2013, penilaian meliputi tiga aspek yaitu afektif (sikap), kognitif (pengetahuan), dan Psikomotorik (keterampilan). 

Dalam kurikulum sebelumnya penilaian difokuskan hanya pada satu aspek saja yaitu kognitif. Jadi tidak heran banyak orang pintar di negeri ini bermental korup karena etikanya rendah. Banyak pula orang pintar susah mencari kerja karena keterampilannya rendah.

Ketiga aspek penilaian tersebut harus benar-benar dijalankan sebagaimana mestinya. Harapannya kita tidak lagi menyiapkan para peserta didik yang bermental pekerja, pilihannya hanya ada dua. Menjadi penguasa (pemimpin) atau menjadi pengusaha. 

Jika menjadi pemimpin maka mereka (baca: siswa) diharapkan mampu mensejahterakan rakyat melalui kebijakan-kebijakan dan program kerja yang dibuat. Dan jika menjadi pengusaha maka bisa membuka lapangan pekerjaan. 

Bayangkan jika satu kelas yang berjumlah 50 siswa dan mencetak minimal lima pengusaha maka yang 45 siswa bisa memilih bekerja di lima perusahaan tersebut. Apa jadinya jika ini menjadi gerakan nasional. Tidak ada lagi pengangguran di negeri ini. Dan pemimpin bisa menjalankan amanah tanpa korupsi.

Demikian kiranya untuk mendidik di era kids zaman now. Atau zaman milenial yang viral dikalangan penghuni dunia maya sebagai generasi kebanyakan micin, sehingga dianggap bodoh, monoton, lelet, dan sempit pemikirannya. Semoga penyebutan tersebut hanyalah lelucon di kalangan penghuni dunia maya. Kita yakin generasi emas itu akan datang pada tahun 2030, jika pendidikan sudah benar-benar memanusiakan manusia.