Apakah Anda sekalian pernah merasakan perasaan malas? Tidak ingin mengerjakan suatu pekerjaan karena jumlahnya yang bukan main atau mungkin karena tingkat kesulitan yang tergolong tinggi? Tentunya kita semua pernah mengalaminya, bukan?

Ya, manusia memang dibekali dengan akal dan budi serta perasaan dari dalam dirinya. Hal-hal itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain, sehingga tidak heran jika manusia disebut sebagai “Makhluk Mulia”.

Namun terkadang, justru akal budi dan perasaan manusia itulah yang menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Rasa malas merupakan contoh yang nyata. Manusia memang memiliki perasaan ini sebagai naluri untuk menjauhkan mereka dari perasaan lelah. Tapi terkadang, perasaan ini terlalu mendominasi, sehingga manusia merasa tidak ingin melakukan pekerjaan yang seharusnya mereka lakukan.

Banyak dari kita yang menerapkan prinsip, “Kalau bisa dilakukan nanti, kenapa harus sekarang?”Prinsip ini merupakan hal umum yang sering kita jumpai. Dengan kata lain, kita sering menunda-nunda pekerjaan pada saat kita merasa malas.

Jujur, pada awalnya, saya sendiri juga sering mengalami hal ini.

“Masalahku pada hari ini akan kuserahkan pada diriku di masa depan” adalah dalih saya untuk bermalas-malasan. Setelah memikirkan hal itu, dengan santainya saya akan melakukan kegiatan yang lebih saya sukai daripada mengerjakan tugas saya.

Namun, bila kita pikir lebih dalam lagi, bukankah bersantai pada saat ada tugas yang menunggu untuk kita kerjakan bukanlah hal yang nyaman?

Rasa waswas akan deadline yang semakin mendekat dan tugas yang justru menumpuk karena tidak segera kita kerjakan akan terus menghantui kita.

Selain itu, bukankah mengerjakan tugas pada akhir deadline juga memberi kita banyak kerugian? Kita tidak bisa mengerjakan tugas kita secara maksimal karena perasaan tergesa-gesa mengejar waktu pengumpulan yang makin lama makin dekat.

Di samping itu, kita juga tidak memiliki banyak waktu untuk mengoreksi apa yang telah kita kerjakan. Bagaimana kita bisa yakin bahwa tugas kita telah seratus persen benar jika kita tidak memiliki waktu untuk memeriksanya?

Orang-orang yang telah memeriksa pekerjaannya saja belum tentu mendapatkan hasil yang memuaskan, bagaimana dengan yang belum memeriksanya?

Kadang kita mencari jalan pintas dengan perbuatan curang. Tetapi tentunya, perbuatan tersebut bukanlah sebuah pilihan yang baik. Kita harus selalu ingat bahwa Tuhan Yang Maha Esa selalu mengawasi semua perbuatan kita dari awal kehidupan kita sampai dengan akhir nanti.

Selain itu, dengan kecurangan, kita juga tidak bisa mendapatkan makna di balik tugas yang telah diberikan kepada kita. Keahlian kita pun, yang seharusnya bertambah setelah kita mengerjakan tugas, juga tidak akan bertambah bila kita mengerjakan tugas dengan jalan pintas , yaitu dengan jalan kecurangan.

Lantas, bagaimana cara menghilangkan rasa malas ketika kita harus mengerjakan tugas?

Yang pertama, kita dapat menyemangati diri kita sendiri. Kita dapat memberi bermacam sugesti penyemangat kepada diri kita sendiri. Keahlian yang bertambah, rasa puas setelah mengerjakan tugas, serta rasa bangga karena bisa mengerjakan tugas yang kita anggap sulit adalah beberapa contoh dari sugesti yang bisa kita gunakan.

Dengan adanya sugesti dan semangat dari dalam diri kita sendiri, niscaya kita bisa bangkit dan memiliki kemauan untuk mengerjakan tugas.

Cara yang lain adalah dengan membalik prinsip, “Kalau bisa dilakukan nanti, kenapa harus sekarang?”

Kebalikan dari prinsip ini adalah, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Ya, peribahasa ini memang mengajarkan kita untuk melakukan apa yang harus kita lakukan terlebih dahulu. Kita akan mendapatkan waktu untuk melakukan apa yang kita sukai setelah semuanya selesai.

Selain kedua cara di atas, jika tugas yang kita miliki terasa sangat berat, kita bisa menjanjikan diri kita sendiri sebuah hadiah.

Sebagai contoh, sebelum kita mengerjakan tugas, kita dapat memikirkan sesuatu yang kita sukai dan mudah untuk didapatkan, seperti minuman dingin atau makanan ringan. Kita bisa berjanji pada diri kita sendiri untuk membeli makanan atau minuman tersebut setelah tugas selesai.

Dengan adanya hadiah yang menanti di akhir, kita bisa menambah semangat dan memulai tugas yang sulit, untuk mengejar hadiah itu.

Pemikiran bahwa, “Yang berat adalah memulainya, bukan mengerjakannya,” juga merupakan salah satu jawaban yang tepat.

Pada saat kita dihadapkan dengan berbagai pekerjaan hingga kita tidak bisa berpikir jernih dan lebih memilih untuk mengeluh atau bermalas-malasan, kita bisa memikirkan pemikiran tersebut. Bila kita memilih untuk memulai pekerjaan kita, pekerjaan itu akan berakhir lebih cepat, sehingga beban kita juga akan terangkat lebih cepat.

Dan setelah kita mulai mengerjakannya, sedikit demi sedikit pekerjaan tersebut akan berkurang tanpa kita menyadarinya. Tentu saja kita perlu istirahat, namun ingat, ketika kita meninggalkan pekerjaan kita untuk menikmati waktu istirahat secara berlebihan, pekerjaan itu tidak akan lekas selesai dan justru semakin bertambah.

Bila kita mengerjakan suatu pekerjaan secara telaten, sabar, serta rajin, tanpa kita sadari, kita akan menyelesaikan pekerjaan tersebut. Bukankah hal itu lebih bermanfaat daripada hanya mengeluh atau bermalas-malasan?

Pekerjaan yang dilakukan lebih awal tentunya memiliki lebih banyak kelebihan dibandingkan dengan pekerjaan yang dikerjakan pada saat mepet.

Kembali meneliti tugas pada saat ada waktu luang, sehingga kita dapat mengurangi risiko kesalahan yang ada pada tugas tersebut adalah salah satu dari manfaat mengerjakan segala sesuatu lebih awal.

Pekerjaan pun dapat dilakukan dengan maksimal karena kita memiliki waktu yang masih banyak. Kita terhindar dari rasa tergesa-gesa akibat kejaran waktu. Hasil yang didapat pun juga diharapkan lebih maksimal jika kita mengerjakan tugas lebih dahulu.

Sesuai dengan peribahasa, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian,” kita bisa mendapatkan waktu lebih di akhir. Bersantai tanpa adanya bayang-bayang tugas dan deadline juga merupakan manfaat dari mengerjakan tugas di awal. Rasa lelah dari mengerjakan sesuatu di awal akan terbayar dengan waktu santai yang lebih maksimal.

Rasa malas sebenarnya mudah untuk di atasi, bila kita tahu bahwa manfaat dari melakukan pekerjaan lebih dahulu lebih besar daripada melakukan pekerjaan di akhir. 

Tidakkah lebih baik jika kita mulai mengatasi rasa malas ini?