Usia  105 tahun itu secara de jure lebih tua dari Negara Indonesia, selama 105 tahun itu pulalah Mathla’ul Anwar mengupayakan perjuangan di bidang pendidikan, dakwah dan sosial dalam bingkai kebangsaan. Menjadi rangkaian mozaik dari perjuangan menuju Negara – bangsa yang dewasa dan modern.

Sebagai warga Mathla’ul Anwar, penulis patut berbangga diri pada Mathla’ul Anwar utamanya sosok KH Mas Abdurrahman, KH Entol Yasin, KH Tb Sholeh, yang telah memberikan efek perjuangan yang mampu dirasakan ke seluruh Nusantara.

Melakukan pengembangan organisasi dengan pendirian satuan pendidikan berbasis keagamaan.

Sejenak kita membuka mata ke tahun 1916, tahun berdirinya Mathla’ul Anwar. Saat itu tujuan Mathla’ul Anwar didirikan adalah sebagai gerakan penyadaran melawan kolonialisasi Belanda.

KH Mas Abdurrahman memandang bahwa pendidikan yang dibuat Belanda tidak berpihak pada pribumi, egoistis dan tidak membebaskan, diperuntukkan hanya untuk sebagian kalangan saja.

Ditambah masa itu dua identitas pada kolonial Belanda sangat kuat, identitas sebagai pemerintahan Kristen sekaligus pemerintahan kolonial.

Umat Islam Indonesia menuduh penjajah Belanda sebagai bagian dari misi zending (kristenisasi). Sehingga, muslim Indonesia termasuk di Menes menyimpan kekhawatiran itu sebagai sebuah ancaman besar.

Bermula dari Bogor

Tahun 1908 sepulang dari rapat Serikat Dagang Islam (SDI) di Bogor, KH Entol Yasin memimpikan kehidupan masyarakat Menes yang tercerahkan. Entol Yasin mendatangi KH Tb Soleh yang punya pesantren di Kananga, Menes.

Mereka bertukar fikiran dan gagasan, menyusun rencana, bermusyawarah, mencari jalan terbaik untuk umat.

Rencana -  rencana itu terwujud saat mendapati figure muda yang sedang studi di Mekkah dipanggil pulang ke Menes, KH Mas Abdurrahman. Lalu, KH Tb Soleh, KH Entol Yasin dan KH Mas Abdurrahman sepakat untuk mencarikan jalan alternatif yang dapat menjadi solusi kolektif.

Sesuatu yang mendekatkan akses pendidikan ke seluruh lapisan masyarakat sekaligus sebagai entitas perlawanan, yaitu dengan mendirikan madrasah yang dinamai “Mathla’ul Anwar”.

1952, saat usianya menginjak 36 tahun, Mathla’ul Anwar menggelar muktamarnya yang ke 8 di Bogor. Ini adalah kali pertama Muktamar dihelat di luar Menes. Bukan tanpa alasan, karena Bogor saat itu menjadi wilayah kuat dalam ekspansi dakwah Mathla’ul Anwar, telah berdiri madrasah dan pesantren Mathla’ul Anwar di wilayah Bogor.

Penegasan independensi organisasi, tidak terafiliasi dengan partai apapun, dan pendirian kepanduan (Pandu Cahaya Islam) adalah keputusan – keputusan penting yang dilahirkan dalam institusi musyawarah tertinggi itu.

Muktamar Kedua di Abad Kedua

Berbagai dinamika organisasi di era pra kemerdekaan, pasca kemerdekaan, orde lama dan orde baru sampai fase reformasi adalah perjalanan Mathla'ul Anwar di abad pertama. Perjalanan itu telah dilewati, tercatat 18 Muktamar berhasil digelar.

Dalam catatan, Muktamar yang dibuka Presiden RI dan digelar di Bogor tahun ini adalah Muktamar kali ke 20.

Jika dihubungkan dengan Muktamar tahun 1952, artinya ini adalah muktamar kedua kalinya Mathla’ul Anwar di Bogor sekaligus Muktamar kedua di abad kedua usianya, setelah sebelumnya di tahun 2015 menggelar Muktamar XIX di Pandeglang, muktamar perdana di abad keduanya.

Selain memilih pucuk pimpinan organisasi, membahas masalah internal keorganisasian, keindonesiaan dan keummatan. Musyawarah tertinggi organisasi lima tahun sekali ini sangat perlu dilakukan sebagai transformasi kepemimpinan Pengurus Besar Mathla'ul Anwar.

Apalagi di tengah arus zaman  yang semakin deras, aktualisasi gerakan Mathla’ul Anwar di abad keduanya memang tidaklah mudah.

Sehingga, evaluasi kinerja, penyegaran kepengurusan, dan merancang program kerja organisasi yang ada pada muktamar memiliki posisi vital sebagai aktualisasi gerakan.

Muktamar tahun ini berbeda dengan muktamar – muktamar sebelumnya. Mathla'ul Anwar yang terlanjur dicintai warganya harus rela melangsungkan muktamar secara hybrid, dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring). Warga Mathla'ul Anwar tidak bisa membanjiri arena muktamar, karena situasi yang belum normal. Tapi, bukan itu substansinya.

Transformasi budaya, sosial, politik semakin cepat, di usianya yang ke 105 Mathla’ul Anwar harus tetap muda dalam semangatnya. Agarbisa lari cepat dan mengimbangi perubahan itu.

Musyawarah besar bukan hanya soal dihadiri oleh pejabat tinggi Negara, semarak umbul – umbul, gedung mewah dan lautan manusia yang menghadirinya.

Tapi, sejauh mana gagasan yang dihasilkan, disiapkan lalu dihidangkan untuk menemani perjalanan panjang Mathla’ul Anwar di abad keduanya.

Yang menjadi pembeda lainnya adalah muktamar XX ini tanpa sosok KH Irsyad Djuwaeli, sang maestro itu wafat 2 bulan yang lalu sebelum muktamar digelar.

Bagaimanapun KH Irsyad Djuwaeli adalah saksi dan pemain kunci di paruh perjalanan Mathla'ul Anwar abad kesatu dan transisi ke abad kedua.

Muktamar Mathla'ul Anwar kedua di abad kedua yang digelar di Bogor baru saja berakhir. Navigator anyar, format khusus dan ramuan – ramuan organisasi dihasilkan.

Perjalanan 105 tahun itu bukan semata – mata taken for granted. Sungguh, navigator anyar Mathla'ul Anwar harus menghayati ke arah mana Mathla'ul Anwar hendak menuju untuk mewujudkan blue print yang dinarasikan oleh para pendahulu.

Ya Allah berkatilah.