Pendidikan dan Kesehatan Sebagai Ciri Khas

Satu abad lamanya Muhammadiyah hadir dan ta’awun untuk negeri. Dalam kurun waktu yang lama Muhammadiyah telah mengisi otak, memberikan pencerahan keagamaan kepada umat Islam di Indonesia. Namun tidak berarti tugas dakwah Muhammadiyah berhenti sampai di situ saja. 

Apalagi sampai berpuas diri dengan semua torehan prestasi yang telah diraihnya, kemudian lupa berbenah diri di tengah perkembangan zaman yang sangat cepat berubah. Memang harus kita akui, banyak sekali prestasi yang diraih oleh Muhammadiyah dalam berbagai bidang, utamanya pendidikan dan kesehatan.

Sudah sejauh mana Muhammadiyah dikenal atau dirasakan kebermanfaatannya di tengah masyarakat pedesaan? Jangan-jangan Muhammadiyah masih dikenal sebagai organisasi Islam yang bersifat eksklusif, tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat urban atau kota. Sungguh sangat miris jika kehadiran Muhammadiyah kurang inklusif di tengah-tengah masyarakat desa yang sering kita sebut sebagai akar rumput (grass root).

Kini Muhammadiyah cukup gemuk dengan berbagai amal usahanya, terutama amal usahanya di bidang pendidikan dan kesehatan. Dari segi kuantitas memang sudah sangat unggul dibandingkan dengan organisasi manapun di dunia. Namun menjadi cukup memprihatinkan ketika bicara kualitas. 

Seberapa banyak amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kesehatan yang menjadi unggulan? Apabila kita cermati, semua sekolah, kampus, rumah sakit atau klinik milik Muhammadiyah ini kualitasnya merata. 

Maksudnya, yang kualitasnya tinggi cukup banyak, yang sedang-sedang banyak, dan yang biasa-biasa aja juga ada. Ini menjadi pekerjaan rumah yang tidak pernah ada habisnya untuk dibahas, tentu tidak selesai sampai dibahas saja tapi perlu aksi nyata guna memperbaiki segala kekurangan yang ada dengan serius.

Tercatat amal usaha Muhammadiyah jumlahnya belasan ribu dan total asetnya mencapai triliunan rupiah. Dari semua amal usaha yang ada, rata-rata masyarakat Indonesia secara keseluruhan mengenal Muhammadiyah melalui amal usahanya di bidang pendidikan dan kesehatan. 

Hal ini dikarenakan amal-amal usaha Muhammadiyah yang sangat mudah dijumpai dan kehadirannya benar-benar terasa bagi masyarakat seperti adanya sekolah-sekolah Muhammadiyah dari TK hingga SMA/K dan perguruan tinggi Muhammadiyah, serta Rumah Sakit Islam PKU Muhammadiyah atapun klinik.

Muhammadiyah Bukan Hanya Pendidikan dan Kesehatan

Memang benar bahwa tolok ukur kemajuan ekonomi dan kesejahteraan adalah pendidikan dan kesehatan, sementara hal lainnya adalah indikator penunjang. Artinya, amal usaha Muhammadiyah yang tersebar hampir di seluruh daerah Indonesia adalah aset yang sangat strategis dan penting. Ranah dakwah Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kesehatan adalah pilihan yang sangat tepat dan cermat.

Tetapi perlu untuk diingat bahwa Muhammadiyah itu bukan hanya soal pendidikan dan kesehatan. Masih banyak bidang lain yang belum digarap Muhammadiyah, jadi tidak perlu berbangga diri secara berlebihan dan jalan di tempat dengan gemuknya amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kesehatan. 

Pendidikan adalah fondasi untuk melahirkan SDM unggulan yang kelak harus diproyeksikan untuk meluaskan sayap dakwah Muhammadiyah bidang ekonomi, industri dan sektor lainnya. Upaya ekspansi dakwah Muhammadiyah harus dipetakan agar kader-kader Muhammadiyah yang telah didik dan dibina menjadi anak panah Muhammadiyah yang siap melesat jauh ke pelosok-pelosok desa dan menjadi pelopor kemajuan di desanya (problem solver). 

Barangkali ini menjadi pekerjaan rumah Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Majelis Perguruan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang), dan MPK (Majelis Pendidikan Kader), sebab beda generasi beda orangnya, model pendidikan dan perkaderan perlu disesuaikan dengan konteks zaman yang cepat berubah ini agar Muhammadiyah tidak terdisrupsi, dan agar kader Muhammadiyah mampu membaca tanda perubahan dan menangkapnya dengan tepat.

Setelah Pendidikan, Lalu Apa?

Menurut Sofyan Sjaf (Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB), spirit tajdid yang dimiliki Muhammadiyah belum menyentuh dan meneropong subyek kekuatan umat dan bangsa ini, yakni desa. Walaupun Muhammadiyah sampai hari ini mampu berselancar di atas agenda-agenda keumatan dan kebangsaan yang begitu dinamis. Dengan meletakkan pendidikan dan kesehatan sebagai basis amar ma’ruf nahi munkar, Muhammadiyah berhasil mencetak puluhan juta sumber daya manusia.

Kepedulian Muhammadiyah terhadap desa tidak sekadar ditandai dengan hadirnya jejaring Muhammadiyah hingga ke tingkat desa atau ranting, melainkan sejauh mana Muhammadiyah memahami konteks desa dan memiliki strategi dalam penyelesaian persoalan yang dihadapi desa. Ini menjadi tantangan untuk Muhammadiyah ke depan, selain fokus pada amal usaha di bidang pendidikan dan kesehatan.

Terdapat lima pemahaman konteks desa terkait kehidupan keumatan dan kebangsaan yang bisa dielaborasi Muhammadiyah (Sjaf, 2019). Adapun lima pemahaman yang dimaksud: pertama, desa adalah tempat produksi dan reproduksi pangan. Sebanyak 73,14 persen dari total desa dan kelurahan di Indonesia adalah desa-desa bertipologi pertanian. 

Namun sangat disayangkan, komoditi pangan (seperti: beras, gula, jagung, dan lain-lain) masih bergantung dengan impor hingga saat ini; kedua, desa-desa bertipologi pertanian tersebut identik dengan desa tertinggal. Secara spasial, sebaran desa-desa tertinggal tersebut memiliki persentase terbesar di kawasan timur Indonesia.

Ketiga, desa masih menjadi kantong kemiskinan. Sebesar 14–20 persen kantong kemiskinan di pedesaan terkosentrasi di kawasan timur Indonesia dengan subyek kemiskinan adalah golongan muda (White, 2011); keempat, desa sebagai penghasil pangan menentukan soal hidup–matinya bangsa Indonesia. 

Minimnya pengembangan inovasi dan teknologi inklusif terkait pangan rakyat menyebabkan desa tidak memiliki kemampuan memproduksi dan mereproduksi pangan untuk kebutuhan masyarakat; dan kelima, menguasai pangan berarti menguasai politik, ekonomi, dan sosial. Ke depan, pangan akan menjadi faktor determinan sebagai sumber konflik sekaligus sebagai instrumen tertib sosial.

Kelima konteks tentang desa tersebut, memberi isyarat bahwa Muhammadiyah yang memiliki puluhan juta kader yang tersebar di pelosok-pelosok desa di negeri ini harus didorong menjadi kader inovator yang memiliki kemampuan mencerahkan warga desa. 

Tentunya hal ini harus dikoordinasikan dengan baik. Dalam hal pemberdayaan masyarakat desa tentu Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) menjadi tombaknya dan dibantu oleh Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) untuk memetakan potensi ranting dan cabang.

Tajdid desa perlu disegerakan Muhammadiyah, karena: pertama, hadirnya kepercayaan dari pelaku pembangunan desa bahwa pendekatan westernisasi mampu memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi warga desa; kedua, dominannya orientasi pelaku pembangunan desa yang menempatkan negara-negara maju sebagai kiblat kesejahteraan dan kemakmuran warga desa; dan ketiga, kapitalisme (isme sejenis) dan bermitra dengan dunia barat, masih diyakini pelaku pembangunan desa sebagai pembawa kemajuan (Sjaf, 2019).

Hingga 1 abad lebih Muhammadiyah telah mengisi masyarakat Indonesia dengan pendidikan atau mencerdaskan kehidupan bangsa. Amal usaha di bidang pendidikan dan kesehatan sudah cukup gemuk, kini Muhammadiyah perlu untuk mendorong anak bangsa produk didikannya bergerak di bidang ekonomi dan pemberdayaan umat dengan memanfaat potensi sumber daya alam yang ada di desa. Desa harus menjadi basis gerakan dakwah Muhammadiyah dan masyarakat merasakannya dengan keberadaannya.

Kurikulum pendidikan Muhammadiyah diharapkan juga mendorong anak didik atau mahasiswa memiliki jiwa entrepreneur dan siap membangun daerahnya. Untuk menyiapkan kader-kadernya yang siap untuk diterjunkan ke desa-desa, Muhammadiyah perlu membangun sekolah pembaruan desa. Langkah atau upaya ini sebenarnya sudah dilakukan oleh Muhammadiyah, namun yang membedakannya adalah sekolah pembaruan desa lebih bersifat pendidikan vokasi informal yang mampu menjawab kebutuhan-kebutuhan warga desa dengan cepat.