85377_51468.jpg
Budaya · 6 menit baca

Muhammadiyah dan NU Membangun Bangsa

Siapa yang tidak mengenal Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU), yang sampai detik ini dengan konsisten terus berkhidmat bagi umat dan bangsa?

Muhammadiyah dan NU merupakan dua organisasi terbesar sekaligus tertua yang sampai hari ini masih terus eksis di tengah masyarakat Indonesia. Perubahan zaman tidak membuat dua organisasi ini menjadi punah dan terbelakang karena usia yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun. 

Sebaliknya, eksistensi keduanya terus terlihat hingga ke pelosok dunia. Bahkan sangat sering dijadikan sebagai tempat untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan agama, negara dan bangsa oleh individu atau kelompok besar seperti pemerintah.

KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang sekaligus pahlawan nasional, dikenal sebagai orang yang memiliki pemikiran cerdas yang menyukai aksi. Melalui pemikiran-pemikiran cerdas beliaulah Muhammadiyah mampu berdiri dan bertahan lama hingga seabad lamanya. Spirit keagamaan yang dibawa oleh Kiai Dahlan dipadukan dengan kehidupan sosial masyarakat.

Selain fokus pada dakwah pemurnian akidah, Muhammadiyah juga berfokus pada pembinaan masyarakat di berbagai aspek kehidupan. Tujuannya adalah untuk mengentaskan persoalan-persoalan yang dialami oleh masyarakat, baik itu persoalan dalam segi ekonomi, pendidikan, kesehatan maupun persoalan politik.

Oleh karenanya, tidak heran jika Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi kemanusiaan, karena gerakan kemanusiaan yang dilaksanakan selalu konsisten. Perannya dalam bidang kemanusiaan sudah terbukti sejak Muhammadiyah lahir di Yokyakarta 104 tahun silam.

Tidak berbeda dengan Muhammadiyah, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdatul ‘Ulama  (NU) sebagai media menyebarkan ajaran Islam ke masyarakat sesuai dengan apa yang didapatkan sewaktu menimba ilmu di Mekkah bersama Kiai Dahlan.

Melalui pendekatan seni dan kebudayaan yang dimiliki bangsa ini, dimodifikasi sedemikian rupa agar tidak bertentangan dengan ajaran agama yang disampaikan kepada masyarakat yang masih kental dengan pemahaman Hindu dan Budha. Melalui gerakan dakwah inilah NU menjadi organisasi yang memiliki anggota terbanyak di Indonesia.

Banyak orang yang sering membedakan kedua organisasi ini, khususnya pada persoalan fundamental, seperti pemahaman keagamaan. Padahal, jika kita menelaah sejarah, perbedaan keduanya hanya terletak pada pendekatan dakwah yang dijalankan selama ini. Hal inilah yang kadang memicu munculnya penilaian yang negatif terhadap dua organisasi ini. Bahkan, tidak hanya pihak dari luar organisasi ini, melainkan juga anggotanya sendiri. 

Oleh karena itu, sangat penting bagi tiap anggota untuk memahami sejarah dari lahirnya dua organisasi ini, yang pada hakikatnya memiliki tujuan yang sama, yaitu membumikan ajaran Islam yang sebenar-benarnya di bumi Indonesia sebagaimana dengan ajaran yang dibawa oleh rasulullah SAW. Keikhlasan dua tokoh bangsa ini sudah membuktikan besarnya kepedulian mereka terhadap kondisi bangsa Indonesia.

Muhammadiyah dan NU telah banyak berperan penting terhadap kokohnya kelangsungan hidup bangsa hingga hari ini. Meskipun dalam beberapa kurun waktu ini, beberapa kelompok ekstremis sering terjadi gejolak untuk menggoyangkan kekokohan bangsa, tapi pada akhirnya peran Muhammadiyah dan NU mampu meredamnya.

Keterlibatan keduanya tidak hanya pada aspek keagamaan saja, melainkan aspek-aspek kemanusiaan. Mereka juga terlibat dan berkontribusi penuh di dalamnya, termasuk menjaga kesatuan dan persatuan. 

Menjaga sebuah negara sudah menjadi tugas yang wajib untuk dijalankan sebaik-baiknya oleh siapa pun, termasuk Muhammadiyah dan NU. Oleh karena itu, keduanya tidak pernah absen dalam membela dan mempertahankan kehidupan bangsa ini.

Tidak hanya itu, dampak Pilkada DKI Jakarta yang memunculkan banyaknya tindakan diskriminasi terhadap kelompok-kelompok tertentu juga sempat menjadi trending topic di berbagai media. Jika dibiarkan, maka potensi munculnya tindakan radikalisme akan sangat besar dan tentu akan mengakibatkan kerugian yang tentu besar juga.

Sekali lagi, Muhammadiyah dan NU hadir dengan gagah untuk membendung peristiwa itu, dengan ajakan-ajakan melalui media sosial, media massa, dan forum-forum rakyat. Keduanya menyampaikan bahwa kebinekaan di negeri ini harus dijaga dan dilestarikan. Perbedaan merupakan keniscayaan. Tanpa adanya saling mengasihi dan menghargai antarsatu dengan yang lainnya, akan sulit membangun sebuah persatuan.

Negara ini berhasil dibangun berkat adanya persatuan dari semua golongan yang ada di negeri ini. Mereka bersatu agar tidak menjadi bangsa yang terus-terusan dijajah oleh bangsa lain. Tanah ini berdiri berkat perjuangan yang dilakukan secara bersama-sama tanpa mengistimewakan kelompok tertentu. Perihal inilah yang kemudian coba untuk ditanamkan kepada masyarakat agar tidak terus-menerus berkelahi dengan saudara sebangsanya sendiri. 

Memberikan edukasi kepada masyarakat luas di forum-forum pendidikan, majelis ta’lim, ceramah-ceramah agama dan lain sebagainya menjadi langkah yang diambil kedua organisasi ini agar masyarakat tidak larut dan terjerumus dalam pemikiran dan tindakan radikalisme.

Perhatian yang tulus yang diberikan oleh kedua organisasi ini sudah jadi bukti nyata bahwa keduanya lahir dan hadir untuk kemaslahatan umat dan bangsa ini. Tanpa harus memandang siapa dan dari mana asalnya, siapa pemimpinnya dan seberapa kuat pengaruhnya bagi orang lain.

Organisasi ini telah merealisasikan pemahaman mengenai persatuan dan kesatuan yang tidak hanya sebatas argumentasi saja, melainkan sudah dalam bentuk tindakan nyata yang terlihat di berbagai praktik yang dilaksanakan dalam mengatasi peristiwa yang terjadi hingga hari ini. Ini menjadi pondasi yang kuat bagi keduanya untuk tetap konsisten menjaga kekokohan bangsa hingga hari.

Indonesia merupakan negara yang sangat beruntung. Muhammadiyah dan NU merupakan permata yang tidak bernilai jika dibandingkan dengan yang lainnya. Keduanya  pun mampu menjadi pilar bagi bangsa ini dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Di tengah polemik masyarakat atas banyaknya penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh sekelompok orang atau pemerintah, yang hanya mementingkan diri sendiri. mampu diatasi oleh dua organisasi ini.

Sebagai contoh, bulan April yang lalu, para nelayan sangat khawatir dengan kondisi perekonomian mereka karena adanya kebijakan pemerintah yang merugikan para nelayan. Di sana Muhammadiyah hadir dengan tujuan mengadvokasi keluhan masyarakat tersebut agar tidak timbul tindakan yang merugikan rakyat dan pemerintahan Indonesia.

Muhammadiyah dan NU sejatinya adalah pilar bangsa dalam membangun persatuan di negeri ini. Tanpa keduanya, pemerintah tidak akan mampu berbuat banyak untuk merealisasikan amanat para pendahulu dalam menjaga negeri ini sebagaimana yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, agar tetap menjadi milik bangsa Indonesia. 

Apalagi dengan semakin banyaknya polemik yang terjadi akhir-akhir ini. Muhammadiyah dan NU, tanpa harus diminta langsung oleh pemerintah, telah mendedikasikan diri untuk menjaga persatuan di negeri ini. Nasionalisme kedua organisasi ini telah terbukti mampu menjaga persatuan bangsa selama 72 tahun sejak merdeka.

Tidak hanya pada aspek persatuan sebagai fondasi kekokohan suatu bangsa dan negara, di aspek yang lain seperti pendidikan, Muhammadiyah dan NU juga memberikan kontribusi agar pendidikan kepada masyarakat terus berjalan demi mewujudkan pendidikan yang mmudah. Didirikannya sekolah-sekolah dan pesantren-pesantren sebagai tempat belajar bagi siapa pun sudah bukan barang baru bagi kedua organisasi ini. 

Keduanya memang dikenal sebagai organisasi yang menempatkan pendidikan di tempat yang tinggi. Tanpa pendidikan, bangsa ini tidak akan keluar dari kebodohan dan kejumudan dan akan terus menjadi masyarakat yang bermental terjajah. Terjajah selama 350 tahun tentu sangat berpengaruh pada kondisi mental masyarakat Indonesia.

Munculnya sikap untuk terus bergantung, merasa bodoh, dan berkarakter terjajah atau budak adalah dampak dari adanya penjajahan. Hal ini yang kemudian coba untuk dihilangkan oleh Muhammadiyah dan NU agar dalam berbangsa dan bernegara, Indonesia bisa sejajar dengan negara lain yang jauh lebih maju di segala bidang kehidupan.

Ketika masyarakat masih bermental terjajah, maka kemajuan yang dicita-citakan akan sangat mustahil untuk diwujudkan. Karena masyarakat dengan mental yang seperti itu hanya akan memunculkan pribadi yang memiliki etos kerja yang buruk, mudah diperbudak, dan hidup tidak terarah karena selama hidupnya diarahkan oleh orang lain.

Kondisi ini bisa dipelajari melalui kisah Nabi Musa yang mendidik umatnya selama 40 tahun lamanya agar lepas dari mental budaknya. Terhitung ada dua generasi yang dilewati oleh Nabi Musa untuk membebaskan umatnya dari mental tersebut. Dibutuhkan waktu yang lama agar umat Nabi Musa menjadi orang terdidik. Inilah salah satu alasan Muhammadiyah dan NU begitu peduli dengan pendidikan.

Menjadikan pendidikan sebagai proyek jangka panjang harus diprioritaskan, meskipun dengan perjuangan yang luar biasa dan penuh pengorbanan. Kiai Dahlan pun pernah dikatakan kafir oleh ulama Kauman karena membangun sekolah yang meniru sistem pendidikan yang dijalankan pemerintah Belanda waktu itu.

Hadirnya Muhammadiyah dan NU hingga hari ini telah mengokohkan fondasi negeri ini. Muhammadiyah dan NU juga menjadi bagian yang mencatatkan diri sebagai organisasi yang mampu membuat warna bagi bangsa dan negara dibandingkan dengan organisasi lain yang hanya fokus pada kepentingannya masing-masing. 

Pemandangan tersebut bisa dilihat di sekitar kita saat bercengkrama dengan masyarakat. Kebanyakan dari mereka dalam beberapa urusan besar di negeri ini hanya terdengar Muhammadiyah dan NU saja, terlebih lagi dalam urusan keagamaan.

Tidak bisa dibayangkan bagaimana kondisi negara tanpa kehadiran dua organisasi terbesar dan tertua ini di tengah-tengah masyarakat itu. Hal ini tidak lepas dari peran dua tokoh nasional, yaitu Kiai Dahlan dan Kiai Hasyim yang begitu antusias dan tulus untuk membangun bangsa ini menjadi bangsa yang baldatun tayiibatun warbbun ghofuur.

Oleh karena itu, negara pada hari ini harus memahami betul peran kedua organisasi ini, agar tidak terus membabi buta dalam menyikapi sebuah persoalan, khususnya persoalan yang menyinggung kepancasilaan yang beberapa hari ini sangat santer dipersoalkan oleh banyak kalangan.