Barangkali kita lebih mengenal Muhammad Yamin (M. Yamin) sebagai negarawan, politikus, dan tokoh intelektual daripada sebagai sastrawan. Kenyataannya M. Yamin memang terkenal sebagai tokoh pergerakan kebangsaan Indonesia. Selain itu, M. Yamin juga dikenal sebagai tokoh yang memberikan sumbangan yang tidak kecil dalam pendirian dan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

M. Yamin juga pernah menduduki berbagai jabatan penting dalam kabinet pemerintahan dan jabatan penting lainnya, seperti Menteri Kehakiman, Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, Ketua Dewan Perancang Nasional, dan Kepala Dewan Pengawas Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara.

Akan tetapi, jika kita menguak perjalanan sejarah pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia, kita tidak bisa melewatkan begitu saja peranan M. Yamin. Peranannya sangat besar karena ia telah dianggap oleh masyarakat sebagai pelopor, perintis, dan pemula bentuk soneta dalam kesusastraan Indonesia, di samping sastrawan Rustam Effendi.

M. Yamin lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, pada 23 Agustus 1903 dan meninggal dunia di Jakarta pada 17 Oktober 1962. Ia berasal dari keluarga kelas menengah dan termasuk dalam keluarga bangsawan lokal. Pamannya seorang laras (kepala distrik). Meskipun keponakan seorang laras yang dekat kepada adat, tidak satu pun tulisan-tulisannya berkaitan dengan itu.

Ia pernah bersekolah di sekolah desa dan Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Sejak tahun 1919 ia menjadi anggota organisasi pemuda Jong Sumatera Bond. Ia juga pernah menjadi guru sambil bersekolah di Sekolah Dokter Hewan di Bogor. Pada tahun 1927 ia melanjutkan sekolahnya di Algemeene Middelbare School (AMS) di Yogyakarta. 

Ia menyelesaikan pendidikannya di Perguruan Tinggi Hukum di Jakarta dan memperoleh gelar Mr. In de Rechten atau sarjana hukum pada tahun 1932. Minatnya terhadap hukum adat di Indonesia, sosiologi dan hukum internasional, bahasa, sejarah, dan kebudayaan timur sangat besar.

Pekerjaan dan karirnya terus menanjak. Semula menjadi advokat dan pengacara di Jakarta hingga tahun 1942. Pada zaman pendudukan Jepang ia sempat menjadi penasihat Sendendu-Sendenka di Jakarta dan duduk dalam Majelis Pertimbangan Putera. 

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, ia menjadi anggota parlemen, anggota Dewan Konstituante, dan beberapa kali menjadi menteri. Pada tahun 1926 – 1928 ia menjadi Ketua Pengurus Besar Jong Sumatera Bond. Tahun 1928 ia menjadi Ketua Besar Indonesia Muda. Dari tahun 1932 hingga tahun 1938 ia menjadi Ketua Besar Partindo. Karena jasa-jasanya, ia memperoleh Bintang Maha Putra Kelas I dari negara.

M. Yamin dan Bahasa Indonesia

Pada masa mudanya M. Yamin terkenal karena hasil karya Sastra Melayu yang menjadi dasar Bahasa Indonesia. Bahaya Melayu baginya merupakan bahasa nasional. Bahkan sejak ia masih duduk di sekolah lanjutan ia selalu mendesak sekolah-sekolah sahabatnya dan orang-orang Indonesia lainnya yang berpendidikan Belanda agar mereka meninggalkan bahasa Belanda dan memilih bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi mereka.

Dalam memandang masa depan M. Yamin membayangkan rasa syukur dari para anak dan cucu generasinya atas segala jerih payah nenek moyang mereka jikalau mereka berhasil mengembangkan bahasa Melayu. Karya-karya sastra yang bermutu tinggi akan menjadikan bangsanya termasyhur  dan menjadikan bangsa itu jaya. Hal ini tercermin dalam puisinya “Bahasa, Bangsa”.

BAHASA, BANGSA

                   Was du erebt von demen Vater hast,

                Erwirb es un zu besifze. (Gorthe)

Selagi kecil berusia muda,

Tidur si anak di pangkuan bunda.

Ibu menyanyi, lagu dan dendang

Memuji si anak banyaknya sedang;

Berbuai sayang malam dan siang

Buaian tergantung di tanah mayang.

Terlahir di bangsa, berbahasa sendiri

Diapit keluarga kanan dan kiri

 Besar budiman di tanah Melayu

Berduka suka, sertakan rayu;

Perasaan terikat menjadi padu

Dalam bahasanya, permai merdu.

Meratap menangis bersuka raya

Dalam bahagia bala dan baya;

Bernafas kita panjangkan nyawa

Dalam bahasa sambungan jiwa

Di mana Sumatera, di situ bangsa,

Di mana Perca di sana  bahasa.

Andalasku sayang jana bejana

Sejak kan kecil muda teruna

Sampai mati berkalang tanah

Lupa ke bahasa, tiada kan pernah;

Ingat pemuda, Sumatera hilang

Tiada bahasa, bangsa pun hilang.

Kalangan yang sudah mengenyam pendidikan Belanda merasa pelik menanggapi ajakan M. Yamin. Ia menyampaikan suatu pertimbangan yang lebih terinci demi pengakuan bahasa nasional. Ia menyuguhkan tema, khususnya dalam pidato utamanya di depan Kongres Pemuda II pada tahun 1928 bahwa bahasa memiliki pengaruh yang penting terhadap persatuan nasional.

Ia mengaku bahwa persatuan negara Swiss tidak membutuhkan bahasa yang sama, tetapi dengan jumlah ratusan bahasa yang terdapat di seluruh kepulauan Indonesia, bahasa persatuan amat esensial sifatnya. Bahasa Melayu telah meningkatkan posisinya sebagai bahasa nasional Bahasa Indonesia. 

Yamin berpendapat bahwa Bahasa Indonesia telah menjadi salah satu cermin kesatuan bangsa Indonesia. Dengan penuh keyakinan ia menggambarkannya sebagai lumbung bagi peradaban baru pada masa depan, peradaban Indonesia.

M. Yamin dan Puisi

Puisi-puisi lirik banyak lahir dari tangan M. Yamin. Puisi tersebut sebagian besar bertemakan cinta dan nyanyian pujaan terhadap tanah air dan bangsanya. Seperti halnya pada puisi-puisi Rustam Effendi, Asmara Hadi, dan Sanusi Pane puisi-puisinya memandang kemerdekaan sebagai sesuatu yang dirindukan, jauh, dan sayup-sayup. 

Mungkin ada keinginan di dalamnya, tetapi belum terlihat perjuangan dan sikap  yang menyertainya. Keinginan hanya terlihat pada hasrat yang besar untuk mengemukakan cita-cita yang lebih bersifat kolektif atau suara bersama.

Jika kita membaca puisi-puisi M. Yamin tampak tidak ada usaha pendobrakan dalam sikap maupun dalam pengungkapan dan struktur puisi. Tema-tema yng diungkapkannya adalah sesuatu yang tidak biasa kita jumpai dalam khazanah sastra Melayu. Bentuk puisinya yang sembilan-seuntai bukanlah betuk yang lazim. 

Agaknya inilah sebabnya mengapa ia memilih bentuk soneta yang masih terikat dalam pengungkapan puisi-puisinya. Itu sebabnya tidaklah mengherankan jika puisi-puisinya terkesan adanya unsur pantun yang kongkret.

M. Yamin telah menghasilkan buku kumpulan puisi Tanah Air, Bande Mataram,. dan Indonesia Tumpah Darahku. Sebagai gambaran ada baiknya kita nikmati sebuah puisi berbentuk soneta berjudul “Gembala” berikut ini.

GEMBALA

Perasaan siapa tidak kan nyala

Melihat anak berlagu dendang

Seorang sahaja di tengah padang

Tiada berbaju buka kepala

Beginilah nasib anak gembala

Berteduh di bawah kayu nan rindang

Semenjak pagi meninggalkan kandang

Pulang ke rumah di senja kala

Jauh sedikit, sesayup sampai

Terdengar olehku bunyi serunai

Melagukan alam, nan molek permai

Wahai gembala di segara hijau

Mendengar puputan, menurutkan kerbau

Maulah aku menurutkan dikau

M. Yamin dan Karya Lainnya

Selain menghasilkan karya sastra bergenre puisi, M. Yamin juga menulis karya sastra drama, buku-buku non-sastra, dan menerjemahkan karya sastra asing. Buku-bukunya yang berbentuk drama adalah Ken Dedes dan Ken Arok dan Kalau Dewi Tara Berkata. Karyanya yang berbentuk sejarah adalah Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara dan Sejarah Peperangan Dipanegara.. 

Buku-buku M. Yamin nonsastra adalah Sapta Darma, Revolusi Amerika, Kedaulatan Indonesia atas Irian Barat, Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia, Kebudayaan Asia Afrika, Konstituante Indonesia dalam Gelanggang Demokrasi, dan 6000 Tahun sang Merah Putih.

Karya M. Yamin lainnya berbentuk terjemahan. Ini adalah Julius Caesar dan Romeo dan Juliet  yang dalam bahasa aslinya merupakan buah tangan pengarang Inggris terkenal, William Shakespeare. Buku karya sastra drama karya Rabindranath Tagore diterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia menjadi Di Dalam dan Di Luar Lingkungan Rumah Tangga dan Menanti Surat dari Raja.

Dalam lakon Ken Dedes dan Ken Arok yang ditulis pada saat upacara Kongres Pemuda II 1928 M. Yamin mengungkapkan rasa kebangsaan Indonesia walaupun tidak secara radikal. Karya romantik yang menggunakan cara merenungi masa lampau ini sengaja dilakukannya untuk menghindari perlakuan dan tekanan keras dari penjajah Belanda.

Naskah drama Ken Dedes dan Ken Arok menggambarkan keberhasilan Ken Arok dalam menyatukan dua kerajaan pada abad ke-13. Kerajaan Jenggala dan Kediri menjadi satu  negara sehingga terbuka jalan bagi Majapahit yang jaya. Drama ini cukup sukses karena sudah dipentaskan 33 kali hingga tahun 1950 sejak pertama kali dipentaskan pada malam kesenian Indonesia Muda di Jakarta pada 27 Oktober 1928.

Dalam buku Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara dan Sejarah Peperangan Dipanegara terlihat pandangan M. Yamin yang mengabadikan sejarah sebagai usaha mewujudkan cita-cita Indonesia Raya. Dengan fantasi seorang pengarang roman dan dengan bahasa yang liris, ia berusaha mengemukakan tolok ukur tokoh sejarah Indonesia. 

Ia mengelu-elukan tokoh Gajah Mada patih Majapahit sebagai tokoh pemersatu Nusantara yang paling cakap. Selain itu, ia juga mengangkat tokoh Dipanegara sebagai pahlawan yang melawan ambisi kolonial Belanda, sekaligus sebagai tokoh pemersatu Indonesia yang potensial.

Dalam buku 6000 Tahun Sang Merah Putih M. Yamin mengemukakan bahwa dwiwarna atau warna merah dan putih telah dihormati oleh bangsa Indonesia Purba, yaitu sejak perpindahan mereka dari Asia Tenggara melalui Semenanjung – Sumatera dan Filipina – Sulawesi. 

Menurutnya, sejak perpindahan dari Asia Tenggara mereka telah menghormati warna merah putih, warna merah menggambarkan matahari dan warna putih menggambarkan rembulan. Sejak zaman itulah asal muasal penghormatan Aditiacandera yang bertebaran di Nusa Indonesia serta di seluruh Kepulauan Austronesia di Lautan Indonesia dan lautan Pasifik.

Demikianlah, M. Yamin mengakui keberadaan Indonesia sebagai rakyat dan bangsa yang satu. Kehadiran bahasa Melayu sebagai lingua franca, yang kemudian ditingkatkan posisinya sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesia, merupakan cermin identitas bangsa. 

M. Yamin telah memberikan sumbangan yang tidak kecil terhadap perkembangan bahasa nasional dengan jalan mengekspresikan dirinya dengan menggunakan Bahasa Indonesia dalam berbagai karyanya. Walaupun ia pada tahun-tahun terakhirnya dalam berkarya banyak diilhami oleh literatur Jawa dan kerajaan Hindu pada masa lampau, ia telah memberikan pengaruh yang dapat dirasakan dalam pertumbuhan dan perkembangan bahasa nasional.