Baru tanggal 28 Mei 2019, sudah terlihat kendaraan mobil dengan barang-barang di atapnya melintas. Begitupula dengan motor bermuatan abnormal, berkecepatan sedang meninggalkan Ibukota. Salah-satu pemudik bermotor menempelkan print kertas HVS ukuran A4 yang dilaminating. Ditempelkan di bagian belakang di tumpukan kardus bawaannya, bertuliskan "Purworejo." 

Ia sengaja menempelkannya karena alasannya bisa bertemu teman searah di jalan kelak. Ia melakukannya berdasarkan pengalaman mudik sebelumnya.

Cuti bersama PNS telah ditetapkan pemerintah 3 - 7 Juni 2019. Untuk swasta, ada yang mengikuti penetapan tersebut atau lebih cepat atau diperpanjang berikut cuti bersama. Dan seperti biasa, saat tradisi mudik berlangsung, DKI Jakarta menjadi sunyi senyap sesaat. Kemacetan harian menjadi lengang. Hanya akan ramai di pusat-pusat perbelanjaan dan tempat hiburan.

Bisnis dan perekonomian makro dipengaruhi oleh fenomena sosial. Mudik merupakan bagian dari fenomena sosial yang sangat berpengaruh pada iklim ekonomi Indonesia.

Mudik artinya pergi ke udik, atau pulang ke udik. Udik sendiri mengacu pada suatu daerah atau wilayah hulu yang jauh di pegunungan atau pedalaman. Artinya udik adalah kawasan pedalaman, pedusunan, pedesaan, atau perkampungan. Definisi ini sempat dipresentasikan Dosen FIB UI Maman S. Mahayana di International Conference of Law and Culture in South East Asia, 13 Juli 2011 silam.

Pemudik sendiri artiya orang udik yang pulang ke kampungnya. Pada kelanjutannya, istilah pemudik berlaku bagi orang kota besar selain Jakarta yang notabene tidak lagi mukim di udik pedalaman. Misalnya orang Surabaya bekerja di Jakarta, orang Semarang bekerja di Lampung. Dan seterusnya.

Mudik lahir dari problem sosial akibat sistem pemerintahan yang sentralistik dengan Jakarta sebagai pusat segala-galanya. Fenomena mudik dikaitkan dengan Lebaran, terjadi tradisinya pada awal pertengahan dasawarsa 1970-an ketika Jakarta tampil sebagai kota besar satu-satunya di Indonesia yang mengalami kemajuan luar biasa.

Jakarta kala itu di bawah kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin, berhasil menyulapnya sebagai kota metropolitan. Bak magnet, Jakarta seketika menjadi pusat orientasi sosial, budaya, politik, dan pemerintahan.

Orang-orang di luar Jakarta melihat kota metropolitan tersebut seperti ujung pelangi yang tersimpan harta karun. Orang udik yang tak beruntung di kampungnya, dan berbekal keterbatasan skill dan pengetahuannya, nekad memijakkan kaki di Jakarta untuk memperoleh keuntungan. Motif terbesar para orang udik yang populer disebut kaum urbanis, 80%-nya bercita-cita mendapatkan pekerjaan di Jakarta.

Bangga Jadi Orang Jakarta

Setengahnya kaum urban pada awal tradisi mudik dimulai, adalah masyarakat tidak terdidik atau setengah terdidik. Jadi, secara sosiologis, mereka adalah kelompok masyarakat menengah ke bawah yang secara kultural satu kakinya berada di kampung halaman dan satu kakinya lagi enggan berada di Jakarta.

Tak terlegitimasinya sebagai penakluk Jakarta, dihibur dengan status penghuni Jakarta atau orang Jakarta. Yang dimaksud penakluk Jakarta adalah orang yang berhasil mencapai kemapanan yang diharapkan dan rajin memberikan kontribusi pada daerahnya.

Contohnya saja, pemilik Warung Tegal di Jakarta. Meski hidup dalam ruangan warung yang kecil serta hidup mengontrak, ia rajin mengirim uang perolehannya ke kampungnya dan membangun rumah sendiri, membeli sawah, dan meng-upgrade status sosialnya di level kampungnya. 

Fakta penjual warteg ini bisa Anda temui di Desa Sidakaton, Desa Sidapurna, Desa Cabawan dan Krandol. Desa-desa mencetak pedagang-pedagang warteg di Jakarta, memiliki rumah-rumah besar bak rumah di Pondok Indah.

Nasib sepenanggungan dilakukan oleh Paguyuban Pedagang Bakso Wonogiri. Keberhasilan satu orang menaklukkan Jakarta, menjadi keberhasilan lainnya. Budaya “ikut jualan” masih kental terjadi pada pendatang dari daerah ini. 

Paguyuban tersebut selain menjadi wadah silaturahmi, menghimpun pula penggalangan dana untuk kebutuhan luar biasa anggotanya. Jika tak ada tradisi mudik, kampung tempat mereka tinggal seperti kehilangan Kepala Keluarga (KK) inti, sebab waktu terbanyaknya bernafkah di Jakarta.

Atau jika penasaran bagaimana keberhasilan perantau menaklukkan Jakarta, datang saja ke kaki Gunung Galunggung, berdekatan dengan Cibodas, Garut. Di situ ada Desa Kiarajangkung, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya. Desa tersebut terkenal dengan Kampung Miliader WC Umum. 

Penduduknya memilih merantau ke Jakarta atau kota-kota lain di Pulau Jawa, menunggu dan membersihkan wc umum. Bisnis yang dipandang sebelah mata ini bagi yang tak menginginkan “pekerjaan kotor” menjadi ladang emas yang menyejahterakan warga asal desa tersebut.

Cerita di atas adalah sekelumit fakta dari sekian fakta Jakarta dihuni dan hidup dari kaum udik yang akan merayakan kepulangannya dengan membawa perolehannya di Jakarta.

Menurut konsep Hirarki Kebutuhan Individu Abraham Maslow, manusia didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal dan dibawa sejak lahir. Kebutuhan itu tersusun menjadi tingkatan-tingkatan terendah sampai tertinggi. 

Kebutuhan paling rendah dan paling kuat harus dipuaskan terlebih dahulu sebelum muncul kebutuhan tingkat selanjutnya. Kebutuhan paling tinggi dalam hirarki kebutuhan individu Abraham Maslow adalah Aktualisasi Diri.

Prasyarat untuk mencapai aktualisasi diri adalah memuaskan empat kebutuhan yang berada dalam tingkat yang lebih rendah: 1. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis, 2. kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman 3. kebutuhan-kebutuhan akan memiliki dan cinta 4. kebutuhan-kebutuhan penghargaan. Hingga akhirnya mencapai kebutuhan terakhir: Aktualisasi Diri.

Fenomena sosial mudik terbilang spesial karena ada yang berprinsip sebelum kebutuhan akan aktualisasi diri terpenuhi, mereka tidak akan pulang kampung. Tetapi juga tak sedikit yang belum mencapainya, nekad pulang dengan dana seadanya karena alasan rindu kampung halaman, orangtua, atau bahkan pesimistik. 

Fakta sosial itu bisa disaksikan dari masa ke masa lewat liputan mudik di media massa, dimana masyarakat rela berdesak-desakan dalam angkutan, bermacet ria di jalan demi demi hasrat untuk pulang ke kampung halaman.

Berdasarkan data Sistem Informasi Angkutan & Sarana Transportasi, jumlah pemudik hingga H+9 Idulfitri 1439 Hijriah (2018 lalau) mencapai 20,86 juta. Jumlah tersebut terdiri dari penumpang angkutan udara sebanyak 5,39 juta dan angkutan kereta api sebesar 5,13 juta.

Untuk angkutan jalan 4,48 juta, angkutan penyeberangan 4,4 juta, dan angkutan laut 1,44 juta. Jumlah ini belum ditambah pemudik menggunakan kendaraan pribadi (motor dan mobil).

They are very much attached to their lands. Masyarakat kita sangat terikat kuat dengan tanah air dan kampung halaman. Pernyataan itu dicetuskan oleh pengamat asing. Dan hal itu menunjukkan masyarakat Indonesia bukan bangsa yang senang berdiaspora. Berbagi dan guyub adalah ciri khasnya.

Selamat mudik. Hati-hati di jalan. Salam untuk keluarga di kampung halaman!