60645_93920.jpg
commons.wikimedia.org
Budaya · 4 menit baca

Mudik Tak Perlu ke Mana-Mana

Pada hari-hari terakhir bulan Ramadan seperti ini, sebagian besar umat muslim tampaknya sudah menginjakkan satu kakinya di perayaan Idul Fitri. Itulah kenapa kita seperti kehilangan keseimbangan untuk tetap tuma’ninah di dalam ibadah Ramadan. Berbagai persiapan lebaran kita lakukan demi tampilan sempurna di mata saudara dan tetangga. Kita juga berbondong-bondong mempersiapkan diri untuk sejenak pulang kampung menikmati syahdunya suasana Idul Fitri.

Kita pasti sering melihat berbagai berita tentang ritual pulang kampung atau mudik setiap menjelang lebaran. Macet, ancaman tindak kejahatan, dan risiko di perjalanan, tidak menyurutkan animo masyarakat untuk tetap melakukan perjalanan mudik. Masyarakat tetap terlihat antusias di tengah berbagai persoalan itu. Mudik sudah ibarat menu wajib bagi kaum urban menjelang berakhirnya bulan Ramadan.

Mudik tetap menjadi sesuatu yang sangat dirindukan di tengah canggihnya teknologi komunikasi. Hal ini membuktikan bahwa kita rindu untuk berkumpul menikmati aroma kampung halaman, yang tidak akan kita dapatkan lewat telepon atau saluran internet. 

Selain itu, mudik juga membawa kita untuk berupaya memaknai kembali kesejatian hidup setelah setahun penuh kita sangat sibuk mencari, menumpuk, dan bahkan takluk pada dunia dengan segala ubo rampe-nya.

Tuhan sepertinya memang sengaja menciptakan manusia dengan kecenderungan sebagai makhluk yang dinamis. Selama hidupnya, manusia tidak akan bisa berdiam diri pada satu tempat atau kondisi. Manusia akan terus bergerak dan berubah dalam koridor ruang dan waktu tertentu. 

Akibat begitu cepatnya arus perjalanan, kita seolah tidak bisa menikmati setiap jengkal peristiwa dalam perjalanan itu. Ketika bulan Sya’ban tiba, kita sudah berucap rindu Ramadan. Ketika Ramadan tiba, kita sibuk mempersiapkan lebaran. Saat Ramadan hendak berlalu, kita sudah merencanakan liburan Idul Fitri. Setelaht Idul Fitri, kita mengeluh karena liburan sudah habis dan esok harus mulai bekerja lagi.

Mudik memiliki sisi makna yang filosofis. Mudik juga memiliki keluasan makna yang sedemikian rupa sehingga penghayatan terhadapnya akan mengantarkan kesadaran kita pada tak terbatasnya perjalanan. 

Mudik banyak diartikan kembali ke udik. Udik berarti desa, kampung, pelosok. Jadi, mudik dapat diartikan kembali ke desa atau kembali ke kampung. 

Pergerakan masyarakat dari desa ke kota atau yang sering kita sebut urbanisasi telah membawa perubahan dalam meningkatnya arus perpindahan manusia. Perpindahan manusia dari kampung halaman menuju ke suatu tempat tertentu, telah memunculkan kebutuhan untuk kembali merasakan kampung halaman. 

Momen lebaran dipandang sebagai waktu yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Momen lebaran dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menengok kembali identitas kultural dan geneologis mereka. 

Setelah setahun berkonsentrasi pada pemenuhan kebutuhan ekonomi, mudik merupakan ajang mobilisasi silaturrahim. Saling menyebar cerita, menyebar kasih sayang, bermaafan dengan saling mengupayakan tersambungnya tali persaudaraan itulah yang kita lakukan. Kita akan dibuat rindu dengan hangatnya nuansa kekeluargaan yang tidak kita temukan di kota.

Pada wilayah yang lebih luas, kita bisa melihat mudik sebagai sarana mempelajari kembali kesadaran religi kita. Kita seringkali lupa dengan tugas khalifah yang sudah kita janjikan kepada Tuhan sebelum kita dilahirkan. Panggung dunia ini telah memberikan banyak noktah hitam pada cermin jiwa sehingga kita tidak bisa lagi merasakan pancaran cahaya Tuhan. 

Mudik di wilayah spiritual mampu mengajarkan kepada manusia untuk mengembalikan kesadaran bahwa perjalanan di dunia ini bukanlah perjalanan pergi dari rumah tetapi perjalanan pulang kembali ke Rumah Sejati.

Tuhan telah memberikan rambu perjalanan yang kita tempuh dengan firman, Innalillahi Wainna Ilaihi Raaji’un. Kita berasal dari yang Maha Satu dan akan kembali menyatu dengan yang Maha Satu. Segala apa yang ada di alam semesta ini, semua berasal dari Yang Tunggal. Tuhan selalu mengingatkan manusia minimal 5 kali dalam sehari. Tuhan seolah berkata, ambil jarak sejenak dari duniamu dan kembalilah kepada-Ku.

Lantas, bagaimana memulai mudik ke dalam wilayah rohani tersebut? Tahap awal perjalanan mudik adalah kita kembali belajar menjadi manusia yang asli, orisinil, dan murni. Perjalanan mudik paling sederahana yang bisa kita lakukan adalah berjalan ke dalam diri kita untuk menemukan siapa sejatinya diri ini. Kesadaran akan kesejatian diri akan membuat kita melepas semua identitas yang selama ini melekat pada diri.

Ketika kita kembali ke pangkuan orang tua, ibu, bapak, kakek, nenek, handai tolan, kita harus meninggalkan jabatan terlebih dahulu untuk mendapatkan cinta dan kemesraan mereka. Jika pejabat, kita lepas terlebih dahulu seluruh jabatan yang dimiliki. Pun, seorang menteri, harus melepas terlebih dahulu pakaian menteri itu. Bahkan, jika kita adalah ulama, kita tinggalkan dulu pencapaian itu dengan penuh kerendah-hatian. Ketika bersimpuh di hadapan telapak kaki ibu di kampung, kita tetaplah seorang anak yang sedang mengharap kemurnian cintanya tetap mengalir pada kita.

Demikian juga ketika mudik untuk menghadap Tuhan, kita akan melepas semua baju kehormatan kita di dunia. Apa yang nanti hendak kita sajikan pada pertemuan agung dengan Tuhan? Tuhan tidak membutuhkan jabatan, pangkat, prestasi dunia, reputasi, pencitraan, status, bahkan Tuhan tidak membutuhkan seluruh pengetahuan yang telah kita olah selama hidup kita. Tuhan akan menyambut kita jika kita sanggup melepas semua kostum keduniaan. Kita  harus datang telanjang dari segala pencitraan.

Kita memang seperti sudah kehilangan kemampuan untuk melakukan perjalanan menuju diri yang sejati karena banyak dari kita yang bahkan tidak mengenal dirinya sendiri. Manusia sedang susah untuk mencari dirinya sendiri. Kebanyakan manusia saat ini hanya mampu mengenal diri yang superfisial. Manusia hanya sebatas mampu mengenal dirinya dengan kostum A, dengan pakaian B, dengan jas dan dasi C, tanpa mampu untuk mengenal siapa “aku”yang sebenarnya, untuk alasan “aku” ada di dunia, dan kemana besok setelah “aku” meninggalkan dunia.

Momen mudik sangat tepat kita jadikan media kontemplasi, tafakkur, dan muhasabah untuk kembali menemukan diri yang sejati. Dengan menemukan lagi kesejatian diri, kita akan masuk ke dalam wilayah yang bernama Idul Fitri. Kita akan disucikan, dimurnikan, dan dibersihkan sehingga cermin jiwa kita akan jernih sebagai manusia. Mudik tak perlu kemana-mana. Kita tinggal duduk dan diam. Kita tinggal melepas seluruh pakaian dunia kita kemudian kita akan dibawa masuk dan menyelam ke dalam samudra jiwa kehambaan kita.