Sebentar lagi umat Islam di seluruh dunia akan menyongsong bulan suci Ramadlan. Bulan yang selalu dinantikan dengan segala keberkahannya. Tidak hanya dari sisi keagamaan saja, tetapi banyak sektor yang turut “kecipratan” atas berkah tersebut. 

Dari sisi agama, tentu sebagai sarana pelaksanaan kewajiban dan peningkatan ibadah dengan segala pahala yang dilipatgandakan lebih dari bulan-bulan lainnya.

Dari sisi sosial, bulan Ramadlan sebagai sarana interaksi sosial melalui ritual keagamaan yang dilaksanakan secara kolektif (berjamaah). Dari sisi ekonomi, tentu peningkatan kebutuhan dari yang bersifat konsumtif sampai yang bersifat prestise merupakan peluang bagi pelaku ekonomi untuk meraih profit.

Namun yang patut dicermati adalah fenomena dan tradisi tahunan menjelang Idul Fitri saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu fenomena tersebut adalah tradisi mudik yang lebih cepat dari waktu semestinya. Hal ini disebabkan karena merebaknya Novel Coronavirus Disease yang kemudian oleh World Health Organization (WHO) resmi menamakan Covid-19.

Mudik Perspektif Historis

Terma mudik sering kita jumpai menjelang tradisi tahunan yang menyertai hari raya terutama Idul Fitri. Dilihat dari akar kata, mudik berasal dari bahasa Betawi "udik" yang berarti hulu atau selatan yang turut dinisbatkan pada penamaan wilayah Meruya Udik dan Meruya Ilir.

Sedangkan menurut Guru Besar Ilmu Komunikasi FISIP UI Prof. Dr. Ibnu Hamad, M.Si, mudik juga berasal dari kata “udik” yang berarti kampung atau desa. Sementara mudik menurut sebagian orang Jawa merupakan akronim dari mulih dilik (pulang sebentar). Terlepas dari keragaman asal kata mudik dan derivasi dari kata udik itu sendiri, yang jelas titik temunya adalah pulang ke kampung halaman.

Dulu istilah ini digunakan hanya sebatas orang-orang yang dalam perantauan kembali ke desa. Seiring dengan perkembangan zaman istilah ini mengalami pelebaran makna dan seringnya kata tersebut digunakan (likatsrotil isti'mal). Bahwa semua yang kembali ke tanah kelahiran, tempat  asal  dengan tujuan berkumpul bersama-sama keluarga, maka itulah agreement terma mudik ini.

Fenomena mudik hanya kita jumpai di Indonesia, meski tidak kita pungkiri di negara-negara lain pun ada tentu dengan term yang berbeda, sebut saja menjelang tahun baru Imlek, Natal dan hari-hari besar keagamaan lainnya. Akan tetapi hiruk pikuk, meriah, semarak dan emotional power-nya tidak seperti di Indonesia. Para pemudik jauh-jauh hari harus mempersiapkan segala sesuatunya, materi, fisik, moda transportasi dan lain sebagainya.

Mereka rela menyisihkan uang (menabung), mengantri tiket, berdesak-desakan di kendaraan, bahkan berhari-hari di jalan yang justeru acap kali membahayakan diri tanpa memperhatikan standar keselamatan demi satu tujuan, bersama-sama merayakan Idul Fitri di kampung halaman.

Mudik dan Pandemi

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, mudik pada tahun 2020 ini seperti terancam kehilangan kesemarakannya. Ruang publik kita dari akhir tahun 2019 sampai pada hari ini dipenuhi dengan segala informasi terkait Covid-19. Seolah sudah tiada tersisa sedikitpun informasi yang luput dari pengetahuan kita mengenai Covid-19.

Seakan semua beralih dari profesi masing-masing menjadi satu profesi dan expertise medis virologis. Berbagai kebijakan telah dikeluarkan oleh pemerintah, dari yang bersifat pencegahan sampai pengobatan. 

Istilah-istilah asing berseliweran di telinga kita, social distancing, physical distancing, lockdown, ODP, PDP dan lain-lain. Tak lupa update dan perkembangan selalu disampaikan setiap hari.

Sisi positifnya kita mengetahui kosakata-kosakata yang sebelumnya tidak kita ketahui misalnya definisi dan perbedaan pandemik, endemik dan epidemik yang tentu menjadi khazanah pengetahuan kita.

Setelah WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemik 11 Maret 2020 sebagai virus dengan tingkat penyebaran yang sangat cepat dan meluas di berbagai negara, ada banyak kebijakan yang kemudian diterapkan oleh pemerintah Indonesia. Dengan populasi yang cukup tinggi, Indonesia menjadi negara yang sangat tinggi juga potensi prosentase penyebarannya.

Pembatasan-pembatasan interaksi sosial oleh pemerintah kemudian tertuju pada berbagai lembaga dan komunitas sebagai pemutus mata rantai persebaran virus, tak terkecuali pada dunia pendidikan. Work From Home (WFH) bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah kemudian menjadi tagline di mana-mana.

Dari mulai lembaga pemerintahan kecuali pelayanan yang bersifat vital, perusahaan sampai pada lempaga pendidikan lebih-lebih yang tingkat interaksinya tinggi seperti pesantren, melalui Surat Edaran (SE) kepala daerah semua aktivitas “dirumahkan”.

Hal inilah yang kemudian mudik tahun ini lebih cepat dari waktu semestinya. Tak bisa kita pungkiri, meski kecanggihan teknologi memudahkan kita untuk berinteraksi melalui jejaring sosial, dari mulai chating sampai yang memiliki fitur teleconference atau video call (VC) tetapi tidak bisa menggantikan peran dan makna mudik itu sendiri secara sosial, kultural dan spiritual.

Ada banyak makna terdalam dari mudik yang tidak dapat kita definisikan. Kontak sosial baik dengan kerabat maupun sejawat melalui media tersebut hanya bersifat teknonogi instrumental (alat) semata tidak menyentuh ke relung batin dan solidaritas sosial (Jurgen Habermas:1990).

Terlebih tradisi masyarakat kita terbiasa melaksanakan kegiatan secara kolektif. Sebut saja, nyadran, sungkem, megengan sampai halal bi halal. Itulah mengapa mudik dalam arti beyond expectation  tidak akan tergantikan karena ada makna turunan selain sosial yaitu spiritual dan kultural yang terjadi secara bersama-sama.

Pemerintah sepertinya sadar dengan hal itu yang kemudian ditindak-lanjuti dengan mempersiapkan perangkat dan aturan hukum baik melalui Instruksi Presiden (Inpres) maupun Peraturan Presiden (Perpres) terkait mudik Lebaran Hari Raya Idul Fitri 1441 H. 

Tak dapat dipungkiri ada sebagian masyarakat kita yang mungkin tidak bisa meninggalkan tradisi mudik, tentu harus ada perangkat hukum yang mengikat dan mengaturnya. Hal ini terlihat dengan adanya karantina bagi pemudik yang baru datang dari perantauan yang sudah diberlakukan diberbagai wilayah.

Semua peraturan baik dari otoritas pemerintahan maupun keagamaan semua bermuara pada kemaslahatan bersama. Aturan-aturan tersebut sesuai dengan kaidah sadd al-dzari’ah artinya mencegah segala perbuatan yang dapat menimbulkan kerusakan (mafsadat).

Hikmah atas Terjadinya Wabah

Kemudian, yang perlu disadari bahwa substansi atau tujuan  kita mudik itu sendiri. Mudik bukan eksistensi diri, bukan sarana menunjukkan materi dan segala sesuatu yang kita miliki. Bahwa, sukses tidak sekedar apa yang kita punyai dan melekat pada diri kita. Meski kita tidak menampik bahwa yang kita miliki pada saat ini adalah suatu kebutuhan.

Parameternya adalah apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Hal yang positif  kesuksesan dan materi yang tampak semoga menjadi motivasi bagi yang lain tentu dengan tujuan yang positif pula.

Hikmah yang dapat kita petik dari suasana pada saat ini adalah, pertama betapa pentingnya kita menjaga kebersihan dan pola hidup sehat agar terhindar dari segala penyakit dan virus tak kasat mata yang disebabkan oleh makanan yang kita konsumsi. Pemerintah melalui aturan atau protokol penanganan (persuasif) dan pencegahan  (preventif) Covid-19 sudah banyak memberikan arahan.

Pun demikian dari sisi keagamaan melalui Majlis Ulama Indonesia (MUI) yang memang mempunyai otoritas memberikan fatwa dan prosedur peribadahan telah memberikan kaifiyah (tata-cara) ibadah di tengah pandemik.

Kedua betapa pentingnya kebersaman dalam keluarga yang selama ini kita abaikan karena kesibukan pekerjaan maupun aktivitas lain.

Ketiga, adanya Covid-19 semakin memupuk kepekaan sosial kita dengan cara membantu antar sesama, terutama pekerjaan mereka yang terimbas langsung.

Sampai artikel ini ditulis semoga Covid-19 dapat teratasi sebelum umat Islam di seluruh dunia melaksanakan puasa Ramadlan.Sehingga kita dapat fokus bekerja dan beribadah sebagaimana hari-hari biasa dengan lebih maksimal sebagai hikmah adanya Covid-19 ini.

Sebagai warga negara yang baik dan taat aturan seyogyanya kita mematuhi seluruh protokol dan peraturan yang telah dibuat pemerintah.