Baru saja seorang kawan menandai saya pada sebuah tautan, disertai keterangan bahwa tautan tersebut adalah tanggapan dari tulisan saya berjudul Seurgen Apa Mudik Bagi Kita? yang dimuat beberapa hari sebelumnya. Tanggapan ini ditulis oleh Akhmad Faozi Sundoyo dengan judul Mudik dan Kedewasaan Diri.

Saya sungguh excited mengetahui bahwa tulisan saya mendapatkan tanggapan. Namun di luar dugaan saya, tanggapan yang ditulis dengan apik dan gagah tersebut terasa amat emosional.

Tentu saja ekspresi emosional semacam itu sangat dapat dipahami, lha wong yang dibicarakan adalah mudik dan kerinduan kepada orang tua. Membicarakan kerinduan dan orang tua pada momen-momen seperti ini tentu berpotensi menjatuhkan air mata, terutama bagi mereka yang terpaksa tidak mudik tahun ini.

Yang saya sesalkan, tulisan saya agaknya dilihat sebagai upaya menggeneralisir pemudik seluruh Indonesia. Tentu bukan itu maksudnya. Adalah wajar ketika seorang penulis menangkap suatu realitas dan membahas melalui sudut pandang pribadinya, dan itulah yang saya lakukan melalui tulisan saya.

Bahwa ternyata ada realitas lain yang tidak terwakili, itu perkara lain lagi. Dan saya bersyukur Akhmad Faozi Sundoyo dapat mewakili realitas ini. Memang, butuh kedewasaan untuk memahami bahwa mustahil satu pendapat mampu mewakili semua realitas, seperti halnya mustahil untuk membuat semua orang bahagia.

Betapapun ributnya kita perkara mudik atau tidak tahun ini, saya berharap kita bisa sama-sama bersepakat bahwa mudik telah menjadi aktivitas kultural, sebuah tradisi bagi bangsa kita. Dan sebagaimana tradisi lainnya, ia melekat dengan sistem moral yang turut mendefinisikan identitas kita.

Hal ini pula yang saya lihat pada tanggapan Akhmad Faozi Sundoyo, bahwa tidak mudik tahun lalu telah menyebabkan rasa gelisah, bersalah, bahkan mungkin hingga mempertanyakan identitas kita sebagai anak yang seharusnya berbakti kepada orang tua.

Semua perasaan ini, pada titik tertentu yang kita semua dapat pahami dan rasakan, telah membuatnya menangis sendirian, dan benar-benar menangis. Gejolak moral seperti ini nyata adanya dan hampir pasti kita rasakan bersama, saya pun tak terkecuali.

Tapi izinkan saya untuk berbeda sikap mengenai moral ini. Jika memaksakan untuk mudik tahun ini, segala upaya memang bisa dilakukan, mulai dari memakai masker hingga rajin cuci tangan selama perjalanan. Namun siapa bisa jamin kita tidak akan tertular selama perjalanan?

Perjalanan mudik seringkali membutuhkan waktu panjang, macet, dan juga kerumunan, yang memungkinkan kontak dengan orang lain menjadi sangat sulit dihindari. Padahal, tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita tidak akan tertular saat melakukan perjalanan, betapapun berbagai upaya sudah dilakukan untuk mencegahnya.

Yang jelas, kesadaran moral dan rasionalitas saya tidak akan mampu menanggung rasa bersalah apabila orang tua saya sakit atau bahkan meninggal karena tertular penyakit yang mungkin saya bawa ke kampung. Padahal, seperti yang mestinya sudah kita pahami bersama, penyakit ini beresiko lebih besar apabila menular kepada kaum lanjut usia.

Jika membuat orang lain menderita sudah mampu membuat saya merasa tercela secara moral, apalagi jika orang tua sendiri yang menderita? Duh, tak sampai hati saya membayangkannya.

Dalam tulisan terdahulu, saya mengisyaratkan sebuah saran untuk mudik dan bertemu orang tua di luar momentum Lebaran. Tentu saya memahami, bahwa dalam masyarakat yang memandang mudik Lebaran sebagai tradisi yang tabu bila dilanggar, pendapat saya dirasa mengganjal atau bahkan kontroversial.

Namun yang sepertinya gagal dipahami, keputusan saya untuk bertemu orang tua di luar momentum Lebaran justru didorong oleh hasrat akan mudik yang lebih khidmat dan syahdu.

Saya telah beberapa kali membuktikan betapa quality time bersama orang tua lebih terasa nikmat, justru di luar momentum mudik Lebaran. Saya bisa memijit kaki orang tua saya sambil mengobrol dengan lebih intens, memasakkan makanan kesukaannya, bahkan mengajak mereka pergi ke tempat yang bisa kami nikmati bersama.

Semua hal ini bisa saya lakukan dengan lebih berkualitas, lebih intim dan personal, tanpa terganggu padatnya agenda seperti yang biasa terjadi pada mudik Lebaran. Dan tentunya tanpa kepadatan arus mudik sehingga bisa meminimalisir resiko penularan.

Bagaimanapun, ini hanyalah sekadar saran yang didasarkan pada pengalaman pribadi saya dan beberapa kawan. Syukur bila cocok. Jika pun tidak cocok, maka tidak masalah juga. Setidaknya saya berusaha menawarkan upaya yang lebih aman untuk beradaptasi dari situasi yang serba sulit dan membingungkan seperti saat ini.

***

Ada sebuah kejadian sederhana yang membuat saya kembali merenungi perkara mudik ini. Siang tadi, anak saya yang masih balita menangis dan emosional ketika keinginannya untuk menonton TV tidak saya kabulkan. Kejadian ini seakan sedang mengingatkan saya, bahwa dibutuhkan kedewasaan untuk menunda kenikmatan. Rasa nikmat kadang perlu ditunda demi sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat.

Dan bukankah ibadah puasa yang kita jalani adalah tentang menunda kenikmatan? Saya meyakini bahwa ibadah puasa memang diperintahkan oleh Tuhan untuk melatih kedewasaan semacam ini.

Sama halnya dengan puasa, begitu pula dengan urusan mudik ini. Mau mudik atau tidak, dibutuhkan kedewasaan untuk mengambil keputusan. Setidaknya bagi saya, mudik adalah suatu kenikmatan yang sayangnya mesti ditunda. Tentu takaran kedewasaan bisa berbeda antara manusia satu dengan lainnya. Tapi yang jelas, pilihan dewasa mestinya bisa dipertanggungjawabkan secara moral dan akal sehat.

Semakin dekat dengan Lebaran, saya berharap polemik mengenai mudik ini segera berakhir. Semoga kita semua bisa berhari raya Idul Fitri dengan anugerah kesehatan, baik yang mudik maupun tidak. Selamat berhari raya, selamat bersilaturahmi dengan keluarga, baik yang luring maupun daring. Saya ucapkan mohon maaf lahir dan batin untuk semua rekan-rekan pembaca.


Bhagaskoro Pradipto, perantau, penulis, dan musisi, tinggal di Badung, Bali.