Tidak ada teks yang absolut, semua tentang konteks. Dalil itu berulang kali dituliskan oleh Jacques Derrida, filsuf kontemporer Prancis yang dikenal karena teori dekonstruksinya. Lewat dekonstruksi, Derrida kerap mengajak kita berjalan mengelilingi jutaan teks.

Berusaha membebaskan kata-kata yang ditawan oleh struktur bahasa. Membuka peluang sebuah teks bisa diinterpretasikan dengan tidak terbatas. Oleh karenanya, Derrida mengajarkan kita bahwa tidak perlu mengambil kesimpulan secara fanatik. Karena kebenaran teks sifatnya tidak harus tunggal, apalagi absolut.

Sebagian pengguna media sosial sempat terkejut setelah menonton sebuah video yang beredar di twitter. Kala Presiden Jokowi sempat dianggap tidak bisa membedakan makna : “pulang kampung” atau “mudik”.

Video tersebut berasal dari tayangan Mata Najwa yang dipandu oleh Najwa Shihab, yang melakukan wawancara eksklusif dengan Presiden Jokowi di Istana Negara.

Bagi yang tidak suka Jokowi jelas hal ini menjadi bahan olok-olok. Sebaliknya bagi pemuja Jokowi bahasa itu adalah sabda yang harus dicarikan argumentasi pembelaannya. 

Beberapa pakar  kemudian mencoba hadir dalam diskursus bahasa itu dengan tujuan melerai makna : “pulang kampung” dan “mudik”.

Namun tetap saja, publik kadung berpihak pada satu pemaknaan yang absolut. Potongan screenshot KBBI online kemudian berseliweran di beranda media sosial sebagai dukungan pendapatnya. 

Arti mudik di situs Wikidepia pun ikut diubah berkali-kali. Berulang-ulang direvisi demi sebuah pembenaran. Hingga kata pencarian “mudik” dan “pulang kampung” dikunci oleh Wikipedia sendiri untuk tidak bisa lagi direvisi pengguna.

Saya bukan pakar bahasa. Keilmuan saya hingga jenjang pendidikan mahasiswa doktoral adalah Bidang Ilmu Politik. Meski begitu ragam aktivitas yang saya tekuni dalam kepenulisan ilmiah tidak lepas dari teks dan konteks persoalan.

Saya kerap terjebak dalam penggabungan “di” dalam proposisi dipisah atau digabung. Memaknai awalan “di” sebagai kata kerja atau menunjukkan tempat. Saya kerap silap disitu.

Jauh dari hal tersebut, suatu hari dimasa anak-anak, saya mengajukan pertanyaan ke ibu dengan pertanyaan :

“kau tidak berangkat kerja, mak?. --Ibu saya marah karena bahasa saya dianggap tidak sopan.

 “kamu tidak berangkat kerja, mak ?” ucap saya menggantikan pertanyaan awal. ---Ibu saya juga tidak terima dengan pertanyaan itu.

Hingga ia membenarkan sendiri struktur pertanyaan saya sesuai dengan standard kesopanan orang Indonesia, dengan revisi : “Mamak tidak berangkat kerja?”.

Pada akhirnya kata “kau”, “kamu” atau “ibu/mamak” menjadi sangat penting mengikuti standard budaya Indonesia. Berbeda jika saya terlahir sebagai seorang manusia Eropa (budaya barat). Bahkan standard memanggil nama kepada orang tua adalah hal yang biasa.

Ini tahun 2020. Di era kemajuan teknologi seperti sekarang ini. Konsep dekonstruksi Derrida masih menjadi salah satu penunjuk arah dalam memahami makna. 

“Setiap gerak tangan menunjukkan bahwa hidup bagian dari teks” Derrida menuliskan kalimat itu dalam karyanya yang berjudul “Of Grammatology”. Pada pengertian sederhana gramatologi berarti Ilmu tentang bahasa.

Soal perdebatan “mudik” atau “pulang” kampung yang digugat banyak orang. Secara konsep Derrida secara langsung pernah menggugat para filsuf masyur macam : Plato, Edmund Husserl, dan JJ Rousseau. 

Nama-nama tersebut dianggap Derrida sebagai orang yang ketat terhadap teks. Berusaha menjauhkan teks dari kemungkinan makna ganda dalam sebuah wacana yang keluarkannya. Ucapan mereka dianggap sebagai sabda yang agung bagi para pemujanya.

Jika kita interpretasikan pula nama-nama yang dikritik oleh Derrida diatas, imajinasi saya mengarahkan pasti mereka sangat lama dan berhati-hati berpikir untuk mengucapkan bahasa “mudik” atau “pulang kampung” seperti yang diucapkan Presiden Jokowi.

Padahal dalam gramatologinya, Derrida menjelaskan panjang bahwa sebuah bahasa tidak berdiri sendiri; ada tanda seru, tanya, titik hingga koma yang mengikutinya. Huruf vokal dan huruf konsonan pun sengaja diklasifikasikan agar barisan huruf, kata hingga kalimat memiliki dinamika sendiri. 

Jika ada penyimpangan makna atau ada pemaknaan teks yang dihilangkan, soal rujukan dan kebudayaan yang harus diklarifikasi dan disepakati.

Bahkan ini terjadi bagi teks yang kita miliki sendiri yaitu nama pribadi. Nama : Joko Widodo setuju diperpendek menjadi “Jokowi”. Susilo Bambang Yudhoyono kemudian mengakronimkan namanya menjadi “SBY”. Lalu Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri memilih cara yang berbeda dengan penggalan “Megawati atau Mega”.

Beda dengan para pendahulu mereka Soekarno dengan panggilan “Bung Karno” atau Soeharto dengan panggilan “Pak Harto” termasuk Abdurrahman Wahid yang memilih panggilan “Gus Dur (dipisah) atau Gusdur (disambung)” atau Bacharuddin Jusuf Habibie yang tidak pernah kita panggil dengan sebutan akronim “BJH” tapi dengan sebutan “Habibie”.

Kemudian pertanyaannya siapa yang berkuasa atas teks ? Deridda dalam karya-karyanya kerap menggugat hal ini. Utamanya dalam penjelasannya dalam dekonstruksi. Dekontruksi sering dianggap sebagai sesuatu yang gramatologi yaitu filsafat tentang teks.

Selanjutnya, dekontruksi adalah sesuatu yang etis, yang sifatnya politis. Dekonstruksi adalah keadilan itu sendiri. Keadilan yang melegitimasi kebebasan berfikir. Keadilan yang tidak hanya dipahami pada satu pihak namun memberi kesempatan pihak lainnya untuk mengajukan teks yang sama soal keadilan versinya.

Kembali ke dalil Derrida, kita hendak mengadili “mudik” atau “pulang kampung” Jokowi. Semuanya tentang konteks. Bahwa perdebatan sudah kadung terjadi, benar. Tapi konteksnya bukan soal pengertian etimologi kedua kata tersebut. Apalagi sampai mencari-cari referensi darimana asal usul kata tersebut.

Sebelum masuk pada ujung tulisan ini, saya akan berikan sedikit paparan tentang apa yang saya ketahui tentang Mata Najwa dan wawancara dengan Presiden Jokowi kemarin :

Pertama,  Mata Najwa adalah sebuah siaran video berita dengan format : wawancara sosial politik tokoh melalui jalan investigasi, penelitian dan klarifikasi ke pihak terkait. Pada kapasitas itu, dalam upaya memikat keinginan publik ikut menontonnya diperlukan sisi entertain.

Bagian pertanyaan “mudik” atau “pulang kampung” sengaja dikeluarkan Tim Mata Najwa pada bagian dari salah potongan gabungan video untuk promosi. Publik merespon bagian ini karena dianggap terlalu konyol, jika presiden sampai tidak paham kedua bahasa itu.

Kedua, terdapat dua sosok kuat yang saya kagumi dalam Tim Mata Najwa yaitu Najwa Shibab dan Zen Rachmat Sugito (Zen RS). Sebagian orang kadang melupakan nama terakhir, sebagian lainnya tidak pernah mendengar nama Zen RS.

Secara pribadi bagi saya, Zen RS adalah salah satu penulis esai terbaik di negeri ini. Zen RS pertama kali saya baca tulisan-tulisannya, kala ia mendirikan kanal berita sepak bola bernama Pandit Football kemudian ia pindah ke Tirto.id dan sekarang sebagai Chief Editor di Narasi TV.

Bagi saya duet Najwa dan Zen RS ibarat Xavi dan Iniesta di Barcelona, Toni Kroos dan Modric di Real Madrid atau Paul Scholes di Manchester United. Pun kehadiran Zen RS menambah daya dobrak Najwa sebagai seorang pembawa berita yang kita saksikan beberapa waktu terakhir. Najwa Shihab menjadi sosok yang fantastis di media.

Ketiga, Bahwa wawancara Mata Najwa di Istana kemarin sudah lolos screening ? tentu saja. Jokowi itu Presiden Republik Indonesia yang segala aktivitasnya sebagai kepala negara melalui proses screening yang ketat.

Keempat, tayangan Mata Najwa itu telah keluar dari konteks informasi yang ingin didapatkan publik soal penanganan corona. Misalnya kebijakan jangka panjang dan pendek soal penanganan Covid-19 di Indonesia ; kesiapan rumah sakit jika situasi tidak terkendalikan, persoalan APD yang masih kurang di daerah, obat-obatan, hingga kemungkinan peneliti Indonesia menemukan vaksin virus mematikan ini.

Persoalannya adalah kita kadung terjebak pada teks bahasa. Semua tempat soal diskursus ini seolah kini ikut menjadi pengadilan bahasa dengan adanya hakim, tersangka, terdakwa, pembela, hingga pakar.

Sekali lagi, saya kembali pada Jacques Derrida. Semua tentang konteks. Bukan paku mati pengertian etimologi dari teks “mudik” atau “pulang kampung”. Pada bagian ini saya tidak mau terlalu jauh membahasnya, karena saya bukan pakar bahasa.

Pun tanpa sadar seluruh gugatan kita pada pemerintah kini seolah terhenti pada dua teks itu. Sensasi telah melampui esensi. Bahkan lebih jauh, sensasi telah melampui substansi. 

Karena tanpa sadar pikiran kita sedang ikut didekonstruksi.