Semakin berkembangnya zaman dan teknologi menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas. Lalu, apa yang menentukan kualitas dari sumber daya manusia? Sumber daya manusia ditentukan oleh kualitas dari pendidikannya. Semakin berkualitas pendidikan suatu bangsa maka semakin berkualitas pula sumber daya manusia dari bangsa tersebut. Bahkan, pendidikan menjadi dasar bagaimanakah keberlangsungan hidup bangsa ini.

Pendidikan di Indonesia mengajarkan banyak mata pelajaran kepada para peserta didik. Salah satunya adalah fisika. Fisika menjadi salah satu mata pelajaran wajib di setiap jenjang pendidikan. Mengapa demikian? Karena fisika memberikan pemahaman mengenai cara berpikir dan bernalar terhadap sesuatu yang terjadi di alam semesta.

Fisika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari sifat dan fenomena alam serta segala interaksi yang terjadi didalamnya. Dengan mempelajari fisika, peserta didik diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berpikir dalam memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi di era Industry 4.0 saat ini.

Namun, dalam realitasnya fisika dianggap sebagai pelajaran yang sulit, banyak peserta didik mengeluh saat mengerjakan soal-soal fisika terutama yang berkaitan dengan rumus. Tak hanya itu, fisika juga dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan. Bahkan, minat untuk mempelajari ilmu fisika masih tergolong rendah.

Hal ini berdampak terhadap hasil belajar mereka. Hasil belajar cenderung rendah pada mata pelajaran fisika. Tentunya, hal ini menjadi tantangan besar bagi pendidik fisika untuk meningkatkan minat peserta didik dalam mempelajari ilmu fisika. 

Ada banyak faktor yang menyebabkan rendahnya minat peserta didik dalam mempelajari fisika. Faktor apa sajakah itu? Salah satu faktornya adalah pembelajaran yang disampaikan di kelas kurang di dukung dengan media pembelajaran maupun model pembelajaran yang tepat.

Pembelajaran di kelas sering kali berpusat pada guru/pendidik dengan model pembelajaran yang konvensional. Model pembelajaran dengan metode ceramah lebih sering digunakan dalam pembelajaran fisika terutama dalam menjelaskan teori-teori fisika

Selain itu, banyak pendidik  yang belum menerapkan penggunaan media pembelajaran yang tepat. Tanpa didukung dengan adanya media pembelajaran yang tepat dan sesuai, pembelajaran fisika akan terkesan monoton sehingga antusias dari peserta didik pun rendah.

Media pembelajaran dapat membangkitkan minat, motivasi, dan keinginan, serta rangsangan dalam kegiatan belajar, bahkan mampu mempengaruhi psikologis pada peserta didik (Arsyad, 2011). Maka dari itu, dalam pembelajaran sangat membutuhkan adanya media pembelajaran agar meningkatkan semangat belajar peserta didik terutama dalam pembelajaran fisika.

Di era yang serba modern ini dimana teknologi semakin canggih, kita sebagai seorang pendidik fisika harus mampu memanfaatkannya guna memberikan pembelajaran yang menyenangkan sehingga materi dapat diterima dengan baik oleh peserta didik. Pembelajaran yang menyenangkan dapat diupayakan dengan penggunaan media pembelajaran.

Penggunaan media pembelajaran harus dipertimbangkan dengan baik agar tepat sasaran dan tujuan pembelajaran pun dapat tercapai sesuai harapan. Pemahaman peserta didik terhadap pembelajaran yang diberikan menjadi indikator  tercapainya tujuan dari pembelajaran. Media pembelajaran pun bervariatif, mulai dari buku, animasi, materi powerpoint, dan sebagainya.

Salah satu pengembangan media pembelajaran dapat menggunakan model pembelajaran Mind Mapping. Tahukah kalian apa itu Mind Mapping? Dan bagaimanakah penerapannya dalam pembelajaran fisika? Yuk, simak pembahasan kali ini mengenai Mind Mapping dalam pembelajaran fisika.

Mind mapping atau biasa dikenal dengan peta pikiran / peta konsep adalah metode dalam mempelajari konsep yang ditemukan oleh Tony Buzan pada tahun 1970. Mind mapping merupakan cara paling mudah untuk memasukkan informasi ke dalam otak dan untuk mengambil informasi dari otak (Buzan, 2006).

Mind mapping menjadi cara yang kreatif untuk membuat catatan dan dapat memetakan pikiran orang yang membuatnya. Model pembelajaran ini  akan mengembangkan pengetahuan peserta didik dengan kegiatan menyusun ide pokok atau kata kunci dari sebuah konsep menjadi sebuah peta pikiran yang akan mudah dipahami oleh peserta didik saat belajar. Mind mapping juga dapat memaksimalkan potensi pikiran manusia yaitu dengan menggunakan otak kanan dan otak kirinya secara simultan.

Lalu bagaimanakah penerapan model pembelajaran Mind Mapping dalam pembelajaran fisika?

Konsep Mind Mapping sendiri dalam aplikasinya berupa penggunaan kata-kata kunci konsep materi, simbol, dan gambar yang dituangkan ke dalam bentuk peta konsep. Penerapan model pembelajaran Mind Mapping dalam pembelajaran fisika adalah dengan memvisualkan materi-materi fisika ke dalam konsep Mind Mapping yang dibuat manual pada kertas. Namun, di era modern ini Mind maping juga dapat dibuat dengan aplikasi digital.

Dalam pembuatan Mind Mapping berbasis materi fisika, pertama yang harus dilakukan adalah peserta didik memahami dulu materi fisika yang akan dibahas. Dalam hal ini, otak kiri sangat diperlukan guna memahami konsep dan menemukan kata-kata kunci dari materinya. Setelah itu, langkah selanjutnya adalah bahasan materi yang berupa kata-kata kunci divisualisasikan ke dalam peta konsep.

Visualisasi dapat berupa membuat gambar tentang konsep utama dari materi kemudian dihubungkan dengan garis melengkung yang menghubungkan ke cabang-cabang konsep yang lainnya. Visualisasi dari Mind Mapping akan sangat bergantung pada minat dan kreativitas masing-masing peserta didik. Kemampuan otak kanan pun akan terasah karena peserta didik akan menggunakan daya imajinasi, kreativitas mereka.

Dengan ini, pembelajaran fisika pun akan terasa lebih menyenangkan, tidak monoton karena membutuhkan peran aktif dari peserta didik. Selain itu, pemahaman peserta didik pun menjadi lebih baik. Materi fisika yang awalnya terasa sulit dan membosankan akan menjadi lebih mudah dipelajari dan menyenangkan. Penggunaan kata kunci, warna yang bervariasi, dan gambar yang menarik akan meningkatkan daya ingat peserta didik mengenai materi fisika.

Tak hanya diingat, dengan Mind Mapping peserta didik akan lebih mudah untuk memahami materinya. Dampaknya, hasil belajar mereka akan meningkat seiring meningkatkan semangat dan minat peserta didik untuk mempelajari ilmu fisika.

Kini belajar fisika menjadi lebih mudah bukan? Dengan Mind Mapping, materi yang berulang kali dipelajari akan tetap menarik dan tidak membosankan justru belajar kian menyenangkan.