Sebagai anak desa, saya sering dihinggapi rasa minder yang tidak perlu jika dalam kegiatan tertentu harus (bahkan sekadar) bertemu dengan anak kota. Saya merasa apapun yang saya miliki tidak ada apa-apanya dibanding mereka, dari mulai tingkat intelektual sampai gaya berpakaian.

Bahkan kata "milenial" yang akhir-akhir ini populer; saya merasa bukan bagian dari itu, karena seringnya yang digambarkan adalah anak-anak muda kota yang keren. Saya bukan anak muda kota dan tidak keren pula.

Kadang saya juga merasa harus memberontak, dengan cara yang entah bagaimana saya belum ketahui; atas ketidakmerataan kesempatan pada anak muda negeri ini. Tetapi di saat itu juga, pikiran lain menyergap dengan kata-kata yang populer, ‘setiap orang ada tempatnya, setiap tempat ada orangnya’; apa jangan-jangan saya hanya ditakdirkan jadi pecundang di desa ini?

Anak desa mau dinilai dari mana-mana, jelas nilai rata-rata saya dan anak desa lainnya tidak akan mampu mengimbangi anak kota. Dari akses pendidikan saja sudah berbeda, apalagi urusan besar lainnya. Meski ada satu dua anak desa yang mendunia, bisa dikorek, jelas ada satu dua variabel juga yang tidak dipunya kebanyakan anak desa.

Lama sekali saya memikirkan hal itu sampai akhirnya saya ada di suatu pemikiran, saya kok seperti tidak tahu diri jika memimpikan masa depan yang (terlampau) gemilang selayaknya yang sudah mereka gapai. Bisa bertahan di masa kini saja ternyata itu sebuah anugerah.

Pandemi Covid-19 sangat digdaya dalam menunjukkan apakah kita bisa bertahan hidup karena variabel materi yang menempel pada diri kita satu per satu hilang. Namun untuk kami anak muda yang tinggal di pedesaan, untungnya kami sangat terlatih hidup berkekurangan. Ketika kehilangan pekerjaan, tabungan kian hari kian menipis, digugat cerai istri karena jatuh miskin; kami masih bisa makan, meski seadanya.

Coba kalau kami jadi anak kota, yang apa-apanya harus beli, mau beli pakai apa kalau di-PHK. Kami masih (harus) bersyukur setidaknya daun singkong di kebun sempit itu bisa kami masak; beras tidak perlu beli, tinggal menunggu selepan lewat lalu gabah dari simpanan panen tahun lalu berubahlah jadi beras.

Di zaman internet ini, kami sepertinya harus sungkem dengan yang menciptakannya. Ilmu yang sebelumnya hanya dinikmati anak kota, telah bertebaran di sana; antara kami dan mereka punya hak akses yang sama, kamipun punya kesempatan mengejar ketertinggalan.

Setiap zaman ada tantangan, setiap tantangan ada zamannya. Di zaman internet, dimana arus informasi bisa dibilang sangat kuat sampai banjir, ada satu kesamaan antara kami dan anak kota; kami menjadi (terlihat) lebih malas dan terkenal dengan “kaum rebahan”. Untuk pertama kalinya, kami merasa senasib sepenanggungan.

Istilah kaum rebahan itu sendiri terkesan negatif, semacam tidak punya pekerjaan yang bermanfaat. Keajaiban muncul, justru kami jadi punya energi untuk bersatu membuktikan bahwa anak muda saat ini tidaklah se-pengangguran itu hingga harus dicap kaum rebahan.

Dari tulisan ini, generasi di atas kami harus paham, kami rebahan itu justru melakukan sesuatu. Yang hanya ketik-ketik memencet smartphone sambil rebahan, bisa jadi uang. Yang kelihatannya hanya buka laptop sambil rebahan, bisa jadi sedang edit-edit video proyek yang harganya milyaran. Canggih bukan? Itu semua belum tentu bisa dilakukan generasi yang awalnya menyebut kami “kaum rebahan”.

Dari hal ajaib bernama internet tadi, muncul banyak perangkai kata-kata dari angkatan kami. Harap maklum, namanya juga anak muda; tempatnya keraguan disematkan. Generasi di atas kami menganggap angkatan kami hanya bisa berkoar-koar tanpa ada aksi nyata. Saya jadi berpikir, mereka mungkin belum paham cara kerja narasi. Bahkan Indonesia kita ini tidak akan ada tanpa adanya narasi.

Selain dikenal sebagai kaum rebahan, kami juga dikenal sering bergerak atas dasar intuisi semata; tidak punya perhitungan. Bukannya justru itu hal bagus? Karena kami tidak harus menunggu berpengalaman untuk sekadar bergerak menuju apapun yang kami mau. Kami juga sadar diri untuk terus bergerak meski tanpa diberi kesempatan.

Tanpa generasi di atas kami sadari, angkatan kami tetap mewarisi darah juang angkatan muda zaman penjajahan; dalam rebahan, kami berpikir; dalam gerak atas intuisi semata, kami mengeksekusi pikiran kami sendiri.

Kami menerima julukan kekurangan-kekurangan yang tersemat pada kami, namun itu tidak serta merta membuat kami merasa harus membatasi diri. Sebagai anak muda, jika sewaktu-waktu dibutuhkan generasi yang lebih tua, tidak ada salahnya kami mengiyakan, selama itu tidak menyalahi aturan. Toh dengan tempaan semacam itu, kami bisa menjadi pribadi yang tangguh dari hari ke hari.

Sadar pada tempatnya harus, tetap merasa kurang adalah kewajiban. Karena hanya dengan begitulah angkatan muda bisa menjadi sebuah kekuatan.