Perempuan itu bernama Mucha. Dia berasal dari Filipina. Katanya, namanya mempunyai arti mutiara.

Benar, dia adalah mutiara. Mucha adalah mutiara yang sangat berharga dan bernilai bagi keluarganya, teman-temannya, komunitasnya, dan aku sendiri.

Kami berkenalan di Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. Dia lagi menempuh pendidikan S3, sedangkan aku lagi kuliah S2. Saat itu, ada mata kuliah yang menyatukan kami di antara mahasiswa S2 dan S3 di kampus tadi. 

Dia adalah perempuan yang lembut, namun berkarakter kuat dan sangat ramah. Dia menyapaku duluan dan mengajakku ngobrol. Aku suprice karena mengira dia bukan berasal dari Filipina. Dulu, setahuku, orang Filipina rata-rata Katolik. Ternyata Mucha seorang muslimah.

Saat itu, mbak Mucha terlihat sangat manis. Dia memakai kerudung, semacam kain yang hanya ditaruh di kepala. Bukan "jilbab", yaitu kain yang dipeniti di leher dengan rapat dari kepala hingga badan. 

Mbak Mucha, begitu kami memanggilnya, karena dia suka dengan panggilan ala Jawa, apalagi kami berada di Jogja. Pun begitu kebalikannya, dia memanggilku dengan sapaan, mbak Ria, seperti orang Jawa yang menghormati perempuan. Entah yang lebih muda atau lebih tua akan tetap dipanggil mbak.

Mbak Mucha yang mendapatkan beasiswa S3 ini meninggalkan suami dan tiga anaknya di negaranya. Katanya, anaknya yang dipanggil Ria (sama dengan panggilanku) atau Eyang yang masih kecil belum sekolah.

Katanya lagi, dia sedang mencari kost, dia mau pindah dari tempatnya menginap di Guest House. Aku pun menawarkan kontrakanku padanya. Kataku, kontrakanku sangat dekat dengan gedung Sekolah Pasca, karena aku tinggal di gang Kinanthi, Jalan Kaliurang. Gangnya terletak di belakang Sekolah Pasca ini.

Setelah datang ke kontrakan bersamaku. Akhirnya, di rumah kontrakanku, kami memiliki Pinay. Mbak Mucha ngontrak bersama kami. Karena kebenaran, kontrakanku memang kurang satu orang. Dari empat kamar, yang terisi baru tiga kamar. Kakakku yang juga lagi S2 di UGM memang mencari satu orang lagi agar kontrakan yang sewanya sepuluh juta per bulan itu bisa dibagi empat dengan rata.

Walaupun mbak Mucha sedang S3, seorang dosen di Filipina, pemilik NGO Lumah Dilaut, dia sama sekali tidak "tinggi hati", sangat down to earth. Dia melihat kami; aku dan kakak, dan seorang teman kontrakan, sebagai adik-adiknya. Kami sangat menghormatinya dan dekat dengannya, walau kami harus menggunakan bahasa Inggris dan Indonesia yang patah-patah sebagai sarana berkomunikasi agar kami nyambung ketika berbicara dengannya.

Bahasa Inggris beliau sangat bagus. Kami belajar banyak berbahasa Inggris darinya. Sedangkan beliau baru belajar berbahasa Indonesia dari kami. Kami saling belajar, namun, di bawah ini, pelajaran-pelajaran lain, mutiara-mutiara hidup yang aku petik dari berguru secara tidak langsung dari Mbak Mucha.

Tiada Hari Tanpa Menulis

Jika aku ditanya, siapa menginspirasiku untuk menulis? Aku akan bilang, Mbak Mucha. Bagaimana tidak? Dia tidak pernah lepas dari laptopnya. Pagi sampai sore dia berada di kampus. Di malam hari, dia tidak keluar kamar lagi. Dia "belajar" membaca dan menulis di kamarnya.

Pagi-pagi sebelum ke kampus atau sore hari setelah dari kampus, dia ke kamarku meminta tolong, untuk meminjam laptopku. Saat itu, aku punya koneksi internet 24 jam karena punya modem yang tiap bulannya punya data unlimited. Rupanya, dia mau mengirim artikel atau tulisan yang semalam ditulisnya pada "koran online" di Filipina sana. 

Namun, mbak Mucha tidak hampir setiap malamnya menulis. Dia terkadang mengajakku atau yang lainnya jalan-jalan, berwisata di waktu libur. Misalnya, hari sabtu dan minggu ketika aku atau kami senggang, kami akan pergi ke suatu tempat.

Dari wisata religi atau dan spiritual, wisata pendidikan, wisata komersil, sampai pada wisata budaya. Wisata religi/spiritual misalnya; ketika kami berziarah ke makam Sunan Bayat di Klaten, Jawa Tengah, ke kuburan Gus Dur di Jombang, Jawa Timur sampai pada ke Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Wisata Pendidikan menurutku ketika kami ke Kraton Yogyakarta, keliling toko buku di Jogja, ke perpustakaan di Jogja, sampai ke event-event pendidikan, seminar nasional dan internasional.

Wisata komersil adalah ketika kami ke Malioboro, pasar UGM, Sunday-Morning (Sunmor), Kopma UGM, Mirota Kampus, dan Mall-mall.

Wisata budaya yaitu; mengunjungi pameran-pameran seni dan budaya, ikut Grebeg Maulid, rebutan, ngalap berkah Kraton Jogja. Dan lain sebagainya, sampai ke pulau Dewata, Bali, bersama seorang mahasiswanya yang datang ke Indonesia.

Dan hasil "jalan-jalan" tadi akan dijadikannya sebagai bahan tulisan. Mulai dari call paper, jurnal, opini, esai, dan artikel ringan. Ajaib, gorengan, angkringan, yang bagiku biasa-biasa saja di mataku, oleh mbak Mucha, bisa disulap menjadi tulisan yang sangat keren tentang gaya hidup, budaya di Jogja yang dibandingkan dengan gaya hidup di Filipina sana.

Saat itu aku hanya bisa bergumam, "Wow keren." Aku hanya mampu menulis pada buku agenda dan diary, atau dan pada status dan notes di Facebook (FB) setiap hari

Baca Juga: Maha Inspirasi

Concern to Education

Selain sangat jago menulis, mbak Mucha sangat peduli pada pendidikan. Salah satu contohnya, ketika dia diundang dalam konferensi internasional di Jogja, dia mengajakku ikut serta dengannya. Kataku, aku tidak punya undangan dan tidak punya uang untuk membayar seminar itu. 

Kata Mbak Mucha, kita akan melobi panitia. Konferensi ini milik Sekolah dan kampus kita, harusnya panitia memberikan rekomendasi mahasiswanya untuk ikut. Apalagi, konferensi ini internasional yang ilmunya sayang dilewatkan.

Ketika kami telah tiba di ruang konferensi, di mana kami harus mendaftar, registrasi lebih dahulu, Mbak Mucha mengatakan bahwa dia membawaku sebagai asistennya. Dia meminta panitia mengizinkanku masuk.

Salah seorang panitia keberatan, namun dengan bijak mbak Mucha meminta tolong pada panitia karena saat itu bahasa Indonesianya masih kurang bagus, untuk membawaku sebagai penerjemahnya. Bahasa pengantar pada konferensi itu bahasa Inggris, namun mbak Mucha beralasan, bisa saja dalam kelas kecil, panel, ada yang berbahasa Indonesia.

Bukan hanya masalah konferensi internasional tadi dia peduli pada pendidikan. Ketika membeli buku, dia bisa memberikan rekomendasi buku yang recommended dan bagus dibaca. Dia membaca dari judulnya dan daftar isinya. Padahal, dia membaca buku berbahasa Indonesia itu masih terbata-bata. 

Mbak Mucha juga pernah memberikan rekomendasi untuk melanjutkan S3 untukku (sayang, waktu itu belum lolos). Rekomendasi dari beliau membuatku terharu. Mbak Mucha menulis surat yang resmi itu dengan sangat percaya diri, optimis, dan sangat jujur tentangku.

Ah, mbak Mucha memang mutiara. Masih banyak mutiara-mutiara dalam dirinya yang ingin kuceritakan.