Sejalan dengan kongres pertama Perempuan Indonesia yang diselenggarakan di Yogyakarta dari 22 sampai 26 Desember 1928, menghasilkan pendirian "Perikatan Perempuan Indonesia" (PPI) dengan pembahasan mengenai pendidikan perempuan, pernikahan, hak janda dan yatim piatu dari pegawai sipil.

Kemudian, kongres kedua PPI bertempat di Jakarta pada 26-31 Desember 1929. Nama organisasi diubah menjadi "Perikatan Perhimpunan Istri Idonesia" (PPII). Adapun kongres ketiga PPII berlangsung di Solo dari 25 sampai 29 Maret 1932 yang membahas mengenai “Perempuan Indonesia dan Politik”, “Kerja Sosial Perempuan” serta “nasionalisme” [Stuers, 2017: 121-127] 

Di tahun-tahun yang berurutan ini, selaras dengan semangat pergerakan perempuan, banyak sekali melatarbelakangi terbitnya sebuah karya sastra yang menyinggung hal tersebut, salah satunya yaitu dalam novel Belenggu karya Armijn Pane.

Perihal tersebut tergambarkan secara eksplisit dalam novel Belenggu karya Armijn. Novel yang terbit pertama kali pada tahun 1940 ini termasuk dalam periodisasi Novel Pujangga Baru dengan muatan kritik permasalahan sosial di masa itu.

Dalam novelnya, Pane yang banyak menyinggung mengenai gerakan feminisme dan kongres organisasi pergerakan perempuan serta realisasi di dalamnya. Terdapat dalam kutipan berikut;

“Dari nyonya Rusdio didengarnya Tini sangat giat dalam perkumpulan. Anak-anak dirumah piatu senang akan dia. Dia akan diutus ke kongres Perempuan seumumnya di Solo”[Pane: 94]. Selain itu, adapula dalam teks berikut “Masih terang terdengar suara nyonya Karyoso bercerita di Solo waktu kongres, tentang P.P.P.A” (Pane: 136)

Lewat tokoh Tini yang menjadi sosok penggambaran wanita pergerakan feminisme dalam novel Belenggu, penulis menjadikannya sebagai tokoh yang berada dalam dua oposisi. Pertama sebagai istri yang keras kepala, kasar dan tidak sopan terhadap suami,

Baca Juga: Queer Feminisme

“Ia hendak membelok ke tempat tidur, tiba-tiba berpaling, lalu dibukanya tasnya, kemudian jatuh terlempar bloc-note keatas meja dihadapan Sukartono. Sukartono terkejut memandang kearah istrinya, tetapi ia sudah berpaling lagi, menuju ke kamr tidur. ...” [Pane: 18-19].

Kedua, sebagai istri seorang pergerakan yang ingin memiliki kemerdekaan atas dirinya sendiri, hak atas kuasa tubuh dan pekerjaan, terdapat dalam teks berikut; “Apa bedanya engkau dan aku? Mestikah aku diam-diam duduk menjadi nona penjaga telepon dekat-dekat telepon? Aku kawin bukan hendak menjadi budak suruh-suruhmu menjaga telepon, buat apa bujang sebanyak itu disini”(Pane, hlm 61). 

Citra Perempuan yang terdapat di novel Belenggu ini dapat dijabarkan bahwa perempuan sebagai alat ideologi patriarki dan perempuan sebagai makhluk yang irasional. Perempuan lebih mengedepankan emosinya daripada logikanya dalam berpikir.

Dalam masyarakat, perempuan dianggap secara konstruksi budaya sebagai seorang ibu, yang hanya mengurus rumah tangga dan suaminya. Perempuan dianggap sebagai pekerja dapur, sumur, dan kasur. Menjelaskan posisi dari perempuan hanya memikirkan mengenai kodratnya saja, yaitu menjadi istri yang mengurus suami dan rumah tangga. 

Adapun bias gender yang terdapat di novel Belenggu ini dapat dijabarkan dalam bentuk dominasi laki-laki terhadap perempuan, subordinasi perempuan, dan posisi perempuan dalam kehidupan. Dalam kutipan berikut;

 “Apa katamu tadi? Tentang perempuan sekarang? Perempuan sekarang hendak sama haknya dengan kaum laki-laki. Apa yang hendak disamakan. Hak perempuan ialah mengurus anak, suaminya mengurus rumah tangga. 

Perempuan sekarang meminta hak saja pandai, kalau suaminya pulang kerja, benar dia suka menyambutnya, tetapi ia lupa mengajak suaminya duduk, biar ditanggalkannya sepatunya. 

Tak tahukah perempuan sekarang, kalau dia bersimpuh di hadapan suaminya akan menanggalkan sepatunya, tanda kasih, tanda setia? Apalagi hak perempuan, lain dari memberi hati kepada laki-laki?” [Pane: 17].

Dominasi laki-laki terhadap perempuan dimaksudkan bahwa laki-laki mampu mendominasi setiap keputusan yang dimusyawarahkan, sedangkan perempuan tidak. Sebab, perempuan dikondisikan dalam posisi lebih rendah dari laki-laki. 

Kondisi ini membuat perempuan berada dalam posisi tertindas, inferior, tidak memiliki kebebasan atas diri dan hidupnya. Posisi perempuan dalam kehidupan rumahtangga menjelaskan bahwa kedudukannya tidak lebih dari seorang penjaga rumah dan tidak mampu bertahan sendiri. 

Dalam teks “kalau di mata kami, tidak baik istri banyak-banyak keluar malam, tidak ditemani suaminya! Matanya memandang Tini dengan tajam, bukankah lakiku juga pergi sendirian? Mengapa aku tidak boleh? Apakah bedanya?.....kalau dia pergi seorang diri, tiada sempat menemani aku, mengapa aku tidak boleh pergi seorang diri menyenangkan hatiku?....saya yang akan disalahkan orang biarlah! kata Tini menyambung kalimat” [Pane: 54-55]

Tini dengan sifatnya yang sedemikian rupa membuat Tono berbuat perselingkuhan dengan Yah, teman semasa kecil yang menjadi pasien Tono. Perselingkuhan yang menjadi pembahasan paling penting dikala itu dalam dunia pergerakan wanita, hal tersebut menjadi perbincangan panas dalam masyarakat. Terlebih mengenai novel Belenggu karya Armijn Pane ini.

Perselingkuhan pada masa itu memang masih dianggap tabu untuk diperbincangkan di ranah umum. Maka dari itu, Armijn Pane berusaha menjadi pihak oposisi dari sebuah gerakan feminisme. Bahwa meskipun memperjuangkan kesetaraan gender dan hak wanita, namun jangan sampai melupakan hak wanita itu sendiri dalam hal rumah tangga. 

Apabila kedua pasangan sama keras kepalanya maka suatu hubungan tidak akan berjalan dengan mulus karena egoisme buta. Baik laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban yang sama untuk saling merawat sebuah hubungan rumahtangga.

Tidak ada kata siapa lebih berhak dari lainnya, dan siapa lebih bersalah dari yang lainnya. Perselingkuhan juga tidak dapat dimaklumi meskipun dengan berbagai alasan, karena itu hanyalah wujud sikap pengecut dan tidak bertanggungjawab.

Armin Pane adalah seorang sastrawan yang juga mempunyai banyak bakat, banyak hal seperti mengajar bahasa dan sejarah di sekolah kebangsaan Jakarta. Armin Pane juga seorang yang istimewa, sehingga Armin Pane menerima penghargaan Anugerah Seni dari RI pada tahun 1969 pada novel Belenggu.

Novel tersebut merupakan novel yang mempunyai sejarah menggemparkan karena pernah ditolak oleh Balai Pustaka. Karyanya tersebut ramai dipuji tetapi juga dicela [Ernis: 2018].  Namun akhirnya novel tersebut dapat diterima oleh masyarakat bahkan kini menjadi salah satu bacaan wajib bagi mahasiswa sastra.

  • Ernis. Poni. 2018. Perbandingan Tokoh Utama Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis dan Belenggu Karya Armijn Pane, Pena Literasi, Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, No. 1, Vol. 1,
  • Pane. Armijn. 2010. Belenggu. Jakarta: Dian Rakyat.
  • Stuers,Cora Vreede-De. 2017. Sejarah Perempuan Indonesia; Gerakan dan Pencapaian. Depok: Komunitas Bambu.