Arsiparis
3 minggu lalu · 132 view · 2 min baca · Puisi 31741_95821.jpg
Pixabay

Muasal Puisi

Muasal Puisi

Kita memulainya dengan mengenal aksara
mengasosiasikannya dengan benda benda
tiba tiba ia bermakna
saat kita memadukannya

meski ada yang bilang ia hanya tanda
bukankah segala di dunia ini perlu penanda

mungkin kita ciptakan tanda kita sendiri
dengan kata kata yang bersuara
dari benakmu dan olah rasa pembacamu

kadang ada kejutan
saat kata itu terlepas
ia menyuarakan sendiri tandanya
dan seringkali kita
silang sengkarut dibuatnya

Arswendo

Lembah atau ngarai baginya sama
menjadi tanda dalam perjalanannya
banyak cerita bermula dari langkah pertama
diendapkannya dalam detak detik waktu

pada mulanya hanyalah menggambar
kemudian ia lukis dengan aksara
menjelmalah ratusan prosa

ia tak peduli mutu
baginya sastra adalah kebermanfaatan
dan menancap dalam di benak penikmatnya

kini ia telah menuntaskan pengembaraannya
namun gema katakatanya
tidak menjadi pamungkas
karena ia meraung abadi di setiap bibir pengeja kata

Ampas Kopi

di meja itu
aroma kopi menghambur
kegetiran pagi hari ditandaskan
merawat semangat dan kenangan
di bibir gelas Yu Rasmi

nyala api itu menyapa bibirmu
kau hisap rencana rencana harimu
pernahkah kau sadari
sedangkan harimu kau hanya menjalani

kau hembuskan jelaga kekalutanmu
melesat bersama egomu
saat kau terduduk dan teringat
betapa hidup itu hanyalah anugerah
hanya perlu menerima di dalamnya

sebagaimana ampas kopi
kunyahlah jangan kau muntahkan
karena menikmati berbeda dengan mengonsumsi

Akad

Pagi pecah oleh kata sang jejaka
Saat ia mengucap kunikahi kamu dengan mahar tersebut
menangislah kaca dan jendela langit
mendoakanmu dengan kelirihan
Dan bergetarlah istana langit
Saat amin itu menggema di kalbu dua keluarga

Sisa mimpimu

Pagi tadi bulan masih tertinggal

Diujung langit berawan

Segaris lengkung bagai alismu

Mungkin ia sengaja kesiangan untukku

Atau…….

Itu sisa mimpimu yang tertinggal

Sendiri

Aku sendiri
menekuri riuh dunia
keindahannya dan kepalsuannya
kulumat dengan mata
bayangan itu membuatku lupa

ada yang berbisik lirih
suara suara langit
aku mengeja setiap aksara
tak jua kudapat makna
aku terkungkung dalam kurung fana
terjerembab
melupa
tanpa suara
aku terjaga sendiri
saat jauh dari Nun.....
Yang dengannya aku dituntun

Angin Tenggara

angin tenggara yang dingin
menyapa kemarau Juli
gigil ini mengingatkanku
pada segara wedhi
kuikuti jejakmu dalam gelap
menaiki puncak hanya untuk menjemputmu
pagi itu menjadi pagi kita
kala saling bergenggaman menikmati hangatnya jingga

Saat kau memenangkan hatiku

Sambil kulihat parasmu
kukenang wajah wajah kekasihku di sudut sudut wajahmu
Mendadak ada airmatamu
pada beningnya hanya ada aku

saat kudekap tubuhmu
terhirup aneka aroma tubuh perempuan perempuanku dahulu
tiba tiba kau bergumam
hanya aromamu yang pernah singgah di hidungku

saat itu aku tahu telah terpenjara dalam benakmu
mengendap dalam gelap palung hatimu
dan aku....
bersimpuh dalam kekalahanku
saat kau memenangkan hatiku

Suara Langit

Aku sendiri
menekuri riuh dunia
keindahannya dan kepalsuannya
kulumat dengan mata
bayangan itu membuatku lupa

ada yang berbisik lirih
suara suara langit
aku mengeja setiap aksara
tak jua kudapat makna
aku terkungkung dalam kurung fana
terjerembab
melupa
tanpa suara
aku terjaga sendiri
saat jauh dari Nun.....
Yang dengannya aku dituntun

garis hidup

tapak tapak yang berserakan
membawa angan ke segala jurusan
tersandung dalam gempita sesaat
terjaga kala sedikit luka mendera

sejenak menangisi kegagalan
lalu....mencoba tertawa
untuk terus mengikuti garis garis hidup
yang terarsir dalam lembar perjalanan
kemudian aku ingat kamu
pernah berjanji, temui aku

Patahunan

Di sela reruntuhan itu
berceritalah Sang Hyang Patahunan
mengabdilah Airlangga!
pada kebenaran dan keadilan

tinggalkan sejenak keduniawian
di sini kekuasaan disepuh kencana
kau akan mengerti jalan nirvana

tapakilah tangga batu itu, Airlangga!
saat purna kau bersemedi
jadilah pamong yang mengayomi

basuhlah wajah keduniawianmu pada patirtan suci
leburkan Rupadatu
kelak kisahmu akan abadi
di sini di bumi Patakan

Stasiun Senen

Bercerita tentang wajah wajah baru
Menyapa dengan ragu ragu
Yang datang mengharu biru
Apa yang kau cari
Stasiun senen menjadi saksi
Berjuta wajah mencari harapan
Lorong kosong itu lengang
Menangisi anak anak entah datang untuk siapa
Bunyi kereta menyadarkan lamunan
Sore itu sebuah perpisahan dinyatakan
Dan penyambutan mengejutkan
Ruang gelap dengan pintu yang tergantung.
Sepi.........

Bang Ben

Saat semua yang parlente menjadi ukuran
Wajah udik membuatnya meraja
Aku adalah biang kerok
Bagi  kemapanan palsu kotaku
Aku berjoget dengan hati
Berbicara dengan rasa
Tidak seperti kalian
Bergaya palsu  sambil tertawa tawa

Lenong 

Aktor aktor berbicara saling ejek
Di ibukota keterbukaan adalah harga yang mahal
Dalam adegan lenong waga Jakarta menumpahkan resah
Saat aktor melempar kata ke penontonnya, Ape, Lu liat liat
Penonton tertawa ………hahahahaha

Artikel Terkait