Perubahan tatanan sosial masyarakat dari zaman ke zaman selalu mengalami perubahan. Hal ini ditengarai oleh kebutuhan manusia sebagi pelaku sosial yang selalu mengalami perkembangan. Terdapat dua konsep penting yang selalu menjadi perbincangan apabila kita akan membahas mengenai perubahan tatanan sosial masyarakat yang berubah dari zaman ke zaman, yaitu konsep modern dan  konsep tradisional.

Konsep Modernitas selalu menjadi bahan kontradiksi dengan konsep tradisional. Bila ditinjau berdasarkan KBBI, modern adalah sikap dan cara berpikir serta cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman; sedangkan tradisional adalah sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun-temurun.

Banyak hal yang menjadi pembeda dari kedua konsep ini, terkhusus di bidang teknologi, terdapat perbedaan yang mencolok dikedua konsep ini, dimana dalam konsep tradisional, teknologinya cenderung masih belum berkembang, alat-alat yang digunakan masih sederhana dan keadaan sebaliknya ada pada konsep modern, di mana teknologi pada konsep ini, lebih menonjolkan pada teknologi yang lebih maju, serta alat-alat yang digunakan lebih canggih.

Pengaruh konsep modern dan konsep tradisional dalam dunia permainan juga sangat kental terasa. Salah satu indikatornya adalah alat yang digunakan dalam permainan. Alat yang digunakan dalam permainan tradisional umumnya menggunakan alat yang sederhana, serta mudah ditemukan di alam, seperti kayu atau bambu. Oleh karenanya, permainan tradisional umumnya dilakukan di luar ruangan sehingga langsung bersentuhan alam terbuka.

Selain itu, permainan tradisional mengharuskan pemainnya melakukan partisipasi aktif dalam hal ini yakni melakukan gerakan berjalan bahkan berlari (bentuk konsensus, tanpa mengesampingkan permainan tradisional yang dilakukan di dalam ruangan dan tanpa melakukan gerakan berjalan atau berlari).

Sedangkan pada permainan modern, alat yang digunakan sudah menggunakan teknologi yang lebih canggih, contohnya game konsol yang seringkali dihubungkan ke layar monitor atau televisi sehingga menampilkan olahan audio visual dan pemain cuma diharuskan menekan beberapa tombol untuk bisa memainkan permainan yang ada.

Dari segi biaya yang dikeluarkan, permainan tradisional cenderung menggunakan lebih sedikit biaya dan bahkan ada yang tak mengeluarkan biaya sama sekali. Sedangkan, permainan modern umumnya mengeluarkan lebih banyak biaya karena alat sarana permainan modern menggunakan teknologi yang lebih canggih dan lebih maju.

Banyak hal yang menjadi pembeda antara konsep tradisional dan konsep modern, dan masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Namun, dalam artikel ini, penyusun membatasi pembahasan hanya sampai pada peninjauan nilai, moral dan etika yang terkandung dalam permainan tradisional serta seberapa besar pengaruhnya terhadap aspek kognitif, afektif dan psikomotorik pemainnya.

Permainan Tradisional sebagai perpaduan Filosofi dan Pendidikan Karakter

Negara kepulauan adalah salah satu julukan yang dimiliki Indonesia karena Indonesia terdiri dari beberapa pulau besar hingga pulau kecil yang terbentang dari sabang sampai merauke. Dari beragamnya pulau ini, maka beragam pula kebudayaan yang mencirikan masyarakat yang bermukim di pulau tersebut. Menurut KBBI, kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat.

Menurut Danangjaya (1986) dalam Hidayat (2013), Foklor adalah bagian dari kebudayaan dari berbagai kolektif di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya, yang disebarkan turun-temurun di antara kolektif-kolektif yang bersangkutan, baik dalam bentuk lisan, maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat/mnemonic devices.

Foklor dapat berupa cerita rakyat, nyanyian rakyat, permainan rakyat, teater rakyat, kepercayaan rakyat, dan lain-lain.  Permainan rakyat sering kali juga disebut sebagai permainan tradisional.

Permainan tradisional merupakan salah satu cara/media bagi pemain khususnya  anak-anak  untuk menanamkan nilai sikap, perilaku, dan keterampilan dengan cara yang menyenangkan. Terdapat makna filosofis dan luhur seperti nilai agama, nilai edukatif, norma, dan etika  yang kesemuannya itu akan bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain itu, melalui permainan tradisional kita dapat mengajarkan pendidikan karakter karena melihat fenomena yang ada pada saat sekarang, anak-anak bangsa krisis moral dan kurang menghargai nilai-nilai yang dicita-citakan melalui idiologi bangsa yaitu Pancasila.

Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menekankan agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama. Maka dari itu, pendidikan karakter sangatlah penting untuk kita tanamkan khususnya bagi anak penerus bangsa.

Menurut Hidayat (2013), Permainan Tradisional yang ada di berbagai belahan nusantara ini dapat menstimulasi berbagai aspek perkembangan anak, seperti (a) aspek motorik, berperan dalam melatih daya tahan, daya lentur,  sensorimotorik, motorik kasar, motorik halus; (b) aspek kognitif berperan dalam mengembangkan imaginasi,  kreativitas, problem solving, strategi, antisipatif, pemahaman konstekstual;

(c) aspek emosi, berperan dalam melatih kontrol emosi, mengasah empati, pengendalian diri; (d) aspek bahasa, berperan dalam melatih pemahaman konsep-konsep nilai; (e) aspek sosial, berperan dalam melatih jalinan relasi, kerja sama, melatih kematangan sosial dengan  teman sebaya dan meletakkan fondasi untuk melatih keterampilan sosialisasi berlatih peran dengan orang yang lebih  dewas/masyarakat;

(f)  aspek  spriritual, berperan dalam melatih kesadaran akan   keterhubungan  dengan sesuatu  bersifat  Agung; (g) aspek ekologis, berperan dalam memahami  pemanfaatan  elemen-elemen alam sekitar secara bijaksana; (h) aspek nilai-nilai/moral, berperan dalam melatih penghayatan nilai-nilai moral yang diwariskan dari generasi terdahulu kepada generasi selanjutnya

MTGF dan Falsafah Hidup Masyarakat Sulawesi Selatan

Di Indonesia, terdapat beberapa jenis permainan tradisional yang teknis permainannya sama namun nama permainannya beda. Contohnya untuk permainan berjalan menggunakan bambu, di Jawa dikenal dengan nama egrang, di Sumatera Barat dikenal dengan nama tengkak-tengkak, di Bengkulu disebut ingkau, di Kalimantan Selatan disebut batungkau, di Sulawesi Selatan dikenal dengan longgak.

Salah satu provinsi yang memiliki beraneka ragam permainan tradisional adalah provinsi Sulawesi Selatan, diantaranya adalah maggasing, lambasena, bulang-bulang, ma’benteng, beklan, massanto’, gebo’, bagoli’, maccukke’, asing-asing, gebo’, mallogo , dll.

Seperti yang dibahas sebelumnya, permainan tradisional selalu memiliki nilai filosofis apalagi bila dikaitkan dengan falsafah hidup. Begitu pula, permainan tradisional Sulawesi Selatan erat kaitannya dengan falsafah hidup masyarakat Sulawesi Selatan, terutama falsafah hidup yang paling terkenal yaitu Siri’ na Pacce.

Jika ditinjau dari aspek etimologis, Siri na Pacce berasal dari bahasa Bugis Makassar (namun bukan berarti tidak relevan dengan falsafah hidup suku-suku lain yang ada di Sulawesi Selatan), siri’ berarti rasa malu (harga diri), sedangkan pacce atau dalam bahasa Bugis disebu pesse yang berarti pedih/pedas (keras, kokoh pendirian).  Falsafah ini merupakan falsafah general dari masyarakat Sulawesi Selatan.

Melalui falsafah Siri na pacce, kita diajarkan untuk menjunjung tinggi persoalan siri atau rasa malu, malu untuk melakukan perbuatan yang tidak baik, yakni perbuatan yang memalukan yang bertentangan dengan norma agama, hukum maupun norma adat dan kesopanan.

Sedangkan, pacce mengajarkan sebuah sikap kepekaan atau ikut merasakan penderitaan sesama manusia. Ini merupakan pondasi untuk membangun solidaritas serta akan memicu keinginan untuk senantiasa mengulurkan pertolongan bagi mereka yang membutuhkannya.

Seiring perkembangan zaman yang semakin modern dan ditambah dengan teknologi yang semakin maju, maka terjadilah pergeseran budaya yang mengakibatkan hal-hal bersifat “primitif’ semakin ditinggalkan. Tidak terkecuali dengan permainan tradisional. Hampir saat ini kita jarang sekali menemukan anak-anak yang memainkan permainan tradisional, kejadian ini tidak hanya berlaku di daerah perkotaan saja bahkan sudah sampai di daerah pedesaan.

Dampak yang signifikan akibat pergeseran ini adalah ada beberapa jenis permainan tradisional yang mengalami “kepunahan”. Hal ini tentu saja fakta yang memprihatinkan karena sadar tidak sadar kita telah ikut berpartisipasi dalam memusnahkan kearifan lokal yang ada.

Berangkat dari keprihatinan ini, salah satu komunitas yang menamakan diri “Jalan-Jalan Seru” melakukan kampanye sekaligus mengadakan acara/event tahunan yang bertujuan mengenalkan permainan tradisional yang ada di Sulawesi Selatan melalui kegiatan yang bernama Makassar Traditional Games Festival (MTGF).

Komunitas Jalan-Jalan Seru merupakan komunitas yang aktif melakukan ekplorasi alam sekaligus ajang menemukan tempat wisata alam baik itu berupa wisata air, gunung, dan gua. Komunitas ini tersebar di beberapa wilayah yang ada di Indonesia dan berpusat di kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Kegiatan Makassar Traditional Games Festival merupakan agenda tahunan dari komunitas ini yang dimulai pada tahun 2013. Melalui kegiatan ini, masyarakat baik orang tua maupun anak-anak diajak berkenalan pun bernostalgia kembali dengan permainan tradisional.

Kegiatan ini sebenarnya lebih mengarah ke festival foklor, yakni pesta rakyat (bukan pemilu), karena selain menampilkan permainan tradisional, pengunjung juga disuguhkan pasar rakyat (tradisional), teater rakyat, coaching pembuatan mainan tradisional, dan masih banyak kegiatan lainnya.

Ini cuma satu dari sekian gerakan/kegiatan yang dari, oleh, dan untuk rakyat. Bila dikaitkan lagi dengan momentum Hari Sumpah Pemuda, pun ini masih selaras karena kegiatan/gerakan semacam ini umumnya dipelopori oleh para pemuda. Untuk penutup artikel ini, saya akan meminjam Quotes dari albert Einstein yang mendiktumkan bahwa “Aku takut suatu hari teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi idiot.”