Guru berarti digugu dan ditiru. Mudah memahami guru sebagai jabatan. Namun tidak mudah menjadi sosok, yang digugu dan ditiru.

Seringkali terjadi, salah satu penyebab seorang guru tak mampu mengendalikan peserta didiknya ialah karena dalam keseharian hidupnya, terdapat perbedaan antara apa yang dikatakan atau diajarkan dengan kenyataan yang menjadi hidupnya sehari-hari. Atau dengan kata lain ada kontradiksi antara perkataan dan perbuatan. Kontradiksi seperti ini membuktikan adanya degradasi moral, dan itu berarti pencerahan moral harus dipandang sebagai sesuatu yang urgen untuk dilakukan, dan karena itu tidak tawar-menawar. 

Apa yang dikatakan sebagai urgen itu, tentu yang dimaksudkan di sini ialah moralitas personal atau kata lainnya teladan hidup moral. Moral ini penting. Pentingnya terletak pada kontribusinya pada kepribadian seorang guru, yang harus nampak melalui pola hidupnya. 

Pola hidup seorang guru, karena sangat dituntut keteladanan hidupnya, dan supaya keteladanan hidup itu dapat dipertanggungjawabkan, maka sebetulnya pertama-tama, seorang guru perlu memahami dan menghayati secara baik prinsip universal moral. Prinsip itu ialah lakukan yang baik, dan hindari yang jahat. 

Itu berarti, seorang guru tak dapat terlepas dari prinsip universal moral. Dan benar, pendidikan karakter sebetulnya merupakan corong bagi moral, untuk menunjukkan dirinya dalam dunia pendidikan. 

Pendidikan tanpa moral, beresiko pada pelegalan kekerasan ide dan pengetahuan. Moral tanpa pendidikan, akan berhadapan dengan resiko paksa kehendak. 

Nah, tantangan degradasi moral dalam dunia pendidikan tentu bukan hal baru. Yang menjadi hal baru saat ini, dan bahkan sulit dibendung ialah merasuk masuknya mental instan media sosial dalam tubuh pendidikan. Ini disebabkan karena mudahnya akses teknologi dan informasi via media sosial via WhatsApp, Facebook, YouTube, Tiktok, Instagram, dan beberapa link lainnya.  

Sederhananya, kalau diperhatikan secara serius, anak-anak sekarang, banyak kali merasa keberatan jika disodorkan bahan bacaan ilmiah. Kenyataan ini berbeda,  kalau yang disodorkan ialah game entah online maupun offline. Artinya, kecenderungan anak-anak zaman ini, lebih suka bermain game, daripada bahan bacaan ilmiah.

Fakta pada anak-anak itu, menjadi lebih parah, lantaran guru-guru yang menjadi pendidiknya, lebih suka bermain game daripada akses informasi ilmiah. Apabila guru-guru pun bermental seperti itu, maka tidak heran, materi yang diajarkan ke anak-anak didik, cuman yang itu-itu aja. Sementara perkembangan ilmu pengetahuan terus berkembang hingga saat ini. 

Pendidikan karakter pun tak dapat terlepas dari pemahaman terhadap ilmu dan pengetahuan secara memadai. Ciri khas kebaikan intelektual terletak pada keabsahan kebenaran ilmu yang diwartakan. Maka seorang guru, tidak dapat dan tidak boleh membagikan suatu ilmu yang tidak diketahuinya dengan pasti. Di sinilah letak karakter ilmu. Dan yang memiliki keabsahan otoritas itu terletak pada tangan seorang guru.  

Praktisnya, arahan dalam tulisan ini lebih kepada satuan pendidikan formal. Dalam satuan pendidikan formal, guru menduduki posisi penting dan utama. Sekalipun, anak-anak didik lebih dituntut untuk belajar mandiri, namun tak dapat disepelekan peranan seorang guru. Dan justru karena penting, maka persiapan matang seorang guru, sangat dituntut karena merupakan kewajiban dan kehormatannya. 

Beberapa tantangan sudah disebutkan sebelumnya. Walaupun tantangan itu silih berganti, entah terhadap subjeknya, prosesnya, maupun output-outcomenya, namun terdapat pula peluang emas, yang seharusnya dipandang perlu untuk dimanfaatkan. 

Terbukanya akses jaringan dan akses teknologi, merupakan peluang bagi seorang guru, untuk berselancar secara seni dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Mudahnya akses e-booknya, e-paper dan berbagai jurnal ilmiah merupakan peluang emas bagi guru, ketika ingin menggenjot aspek kognitif peserta didik. 

Tersebarnya berbagai peralatan elektronik semisal HP, Notebook, Laptop, merupakan peluang istimewa bagi anak-anak didik dan pendidik. Dan hal ini hanya dapat berjalan kalau ada kerja sama dan kerja bersama-sama menciptakan peluang dan menjadikan peluang sebagai peluang edukasi dan bernada mendidik. 

Mudahnya akses informasi darimana saja, dan boleh di mana saja, dan apa saja, sebetulnya merupakan peluang bagi percepatan akses pembelajaran dan pendidikan bagi pendidik dan peserta didik.

Di tengah berbagai kemudahan yang ada itu, selain defacto tantangan media sosial seperti yang disebutkan sebelumnya, adapula tantangan pada ekonomi. 

Percepatan tugas akademik banyak kali mengalami hambatan karena keterbatasan finansial untuk mengakses pulsa elektrik dan peralatan elektrik lainnya. Sementara, banyak di antara guru-guru tak memahami itu, dan bahkan tidak mau peduli dengan situasi yang dialami anak-anak didik. 

Terkadang, tersebab percepatan informasi, guru tak banyak memberi waktu bagi anak-anak didik untuk mengerjakan tugas. Akibatnya, kebiasaan copy-paste dari google ataupun dari artikel dilakukan sebagai tindakan penyelematan kehendak guru daripada niat tinggi untuk belajar lebih banyak. 

Terjadi juga, para pendidik atau guru lancar saja mentransfer ilmu dari google ke anak-anak didik tanpa didalami secara baik. Akibatnya, pembelajaran lebih banyak menyuguhkan rasa jenuh karena formulasi kalimat yang disodorkan, tidak dipahami anak-anak didik, sehingga tidak menciptakan daya tahan bagi anak-anak didik dalam ruang dan situasi pembelajaran. 

Formulasi kalimat atau pernyataan mendidik, jika tak dipahami anak-anak didik, dan tidak dibarengi dengan sikap teliti dalam memberi penjelasan, hanya akan menimbulkan gagal paham anak-anak didik di dalam ruangan, yang seharusnya di tempat itu, mereka harus mengalami pembebasan dalam dunia pendidikan. 

Situasi seperti di atas dilukiskan sedikit bergaya narasi namun unsur faktualnya perlu diperhitungkan sebagai problem yang membutuh solvingnya. 


Penulis : RD. Yudel Neno/Rohaniwan Katolik di Keuskupan Atambua