Seiring majunya peradaban manusia, kita tidak lagi melihat dan membaca barang dengan apa adanya, tapi melihat barang sekaligus menilai dan memberi arti pada barang itu.

Kita mungkin pernah bahkan sering melihat komentar yang berbunyi, “Maaf, rokoknya Magnum minggir dulu”; atau, “Yang motornya Beat harap mundur” di kolom komentar unggahan para wanita cantik, seksi, plus lucu di Twitter ataupun Instagram.

Komentar seperti itu mungkin bukan sekadar lelucon, tetapi erat kaitannya dengan sistem komunikasi yang ingin menunjukkan kelas sosialnya.

Kita adalah homo symbolicum, makhluk yang menyukai simbol atau lambang. Kita senang untuk memberikan makna pada tanda dan menjadikan itu simbol yang mengandung maksud tertentu.

Komunikasi selalu berumah dalam bahasa dan bahasa adalah tanda. Maka dalam hal ini ada pesan yang ingin disampaikan, namun pesan ini tidak didefinisikan pada barangnya—rokok Magnum dan motor Beat—melainkan oleh penuturnya, yaitu orang atau sekelompok orang yang menaruh makna pada barang itu.

Rokok Magnum dan motor Beat dalam artian sekarang bisa disimbolkan dengan suatu kelas dalam masyarakat. Yang berarti siapa yang merokok merek Magnum atau orang yang berkendara motor Beat bisa dimaknai pemakai atau pengendaranya berada di kelas sosial apa.

Kenapa bisa demikian? Sebab rokok bermerek Magnum dan motor bermerek Beat di sini sudah tidak bernada netral lagi, melainkan sudah diberi makna baru.

Hendaknya untuk mempermudah penjelasan, kita bisa meminjam teori Triadik (Triangle Meaning Semiotics) yang digagas oleh C.S Pierce; ada Representament, yaitu tanda, ada Object, yaitu sesuatu yang diwakili oleh tanda, dan Interpretan, yaitu makna dari tanda.

Setiap tanda pada akhirnya mengalami proses signifikansi, yaitu pemaknaan oleh pemakai. Di sinilah terjadi interpretasi.

Konsep yang digunakan di sini adalah memberi bingkai sesuai runtutan situasi dan kejadian. Sebab sudah tidak ada lagi barang apa adanya. Semua barang menjadi sebuah simbol prestisenya sendiri, bahkan menjadi simbol status kelas.

Dari Konsep Tanda ke Fungsi Makna

Rokok adalah tembakau dengan banyak campuran zat yang dilintingkan kepada kertas, yang tugasnya diisap dan bisa menghasilkan asap.

Rokok Magnum dalam artian sebenarnya adalah rokok yang bermerek Magnum, tapi ini hanya sebatas objectKarena manusia selalu bermain dengan makna, rokok Magnum dalam kenyataannya sekarang sudah mempunyai makna kelas bawah.

Ini disebabkan pada Interpretan rokok Magnum yang kalah elegan dengan rokok lain, seperti merek Marlboro, atau Sampoerna Mild.

Rokok tidak lepas dari oposisi biner, yang memiliki tandingan, yang satu superior dan satu lagi inferior. Rokok magnum identik dengan rokoknya anak-anak tongkrongan—para mahasiswa, anak-anak sekolah, atau para anak jalanan—yang banyak dibeli dari hasil patungan.

Berbeda dengan Rokok Marlboro atau Sampoerna Mild yang diidentikkan rokoknya bos-bos atau para pekerja kantoran.

Serupa dengan rokok Magnum, motor Beat pun di mata manusia sekarang demikian nasibnya. Motor beat adalah kendaraan roda dua yang digerakkan oleh sebuah mesin yang berfungsi mempermudah dan menjadikan perjalanan lebih cepat.

Intrepretan motor Beat adalah motor yang diperuntukkan untuk orang yang ekonominya rendah, dan biasanya membelinya pun dengan cara mencicil. Ini disebabkan banyak motor lain yang lebih elegan dan bergaya mewah yang diperuntukkan untuk para kelas atas, seperti motor Nmax atau Vespa Matic.

Dari tampilan dan mesinnya pun terlihat perbedaan kelas dan biasanya para pemakainya lebih merasa cool dan meningkat rasa kejantanannya ketika berkendara dengan motor seperti ini.

Dari Interpretan itulah perokok Magnum dan pengendara motor Beat Repsentament dari kelas bawah. Dikarenakan tingkat pemahaman dan keberlakuan tanda ini masih bersifat kemungkinan atau masih potensial, maka tanda ini sifatnya konvensional, yaitu kesepakatan sosial (tanda dan makna) di antara komunitas pemakai juga pembaca tanda.

Maka tak heran komentar “rokok Magnum minggir dulu” atau “motor beat mundur” hanya ada dan berlaku di saat wanita cantik dan seksi mengunggah foto di media sosialnya.

Ini dikarenakan para pemakai dan pembaca tanda saling mengerti. Komentar seperti itu juga bisa dibaca adanya suatu peringatan, yang berarti jika rokoknya Magnum atau motornya Beat sudah pasti tidak selevel dengan wanita cantik yang biaya hidupnya tinggi, seperti ke salon dan biaya beli skin care.

Lebih jauh lagi, tanda itu berbicara, “Sudah, jika rokoknya Magnum dan motornya beat, jangan berharap bisa mendapatkan perempuan seperti itu.”

Wanita cantik kaitannya pada konteks tanda ini adalah capaian yang bisa dibayangkan oleh kita yang berada di posisi apa, apakah kelas bawah yang tidak memungkinkan untuk mendapatkan wanita cantik atau di kelas atas yang berpotensi besar untuk mendapatkan wanita cantik.

Dalam hal ini tanda dan makna yang diciptakan banyak mereduksi kualitas dan hanya mementingkan kuantitas. Semua manusia dipandang hanya berdasarkan barang yang dipakai.

Manusia tidak dilihat lagi dari tingkah lakunya karena sudah dinilai dari reduksinya pada barang. Hanya melihat dari rokok yang diisapnya dan motor yang dikendarainya, Kita sudah dipaksa untuk menilai kelas sosialnya.

Perbedaan keunikan pun direduksi menjadi satu identitas, seperti para perokok Magnum dan pengendara Beat yang diidentifikasikan dengan rakyat kelas bawah, yang tidak berhak untuk mendapatkan wanita cantik. Dikarenakan kita hanya rakyat biasa yang sebatas mengonsumsi tanda dan makna kita tidak bisa terlepas dari hal ini dan jika kita mempercayai hal ini kita termakan oleh simbol yang diciptakan.

Pada dasarnya itu semua adalah tanda yang kosong, dan kita sebagai rakyat kelas bawah tidak diizinkan mengisi kekosongan tanda itu dengan makna yang kita inginkan sendiri. Secara tidak langsung kita harus mengikuti tanda yang telah mereka isi dan sediakan.

Dalam hal ini pembuat tanda banyak dari penguasa, atau dari media untuk kepentingannya dan terkadang tujuannya sebatas melakukan pembedaan. Yaitu tindakan membedakan diri yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk menunjukkan kelas sosialnya dalam masyarakat terhadap orang atau kelompok lain.

Seperti kelas atas melakukan pembedaan dengan memakai Vape atau rokok elektrik untuk memperlihatkan bagaimana ia selalu up-to-date dan lebih modern dibanding yang lain.

Kelas bawah juga melakukan reaksi yang sama, seperti sengaja memakai Vespa butut yang dihiasi sampah-sampah atau merokok dengan tidak membeli rokok bermerek pada umumnya ia malah membeli tembakau sendiri, kertas linting rokoknya sendiri yang biasa disebut papir dan melintingnya sendiri untuk diisapnya.

Namun menurut Pierre Bourdieu (sosiolog Prancis), pembedaan yang dilakukan kelas bawah ini bukan distinction atau pembedaan yang dilakukan kelas atas, melainkan suatu rasistance, yaitu bentuk perlawanan.