Belajar, dalam realitanya terdapat orang yang sejak kecil rajin belajar meski tak ada yang menyuruhnya, hingga dewasa ia rajin atas kemauannya sendiri. Namun di sisi lain terdapat pula orang yang semula rajin belajar, tiba-tiba menjadi malas, tidak mau lagi belajar dan akhirnya nilainya anjlok serta berakhir dengan berhenti sekolah. 

Sebaliknya ada pula orang yang pada awalnya malas, belajar-pun seenaknya, nilai yang dihasilkan amat rendah, tiba-tiba ia menjadi rajin belajar, ia mencapai prestasi yang tinggi dan berhasil lulus dengan predikat terbaik dari sekolahnya. Kejadian tersebut adalah proses dan akibat yang dipengaruhi oleh motivasi.

Proses pendidikan bukan hanya terjadi melalui interaksi antara guru dan murid, dosen dan mahasiswa, santri dan kyai, melainkan juga interaksi antara semua yang terlibat dengan kegiatan pendidikan, baik langsung atau tidak langsung. Agar proses interaksi itu berjalan dengan efektif, maka masing-masing pihak harus berada dalam kondisi psikologi yang nyaman dan menyenangkan.

Diantara faktor penting yang mempengaruhi proses belajar dalam dunia pendidikan adalah motivasi, di mana ia dianggap sebagai faktor dominan. Setiap kegiatan manusia pada dasarnya dilandasi oleh adanya dorongan untuk mencapai tujuan atau terpenuhinya kebutuhan, daya pendorong itulah yang dinamakan motivasi, dalam beberapa terminologi, motivasi dinyatakan sebagai sebuah kebutuhan, keinginan, gerak hati, naluri dan dorongan, yaitu sesuatu yang memaksa organisme manusia untuk berbuat sesuatu atau bertindak.1 

Dengan kata lain, motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan, motivasi juga bukanlah hal yang dapat diamati, tetapi hal yang dapat disimpulkan adanya karena sesuatu yang dapat kita saksikan.2

Istilah motivasi terkadang dibedakan pengertiannya dengan istilah motif. Winkel menyatakan bahwa motivasi adalah motif yang sudah menjadi aktif pada saat tertentu, sedangkan motif adalah daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan kegiatan tertentu demi menggapai suatu tujuan tertentu pula.3 Dengan demikian, motif itu timbul dari dalam diri, sedangkan motivasi itu dapat bersumber dari diri sendiri atau orang lain.

Berdasarkan sumbernya, motivasi belajar terbagi dua jenis, yaitu; motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik ialah motivasi yang timbul dari dalam diri orang yang bersangkutan tanpa rangsangan atau bantuan orang lain, misalnya seorang siswa belajar dengan giat karena ingin menguasai berbagai ilmu yang dipelajari di sekolahnya. Motivasi intrinsik dapat berupa kepribadian, sikap, pengalaman, pendidikan atau berupa penghargaan dan cita-cita. 

Sedangkan motivasi ekstrinsik itu motivasi yang muncul karena rangsangan atau bantuan dari orang lain, biasanya terjadi karena keinginan untuk menerima ganjaran atau menghindari hukuman. Ganjaran dan hukuman itu adalah faktor eksternal, misalnya seorang siswa mengerjakan PR karena takut dihukum oleh guru.4

Perspektif Islam

Teori-teori tentang motivasi belajar biasanya banyak didasarkan atau bersumber kepada teori-teori barat, diantaranya dikemukakan oleh Morgan dkk. tentang empat teori motivasi, yaitu : teori Drive, teori Insentif, teori Opponent-Process, dan teori Optimal-Level.5 

Lalu sebagaimana yang diungkap oleh Elliot, dkk. mengemukakan empat teori motivasi yang lebih banyak dianut saat ini dibanding teori Morgan sebab itu dianggap pandangan lama tentang motivasi, yaitu teori Hierarki kebutuhan Maslow, teori Kognitif Brunner, teori Kebutuhan Berprestasi, dan teori Atribusi.Kemudian masih ada dua teori yang berkaitan dengan teori motivasi belajar, yaitu teori operant-conditioning Skinner dan teori social-cognitive Learning.

Mujib dan Mudzakir mengungkapkan berbagai bentuk motivasi yang dirumuskan oleh para psikolog hanya bersifat duniawi, berjangka pendek, dan sama sekali tidak menyentuh aspek-aspek spritual dan ilahiah.7

Dalam Islam, motivasi juga diakui memiliki peran penting dalam belajar, sebab seseorang yang mempunyai motivasi yang kuat dan tinggi untuk mencapai tujuan tertentu, maka ia akan mencurahkan segala usaha yang diperlukan untuk mempelajari metode-metode yang tepat guna mencapai tujuan tersebut, jika ia menghadapi suatu masalah dan perlu untuk memecahkannya, maka ia akan melakukan berbagai upaya untuk itu sampai ia menemukan solusinya yang tepat.8

Najati mengungkapkan teknik-teknik motivasi yang terdapat dalam Al-Quràn dan mencakup tiga bentuk, yaitu: janji/ancaman, kisah, dan pemanfaatan peristiwa penting.

Pertama, Janji dan Ancaman yang dimaksud di atas maksudnya adalah Al-Quràn menjanjikan pahala ganjaran yang akan diperoleh orang-orang beriman di akhirat, dan juga mengancam akan menimpakan siksa dan azab bagi orang-orang kafir di akhirat juga. 

Janji dan ancaman ini menimbulkan harapan dan rasa takut yang menjadi dorongan yang kuat bagi setiap kaum muslimin untuk melakukan amal baik selama hidup di dunia, termasuk belajar atau menuntut ilmu.

Kedua, Kisah atau hikayat dalam kitab suci yaitu menyajikan berbagai cerita, kejadian dan pribadi yang disebutkan dalam Al-Quràn dan dapat menarik perhatian, hal itu menimbulkan daya tarik bagi pendengar dan pembaca Al-Quràn untuk mengikutinya, selain itu kisah juga membangkitkan kesan dan perasaan yang membuat mereka terlibat secara psikis atau terpengaruh secara emosional.

Ketiga & terakhir, Pemanfaatan peristiwa penting yakni menggunakan beberapa peristiwa atau persoalan penting yang terjadi yang bisa menggerakkan emosi, menggugah perhatian dan menyibukkan pikiran. 

Al-Quràn menggunakan peristiwa-peristiwa penting yang dialami oleh kaum muslimin sebagai suri tauladan yang berguna dalam kehidupan, hal ini membuat kaum muslimin lebih siap dan menerima untuk mempelajari dan menguasai keteladanan tersebut.

Abudin Nata mengungkapkan petunjuk-petunjuk Islam yang memotivasi belajar dapat dijumpai melalui penjelasan ayat-ayat Al-Quràn dan hadis-hadis Nabi,9 beberapa diantaranya:

Allah Swt. berfirman: (hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “berdirilah kalian”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat, dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan). [QS. Al-Mujadalah/58: 11]

Di dalam ayat tersebut, motivasi belajar dilakukan dengan cara memberi dan membuka akses yang seluas-luasnya kepada orang yang hendak belajar, sehingga ia merasa diakui, dihormati, diberi keleluasaan dalam belajar, yang ditandai dengan menyediakan tempat yang nyaman bagi pelajar dan pembelajar. 

Selain itu ayat itu juga menyebutkan bahwa orang yang diberi ilmu itu akan ditinggikan derajatnya dengan beberapa tingkatan yang ini hanya akan diberi ketika di akhiran, hal ini juga menunjukkan bahwa petunjuk Islam tidaklah berjangka pendek dan tidak pula hanya bersifat duniawi.

Lalu dari Hadist, Rasulullah Saw. Bersabda: (keutamaan seorang álim atas ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas yang ada di bawahnya, sesungguhnya Allah dan para malaikatnya, penduduk langit dan bumi, hingga semut yang ada di batu, ikan yang ada di laut, memanjatkan shalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia)[HR. Abu Hurairah].10

Hadis di atas berisi motivasi berupa penghargaan dan kedudukan yang tinggi bagi orang yang belajar atau menuntut ilmu, juga bagi seorang Álim yang dengan ilmunya itu ia dapat membawa pencerahan dan kemajuan masyarakat.

Akhirnya sebagai penutup yang bisa disimpulkan adalah terdapat perbedaan antara Psikologi pendidikan umum dan Psikologi pendidikan Islam, dimana teori-teori barat hanya bersifat dunia dan berjangka pendek, sedangkan dalam Islam itu lebih bersifat ukhrawi atau sampai ke kehidupan setelah mati. Meski keduanya sama-sama menganggap bahwa motivasi memiliki peranan yang amat penting dalam dunia pendidikan.

Referensi

1. Nyayu Khadijah, Psikologi Pendidikan, Depok: Rajawali Press (2017), hal 149.

2. Sumadi Suryabrata,Psikologi Pendidikan, Depok: Rajawali Press (2018), hal 70.

3. W.S Winkel, Psikologi Pengajaran, Jakarta: Grasindo (1996). Hal 32.

4. W.S Winkel, Psikologi Pengajaran, Jakarta: Grasindo (1996). Hal 37.

5. Clifford T. Morgan, Introduction to psychology, New York : McGraw-Hill Book Company (1986).

6. Stephen N. Elliot dkk., Educational Psychology Effective Teaching Effective Learning, Singapura: McGraw-Hill Book Co. (1999).

7. Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada (2002)

  • 8. Muhammad Utsman Najati, Al-Quran dan Psikologi, Terj.: Tb Ade Asnawi Syihabudin, Jakarta: Aras Pustaka (2003)
  • 9. Abudin Nata, Psikologi Pendidikan Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, (2018). Cet. Pertama. Hal 301-305
  • 10. Ahmad al-Hasyimi, Mukhtar al-Ahadits an-Nabawiy, hal 119