Artikel tentang writer's block bagi penulis sudah pernah saya singgung pada judul Writer's Block; Kuldesak yang Tak Sesak beberapa hari yang lalu. Untuk menambah jangkauan dan kedalaman topik tentang writer's block, pada kesempatan kali ini akan saya galih dari sisi psikologisnya.

Sebagai acuan bahasannya, saya ambil kisah psikologis seorang penulis dari sebuah film layar lebar yang berjudul "Mother!". Walaupun mempunyai kategori atau genre horor, ia cukup membantu memperdalam topik bahasan. Yang terpenting, fokus pada plot-plot yang menggambarkan suasana batin penulis ketika terserang writer's block.

Film horor psikologis “Mother!” merupakan jenis film dengan alur cerita yang twist ending sekaligus mindfuck. Film yang twist ending itu adalah film dengan akhir cerita yang "berputar” alias mbulet. Sedang mindfuck adalah film yang alur ceritanya membingungkan, mengecoh, dan mempermainkan pikiran penonton.

Maksudnya "mbulet" di sini adalah ending-nya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan atau pikirkan dan juga sifatnya sungguh mengejutkan. Biasanya film twist ending ini menggiring kita ke suatu cerita dan di situ secara langsung kita diajak untuk menebak-nebak kejadian selanjutnya, dan rata-rata tebakan kita adalah salah.

Dengan dua karakter alur yang twist ending dan mindfuck ini, sangat cocok sekali untuk digabungkan dengan topik utama film ini yang berkisah tentang kemelut psikologis penulis yang menderita writer's block.

Mungkin, bagi penulis pemula seperti saya ini, efek writer's block tidaklah berpengaruh banyak pada sisi psikologis. Namun, bagi penulis profesional dan besar, apalagi jika kepenulisan tersebut sudah diputuskan sebagai lahan penghasilan keluarga, maka sangat jelas pengaruhnya. Begitu mendalam dan kuat hingga menimbulkan gangguan psikologis.

Film "Mother!" ini dibintangi oleh aktris papan atas Hollywood, Jennifer Lawrence, dengan sutradara revolusioner Darren Aronofsky. Dua kombinasi gahar ini tentunya akan melahirkan sebuah film berkualitas.

Namun, seperti saya sebutkan tentang dua yang di atas, twist ending dan mindfuck akan sedikit membuat sebagian penonton yang tak ingin dan perlu berpikir keras tentang alurnya, film ini terkesan kacau balau.

Kritikan ini sesuai dengan apa yang diucapkan kritikus film, Caryn James, yang menyebutkan bahwa film ini pretensius dan kacau balau serta sarat alegori biblikal. Namun, dengan pengemasan yang benar-benar gelap dan di luar akal, film ini bisa jadi adalah film yang paling opresif dan ambisius dari seluruh karya sang sutradara.

Sebagai film bergenre horor psikologis yang merupakan subgenre fiksi horor dan fiksi psikologis, film "Mother!" bercirikan plotnya sangat bergantung pada sentakan-sentakan kondisi mental, emosional, dan psikologis untuk menakut-nakuti, mengganggu, atau meresahkan penonton.

Di samping itu, sering plot menggunakan elemen misteri dan karakter keadaan psikologis yang tidak stabil, tidak dapat diandalkan, atau terganggu untuk meningkatkan ketegangan alur cerita. Aroma-aroma paranoia sangat jelas tercium dari film ini sebagi efek dari kelamnya writer's block

Okelah, kita tinggalkan dua yang kacau balau itu. Dan, mari kita menuju ke bahasan utama, yaitu keadaan paranoia writer's block dalam film ini.  

Kita mulai dari aktris Jennifer Lawrence yang berperan sebagai seorang istri penulis penyair dengan sejumlah karyanya yang sudah terkenal. Suaminya, yang diperankan oleh Javier Bardem, adalah seorang penulis penyair yang sedang kehabisan ide tulisan atau mengalami writer's block.

Mereka saling mencintai, sang suami berusaha mengatasi writer's block dengan berbagai cara, mulai dari jalan-jalan ke luar rumah yang memang jauh dari mana-mana (soliter dan terpencil). Meningkatkan intensitas bercinta hingga mendekor ulang rumah untuk penyegaran.

Paradoks memang ketika penulis memilih hunian yang tenang (terpencil dan soliter) untuk keperluan ketenangan menulis. Namun, di sisi lainnya, justru dapat menimbulkan writer's block dengan jauhnya dari kehidupan sosial yang ingar bingar. Ide-ide kepenulisan justru banyak ditemukan dari ingar bingar kehidupan yang interaktif dan heterogen.

Di tengah usaha untuk membobol kehabisan ide menulis tersebut, datanglah karakter tamu misterius yang diperankan Ed Harris. Otoritas tuan rumah ala Barat mengajarkan tentang kekuasaan tuan rumah untuk menentukan apakah tamu boleh menginap ataupun tidak.

Ini salah satu yang diajarkan dalam film ini. Apalagi itu tamu misterius, semestinya sang suami tidak mengizinkan sang tamu untuk tinggal untuk menghormati perasaan istrinya yang sangat peka dengan kemisteriusan.

Mungkin, sang suami ingin membobol writer's block dengan tema tamu misterius, sehingga sang suami berusaha menahan tamu untuk lama tinggal agar tema tulisan lengkap.

Tak lama kemudian, istri sang tamu datang dengan membawa permasalahan yang justru meningkatkan adrenalin kepenulisan sang tuan rumah. Baginya, atmosfer rumah yang makin kacau dan aneh merupakan ide penulisan yang ciamik. Edan memang!

Termasuk sopan santun tamu yang sudah melanggar kelewat batas, seperti adegan bercinta dengan pintu kamar tamu yang sengaja dibuka guna mempertontonkan adegan hot tersebut. Rentet kejadian yang tak waras tersebut makin membuat sang istri tuan rumah tersiksa.

Ada sedikit kecemburuan kemesraan yang diajarkan film ini, di mana sang penulis (tuan rumah atau sang suami) jarang bercinta liar dengan istrinya karena kesibukan mencari ide, kesibukan menulisnya, ataupun terpasung norma-norma konservatif.

Untuk makin menambah tema penulisan, akhirnya sang suami membuat aturan baru yang mirip-mirip gaya sosialis ekstrem, yaitu mengundang penggemar tulisannya (fans) untuk bebas memiliki apa yang dimiliki olehnya. Termasuk pula menggunakan fasilitas privat rumahnya dan apa pun yang ada di rumah itu, bebas!

Kedaan ini dipertontonkan dalam plot datangnya sejumlah fans penulis ke rumah untuk pesta pora dan mencicipi apa saja yang dimiliki oleh penulis. Pada titik ini, sang istri penulis sudah berada di posisi yang dilecehkan. Otoritas sebagi istri dan pemilik properti rumah dan segala isinya habis diganyang oleh kebebasan yang tanpa batas itu.

Tragisnya, sang istri hingga dalam keadaan hamil besar pun masih saja suaminya membebaskan seisi rumahnya untuk dijadikan alat pendobrak writer's block. Tentunya ini, bagi sang suami, adalah sumber ide penulisan yang luar biasa. 

Ketika tema-tema biasa sudah melampaui pikirannya, maka datanglah sisi gelap untuk menggali tema-tema luar biasa yang bisa saja menjadi sumber malapetaka pihak lain, termasuk istri kesayangannya. Sang penulis siap mengorbankan apa pun agar misinya tidak diganggu gugat, termasuk mengorbankan istrinya.

Film dengan twist ending biasanya mengajak kita untuk percaya terhadap apa yang diceritakan. Film twist ending, seperti dalam film ini, memiliki alur cerita dan ending yang sangat pintar atau sebaliknya gagal hingga terkesan konyol. Seperti dalam film "Mother!" ini, menurut saya , konyol di ending-nya.

Andai saja sang sutradara tidak lebay di ending-nya, pasti ciamik. Jika ia berhasil mengolah twist ending-nya, bakal bisa membuat mulut penonton menganga dengan lebar. Kalau Anda sebagai penonton bisa menebak ending dari film ini, Anda jago banget dan bahkan jenius, menurutku.

Unsur mindfuck dalam film ini pada kisaran surreal dan dreamlike yang dipertontonkan pada plot-plot supranatural, seperti rembesan darah pada laintai atau terbangunnya kembali rumah yang sudah dibakar. Itu semua memberi kesan yang surealis atau seperti mimpi.

Mindfuck dalam film "Mother!" lebih menitikberatkan pada perspektif si tokoh utama (tuan rumah/suami dan istrinya) yang entah itu punya penyakit kejiwaan atau mereka cuma bermimpi.

Nah, menarik, kan? Jika penasaran, monggo, diputar, bro!