Aku tahu dia dari Dito teman sekelasku. Ya, dia yang itu. Namanya Erza. Kulitnya putih, wajahnya tirus, rambutnya hitam sebahu. Bibirnya mungil dan hidungnya juga mungil. Tingginya kira-kira sebahuku. Cute dan cantik. Tidak cantik banget sih, tapi cantiklah.

Belakangan, aku baru tahu kalau dia sepupu Dito dan rumahnya terletak di samping rumah Dito. Karena itulah aku tahu beberapa informasi tentang Erza dari Dito.

Aku tahu dia bisa bermain gitar. Aku pernah mendengarnya memainkan beberapa lagu barat jadul. Favoritnya: More Than Words, Extreme. Menurutku, cewek yang bisa bermain gitar itu keren. Apalagi cantik dan punya senyum indah. Semacam melihat surga dunia.

Ketika aku tahu dia masuk kampus yang sama denganku, rasanya aku bahagia sekali. Tapi, aku jarang menyapanya. Selain kami beda fakultas, aku takut dianggap sok kenal.  

Ketika OSPEK, Erza satu barisan denganku, dipisahkan oleh tali rafia tanda pembeda fakultas.

“Juna ya?” katanya waktu itu. “Juna temannya Dito?”

“He-eh. Iya, aku Juna temannya Dito,” jawabku bahagia. Waktu itu rasanya sudah bukan kupu-kupu lagi yang mengelilingi perutku. Rasanya seperti satu kebun binatang berlarian tidak jelas di sekujur organ dalamku.

Aku tahu Erza suka nonton film. Suatu hari kami berpapasan di food court kampus. Bersama Dito, kami duduk di satu meja. Aku ingat waktu itu dia memesan semangkok bakso tanpa mie. Sambil menyeruput es jeruknya, Erza berkata, “La La Land lagi diputar loh,” katanya sambil menyeruput es jeruk. “Aku pengen nonton.”

Tiba-tiba terdengar seseorang berkata, “Nonton yuk. Besok Jum’at gimana?” Tunggu, itu kan suaraku sendiri!

“Jum’at? Boleh. Ketemu di depan bioskop saja ya, aku ada perlu sebentar soalnya.”

Yang kuingat, waktu itu aku sangat senang. Dito rupanya baru sadar kalau aku naksir sepupunya. Dengan bantuannya (yang tentu saja tidak murah karena melibatkan beberapa video game terbaru), Erza dan aku menjadi lebih dekat.

Tapi, meskipun aku tahu sedikit tentangnya, aku tidak tahu perasaannya padaku. Dito bilang, sebelum semuanya terlambat, aku harus segera menyatakan perasaanku pada Erza.

Masalahnya, tak cuma aku saja yang menyukai Erza. Mulai dari kakak-kakak tingkat, adik tingkat, bahkan sampai petugas penjaga perpus kampus. Dito bilang, jaman sekarang banyak sekali kasus di mana anak lulus kuliah langsung nikah. Meskipun aku tahu itu tidak mungkin berlaku pada Erza, tapi tetap saja membuatku gugup. Apalagi ditambah skill-ku yang tidak mumpuni. Aku sama sekali tidak paham soal musik. Selain itu, nilaiku pas-pasan, tampang apalagi. Aku juga belum berpenghasilan bagus. Saat ini aku hanya bekerja paruh waktu untuk bantu-bantu biaya kuliah. Dibandingkan para penggemarnya, aku sudah kalah dari segala sisi.

Karena itulah, kuputuskan besok sebelum KKN dimulai, aku berniat nembak Erza. Entah diterima atau tidak, yang penting sudah ngomong duluan.

 

Hari Minggu ini aku dan Erza pergi ke kafe. Sebenarnya satu jam lagi Erza berangkat ada kuliah. Karena ajakanku, dia mau untuk mampir ke kafe sebelum masuk. Kami duduk di salah satu meja bundar di samping jendela. Dari tadi, dia asyik mempelajari music sheets yang dibawanya. Sedangkan aku, asyik bingung mau ngomong apa.

Memang, rencananya hari ini aku mau bilang perasaanku padanya.

Tapi harus mulai dari mana? Aku mengamati ujung tas gitar yang dibawa Erza. Apakah aku harus mengungkapkan perasaanku pakai gitar? Tapi aku bahkan tidak tahu cara memainkannya. Kalau cuma sekedar jreng-jreng dia pasti menganggapku aneh dan mungkin akan berpura-pura tidak mengenalku karena malu.

Pelayan datang dan menatapku dengan ekspresi aneh sebelum menaruh kopi kami di meja. Pasti wajahku pucat sekali.

“Eh,” ujarku, memecah keheningan. Hujan menetes di jendela, membuat suasana semakin syahdu nan mencekam.

“Hm?” kata Erza. Matanya masih tertuju pada lembaran musik.

Susah nih.

“Eh—Ehm, aku pengen ngomong nih,” kataku. “Ngomong apa? Ngomong aja,” sahutnya, tapi matanya masih membaca.

Aku makin lama makin gelisah. Tanganku berkeringat.

“Ehm—penting nih.”

Erza meletakkan lembaran musiknya. Akhirnya! Matanya menatapku, dan dia tersenyum. Aku tahu dia sedang menunggu.

Tapi aku malah makin gelisah.

Bagaimana kalau dia tertawa? Bagaimana kalau dia menganggapku aneh? Bagaimana kalau dia malah marah-marah? Atau, yang lebih ekstrim, bagaimana kalau dia berpikir kalau kepalaku terbentur sesuatu, lalu membawaku ke Rumah Sakit terdekat? Aku tahu, Rumah Sakit Umum hanya berjarak setengah kilometer dari sini.

Aku tahu kalian pasti mengejekku. Aku memang belum pernah nembak cewek.

“Ehm,” aku ber-ehm-ehm lagi. “Aku tahu ini terdengar konyol, tapi—”

“Silakan, spaghetti sama potato wedges-nya,” pelayan tiba-tiba datang.

Sial.

“O-oke,” kataku. “Terima kasih.”

Akhirnya, kami malah makan. Tapi aku bertekad harus nembak dia hari ini. Tekadku sudah bulat. Aku menyantap spaghetti-ku dengan perasaan campur aduk. Tak sengaja garpuku jatuh.

“Jun, garpumu jatuh.” Erza mengambilkan garpuku. Kemudian menatapku dengan heran, mungkin kaget melihat mukaku seperti orang menahan mabuk kendaraan. “Tadi kamu mau bilang apa, Jun? Katanya penting?”

Aku diam. Kuhirup kopi banyak-banyak. Hampir saja tersedak ketika tiba-tiba terdengar lagu More Than Words diputar. Erza tersenyum sambil menikmati kentangnya, “Wah lagu favoritku!”

Mendadak aku ada ide.

“Erza!” kataku tiba-tiba. Dia kaget. “Apaan sih? Ngagetin aja.”

“Gini, za… mungkin bagimu aku ini aneh—” dia menatapku. Aku diam. Gugup.

Dia masih menatapku. Ah, sudah terlanjur basah. “Sebenarnya… bagaimana menurutmu tentang lagu ini?”

Erza menaikkan satu alis, bingung. “Bagus. Aku suka.”

“Lebih bagusan Extreme atau Westlife?” tanyaku. Duh.

“Hah? Aku suka versi dua-duanya.” Dia menyeruput kopinya. “Tumben kamu bicara tentang lagu. Biasanya kamu suka bicara tentang planet dan galaksi.”

Apa iya? Duh, malah semakin tidak nyambung.

Erza tersenyum menatapku. “Aku suka arti lagunya. More Than Words. Lebih dari kata-kata. Jadi cinta tidak hanya bisa diungkapkan dari kata-kata saja.”

Aku menarik napas dalam-dalam. “Ya, seperti itulah. Aku juga setuju.”

Erza menatapku heran. “Maksudku, ehm,” aku berdehem, “Aku juga ingin menujukkan padamu lebih dari sekedar kata-kata.”

Erza terdiam sesaat, kemudian tersenyum. “Bisa?”

“Maksudmu?”

“Apakah kamu bisa?” sekarang dia menggodaku. Aku tertawa gugup.

“Aku akan berusaha.”

Tawa Erza meledak. Benar, ‘kan. Aku diketawain.

“Jadi?” tanyanya. Matanya berbinar-binar, entah karena bahagia atau karena geli melihat tampangku.

“Jadi bagaimana?” tanyaku.

“Jadi, kita pacaran?”.

Aku terhenyak.

“Iya.”

Erza tersenyum. Tangannya meraih tanganku di atas meja. Lagi-lagi, kurasakan satu kebun binatang berlarian di sekujur organ dalamku. Kemudian, terlihat sedikit geli, dia berkata, “Baiklah.”

Tepat saat itu, lagu More Than Words berhenti diputar.