Sejatinya, pendidikan adalah pelatihan, pengembangan, dan penambahan pengetahuan sehingga terbentuknya karakter, sikap, bahasa, dan kehidupan yang harmonis dengan sesama manusia, dengan lingkungan dan Tuhan. Dengan berpendidikan, manusia diharapkan mampu memenuhi segala  yang dibutuhkannya dengan saling menjunjung nilai-nilai dan tata krama yang sudah ditetapkan atau yang disepakati bersama. 

Dari waktu ke waktu pendidikan terus dibudayakan sebagai salah satu proses yang mengarah pada kemajuan/kemapanan. Namun realitas yang sekarang sudah jauh berbeda dengan keadaan dan hakikat pendidikan itu sendiri. Pendidikan dilombakan untuk menambah penghasilan bisnis golongan tertentu.

Output pendidikan masih perlu dipertanyakan arahnya ke mana. Para pendidik sendiri seperti guru dan dosen selalu mengadakan seminar tentang bisnis dan perdagangan dalam dunia pendidikan, dengan harapan bahwasanya ketika selesai menyandang status pendidikan di lembaga tertentu mereka mampu mendirikan usaha sendiri demi terciptanya kesetaraan ekonomi.

Padahal kalau dinilai dengan sikap dan pemikiran yang logis, seminar tentang usaha bisnis dan perdagangan ini tidak akan berlaku dalam materi pembelajaran jurusan tertentu seperti teknik, jurusan syariah, peternakan, kebidanan/kedokteran juga lain sebagainya.

Kacamata tembus pandang pendidikan hanya mampu melihat fenomena dehumanisasi disebabkan kurangnya pemenuhan akan kebutuhan ekonomi, pendidikan hanya mampu melihat kemelaratan lahir dari ketidakmampuan mengelola bahan baku untuk dijual sehingga untuk mengisi perut harus melalui dengan pencurian dan kezaliman serta melihat ketimpangan sosial disebabkan salah pergaulan.

Tanpa menyadari, ada hal yang sangat mendasar yang harus dibangun kembali. Walaupun di era yang serbakemajuan ini sudah sangat membantu dunia pendidikan, terutama kemajuan di bidang teknologi, tapi itu justru mendiskreditkan peran dan kerja teladan bagi setiap anak dan murid di kehidupan bangsa.

Dalam proses belajar keterlibatan teknologi menjadi alasan untuk mempercepat dan mempermudah pendidikan, padahal tanpa adanya contoh dari pembimbing atau guru dengan sikap yang ramah-tamah akan menimbulkan budaya yang tak etis di kehidupan sosial. Kebebasan mengambil keputusan hanya beralasankan data media dan contoh dari tokoh ternama lewat postingan walaupun itu hanya dan sudah diubah dari aslinya (editan).

Peran guru atau dosen semakin berkurang sebagai teladan yang harus dicontohi. Proses pembelajaran tidak lagi terasa diimbangi dengan akhlak dan moral, malah yang terjadi beberapa guru atau dosen justru menjadikan murid sebagai bahan sindiran dan pelampiasan dengan kata-kata yang tidak mencerminkan orang yang berpengetahuan dan berakhlak, tapi mencerminkan kebiadaban sebagai contoh yang dicermati pelajar.

Selain dari hal tersebut, keilmuan yang didapatkan dari hasil pendidikan hanya sebagai tampungan dalam lembaran kertas dan benak, terutama dalam dunia remaja yang menempuh pendidikan S1. Pengangguran terbanyak adalah pengangguran yang terdapat dari sarjana golongan ini.

Mau tak mau mereka yang pengangguran atau yang di luar dari yang dibutuhkan lapangan kerja seperti perusahaan harus mengalihkan mata pencarian mereka menjadi apa pun, asalkan kebutuhan akan kehidupannya terpenuhi. Tidak heran apabila kita menemukan yang bertebaran di pinggir laut dan sawah-sawah sebagai pelaut, nelayan dan petani adalah kebanyakan dari mereka yang mendapat label dan status S1.

Hal tersebut sebagian besarnya disebabkan investasi yang terdapat dari dalam negara sudah banyak terpenuhi oleh mereka yang bermodal dan mampu untuk memenuhi apa yang menjadi ketentuan lapangan kerja dengan persaingan yang sangat ketat. Hal ini sangat menonjol terlihat pada mereka yang tidak mampu dan miskin tidak mengenyam dunia pendidikan dan tidak mendapatkan pekerjaan

Pembiasan Pengetahuan

Banyak tokoh-tokoh intelektual dan cendekia yang rela menjual pengetahuan dan ilmu mereka demi meraih pekerjaan dan mengabdi pada pemilik perusahaan tanpa melihat dan peduli keadaan masyarakat yang lebih membutuhkan. Kala mengaja hanya hadir sampaikan materi se-alar kadarnya sembari menunggu jam yang ditentukan selesai.  sikap kritis tokoh Cendikia sudah lenyap tertutupi uang dan material. 

Sehingga tidak heran kalau ditinjau dari segi politik banyak koruptor menyatakan mengganti dana pengeluaran selama mencalonkan diri menjadi anggota partai, dalam dunia pendidikan terjadi degradasi adab, akhlak, moral, etika. Semua itu dikorbankan asalkan dia bisa mengganti dana pengeluaran selama proses menempuh pendidikan. 

Dalam masyarakat, terjadinya ketimpangan sosial, pencurian, narkoba, kekerasan, penindasan dan kerusakan lainnya. Alasannya hanya karena serakah akan kebutuhan sehingga lahir sikap individualis dan rasa tak peduli terhadap yang lain.

Pendidikan sekarang mencetak pola pikir agar bekerja dan kesuksesan supaya hidup lebih terjamin tanpa harus memperhatikan ilmu pengetahuan akan disalah gunakan. Amanat orang-orang yang berilmu tentu besar, tapi karena tidak adanya moralitas dan adab yang tertanam bersama ilmunya mendorongnya untuk berlaku semena-mena dan mengikuti nafsu yang tidak terkontrol.

Sudah saatnya tatanan dan struktural terhadap dunia pendidikan diubah. Peranan pengajar yang menjadi panutan sekaligus mentransformasikan nilai-nilai luhur sebagai teladan harus dikembangkan dan dipertahankan, jangan hanya mengedepankan kemajuan teknologi yang memanjakan serta membudayakan sifat kebinatangan

Kepedulian terhadap sesama dan latihan sikap mematuhi dan menaati harus terlebih dahulu ditanamkan sebagai dasar untuk melanjutkan keberlangsungan tingkat pendidikan. Karena pendidikan saat ini bukan kurang akan sumber pengetahuan tapi kurang akan moralitas dan etika sebagai pengontrol pengetahuan.