Persoalan etika sangat mungkin terjadi diberbagai sektor, tidak luput pula dalam dunia bisnis. Keinginan untuk meraih keuntungan yang besar dengan cara yang instan menjadi sebuah prinsip yang dijalankan dalam dunia usaha kapitalis saat ini. Tak jarang sebuah perusahaan saat ini justru berusaha untuk menghalalkan segala cara. Tak hayal bahwa praktik ini akan sangat merugikan masyarakat bahkan dalam jangka panjang akan berdampak pada perusahaan.

Kondidi ini dikarenakan kebutuhan ekonomi dan demi keberlanjutan hidup yang hanya dibayangi material saja. Dengan materi yang berlimpah tentu akan dapat membeli kebutuhan yang mereka inginkan, berbeda dengan mereka yang berkekurangan secara finansial. Hal ini mengakibatkan banyak manusia berlomba-lomba mengejar nikmat duniawi tanpa memikirkan apa itu benar dalam ajaran agama atau tidak.

Meski telah banyak yang memahami konsekuensi atas pelanggaran etika bisnis, nampaknya kesadaran akan pentingnya etika bisnis perlu terus digalakkan. Sebab, dalam praktiknya masih sering ditemukan pelanggaran terhadap etika bisnis oleh para pebisnis yang tidak bertanggung jawab di Indonesia. Praktik bisnis yang tidak bertanggung jawab ini masih cenderung mengabaikan etika, rasa keadilan, dan tak jarang diwarnai praktik-praktik tidak terpuji atau moral hazard.

Karakteristik Syariah Entrepreneur 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Entrepreneurship disebut sebagai usaha, sedangkan wirausaha adalah orang yang berbakat dalam menjalani usaha tertentu. Menurut Geoffrey G. Mendith (2009) kewirausahaan ialah gambaran dari orang yang memiliki kemampuan untuk melihat dan menilai beberapa kesempatan dalam bisnis, mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan untuk memperoleh keuntungan dan mengambil tindakan yang tepat untuk meraih kesuksesan.

Menurut Peter F Drucker (1959) kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan hal baru dan memiliki ciri khas yang dapat menghasilkan sesuatu yang berbeda dari lainnya. Kemudian menurut Tomas W Zimmerer (1996) kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan usaha.

Islam sangat mendorong umatnya untuk bekerja keras, kendati demikian bukan berarti tanpa kendali. Antara iman dan amal harus ada interaksi, artinya betapa pun kerasnya usaha yang dilakukan, harus selalu dalam bingkai hukum Islam. Salah satu kerja keras yang didorong Islam adalah berwirausaha.

Dalam firman-Nya surat al-Jumuah ayat 10, Allah memerintahkan umat Islam untuk tidak bermalas-malasan selepas menjalankan ibadah, akan tetapi bagaimana seorang umat Islam harus bertebaran di muka bumi dan melakukan aktivitas pencarian anugerah Allah. 

Quraish Shihab (2008) menyatakan bahwa kata wirausaha mempunyai banyak padanan kata. Dalam bahasa Inggris sering dipadankan dengan kata buyying and selling, commerce, tradeyang bermakna jual beli, perniagaan atau perdagangan. Pada intinya, wirausaha atau bisnis adalah interaksi antara dua pihak dalam bentuk tertentu guna meraih manfaat. 

Namun dalam interaksi tersebut dibutuhkan manajemen yang baik untuk memperkecil kemungkinan risiko yang akan muncul. Dan menurut Quraish Shihab dalam bahasa Arab interaksi seperti itu disebut dengan istilah muamalah, yang dalam kajian fiqh Islam disebut dengan fiqh muamalah.

Lebih lanjut, Quraish Shihab memaparkan bahwa seorang pengusaha harus mempunyai niat yang baik. Usaha atau bisnis tidak hanya sekedar mengejar keuntungan semata. Tidak juga hanya untuk memperkaya diri, tapi usaha yang kita rintis harus menjadi sarana untuk saling membantu dalam memenuhi kebutuhan orang lain.

Memiliki sifat dan watak yang berorientasi pada kemajuan merupakan sifat yang dibutuhkan oleh wirausaha agar dapat maju dan sukses. Sebagimana karakteristik seorang wirausaha syariah adalah pertama, percaya diri yakni bekerja dengan penuh keyakinan dan tidak bergantung pada orang lain. Kedua, orientasi pada tugas dan hasil yakni memenuhi kebutuhan akan prestasi, orientasi pekerjaan berupa laba, tekun dan tabah, tekad kerja keras serta berinisiatif

Ketiga, berani ambil risiko yakni sikap berani dan mampu mengambil resiko kerja dan menyukai pekerjaan yang matang. Keempat, berjiwa pemimpin dengan bertingkah laku sebagai pemimpin yang terbuka terhadap saran dan kritik serta mudah bergaul dan bekerja sama dengan orang lain. Kelima, berpikir pada manfaat yakni mampu menumbuhkan kreativitas, inovatif, luwes dalam melaksanakan pekerjaan, memiliki banyak sumber daya, serba bisa dan berpengetahuan luas.

Sikap Syariah Entrepreneur

Etika menjadi titik tekan yang fundamental dalam setiap kegiatan bisnis, karena bisnis tidak cukup dijalankan berdasarkan transaksi yang diikat dengan kontrak-kontrak formal dan legal saja, melainkan juga perlu adanya sebuah landasan rasa saling percaya antara pihak yang terlibat di dalam proses transaksi tersebut, dalam Islam disebut sikap ‘an taradhin yakni sebuah itikad baik dan saling ridha.

Merujuk pemikiran al-Ghazali tentang aktifitas bisnis yang harus menekankan untuk berpedoman terhadap etika bisnis Islami, yang secara garis besar bahwa adanya unsur keadilan, kebaikan, kebajikan dan tidak adanya kedhaliman. Yang secara aktualisasi pemikiran ini yaitu bahwa prinsip utama dalam formulasi ekonomi Islam adalah menuju maslahah.

Penempatan maslahah sebagai pondasi utama karena maslalah merupakan konsep yang paling penting dalam syari’ah, maka dalam mencapai maslahah, menurut al-Gazali bahwa pelaku bisnis harus menghindari perbuatan uang dilarang oleh norma Islam yakni perilaku eksploitasi, hilangnya sikap kerelaan, melakukan praktik kecurangan, serta praktik kebatilan lain yang menjadikan sebuah bisnis mengarah kepada bisnis yang mengandung mudarat.