Masih ingat kumpulan cerpen Jangan Main-main dengan Kelaminmu karya Djenar Maesa Ayu? Kumpulan cerpen yang kontroversial itu bagi saya masih menarik untuk dikuliti. Bagaimana tidak, adegan seksisme dan vulgarisme yang cukup padat menghiasi hampir setiap alur ceritanya.

Sudah tujuh belas tahun sejak kumpulan cerpen itu terbit, saya masih suka iseng membacanya. Mata pikiran saya tertumbuk pada salah satu cerpennya, Moral judulnya. Membacanya membuat saya berasumsi bahwa ada maksud tersembunyi pengarang dari yang hanya sekadar menampilkan hal-hal berbau seks dan vulgar itu.

Cerpen Moral tidak bisa dibaca begitu saja. Awal yang terlintas dalam benak saya bahwa ini adalah oasis di tengah cerpen-cerpen lain, rupanya keliru. Moral juga bergejolak. Bila Snda mendambakan karakter yang baik, lurus, positif, tidak di sini. Paradoks, begitulah kira-kira karakter yang tergambar dalam cerpen ini.

Memaknai moral tidak seperti yang tertera di dalam KBBI daring, yang bermakna ajaran tentang baik-buruk dan budi pekerti. Oleh karenanya, moral bukan merupakan pegangan atau sesuatu yang sakral bagi karakter dalam cerpen. Ia malah menjadi bahan olokan dan hinaan. 

Lantas, apa makna moral? Adakah hubungannya dengan judul di atas?

Hubungan Moral dan Gedung DPR

“Apalagi ketika pasangan saya berbisik, moral diobral lima ribu tiga di gedung DPR hari ini.” Ini adalah kutipan cerpen Moral yang terdapat dalam kumpulan cerpen Jangan Main-main dengan Kelaminmu halaman 48. Saya ingin menguliti dari sisi sintaksis, semantik, dan pragmatik kutipan tersebut.

Secara sintaksis, tentu kalimat itu berkategori pasif. Bila diaktifkan menjadi “gedung DPR mengobral moral lima ribu tiga hari ini”. Gedung DPR berkedudukan sebagai subjek, mengobral sebagai kata kerja, moral adalah objek, lima ribu tiga sebagai keterangan penjelas, dan hari ini sebagai keterangan waktu.

Adapun menurut semantik, arti moral yang semula baik mengalami pergeseran makna secara peyoratif menjadi produk yang bernilai ekonomi. Peyorasi adalah pergeseran makna dari yang lebih tinggi ke yang lebih rendah. Peyorasi memberikan makna merendahkan dan menghina. Selanjutnya, kita beralih pada kata “gedung DPR”.

Menarik bahwa gedung DPR-lah yang mengobral moral, bukan anggota DPR. Gedung yang berkategori kata benda bisa melakukan pekerjaan. Namun menurut saya ini adalah simbol kekuasaan. Gedung DPR dan anggota DPR merupakan satu kesatuan. Di situ tempat untuk merumuskan hukum.

Kemudian, kata mengobral lazim digunakan untuk aktivitas jual-beli. Namun mengobral digunakan dalam konteks pemerintahan sehingga maknanya berubah. Mengobral yang semula diartikan menjual bergeser menjadi “memakai”, “menggunakan”.

Dari ketiga kunci kata tersebut didapatkan makna semantik seutuhnya. Makna semantik “moral diobral lima ribu tiga di gedung DPR” yaitu, pemerintah banyak menggunakan moral sebagai tolok ukur dalam menetapkan undang-undang. Namun tunggu dulu, masih ada kata yang belum diungkap, “hari ini”.

Bila moral dipakai hari ini di gedung DPR, artinya belum tentu besok dan lusa tidak terjadi hal demikian. Mungkin bisa terulang lagi lusanya atau entah kapan. Jadi makna semantiknya adalah, “Hari ini, saat ini pemerintah sedang menggunakan banyak moral sebagai ukuran dalam menetapkan kebijakan-kebijakan”.

Sesudah makna semantik, kalimat tersebut perlu dikuliti dari sisi pragmatik. Menurut Charles Morris, kita akan lebih memahami teks setelah mengerti latar belakang dan pemikiran pengarang. Sehingga, pembaca berupaya mendudukkan kalimat dengan ideologi pengarang, agar maksudnya tersampaikan.

Bila melihat tulisan-tulisan Djenar Maesa Ayu, seperti Nayla (2005), Saia (2014), dan Jangan Main-main dengan Kelaminmu (2004), pada dasarnya Djenar ingin menyuarakan tentang perempuan. Tentang ketakutan-ketakutan dan stigma perempuan dalam suasana yang dibentuk oleh budaya patriarkis. Djenar adalah seorang feminis.

Bila dilihat dari pikiran-pikiran feminisnya, secara pragmatik ingin menyoroti peraturan yang dibuat pemerintah yang tanpa sadar berdampak kepada ketidakadilan gender, terutama terhadap perempuan. Lebih dalam lagi, Djenar menyoroti RUU yang berwatak patriarki.

Dalam “Moral”, Djenar mensinyalir adanya RUU yang dibentuk untuk menundukkan, mengeksploitasi yang lemah dan tak berdaya demi menghasilkan keuntungan berlipat. Hal ini bisa saja terjadi. Tidak menutup kemungkinan bila aturan dirancang oleh orang-orang patriarkis, yang tanpa sadar dirinya hanyut terbawa suasana haru demokrasi kapitalis.

Bila dikaitkan dengan kondisi saat ini, salah satu hukum yang menjadi pro-kontra adalah omnibus law. Sebelum ada omnibus law saja perempuan sudah mengalami berbagai macam infeksi terkait kesehatan reproduksinya karena pekerjaan. Bila omnibus law diterapkan, alamat cuti haid dan cuti hamil dihapus dan tidak dibayarkan.

Memahami Moral di dalam “Moral”

Membaca moral dalam cerpen Moral hendaklah dipahami sebagai stigma yang sudah mengakar menjadi budaya masyarakat. Djenar justru menampilkan karakter perempuan yang jauh dari kesan moral. Karena moral merupakan produk yang menjadi akibat budaya patriarki. Moral tak lepas dari stereotip-stereotip yang melekat pada tiap gender dalam masyarakat.

Karakter tokoh dibawakan dengan sudut pandang pertama. “Naik peringkat sedikit dari posisi saya sekarang yang jadi pacar gelap suami orang. Habis... mau bagaimana lagi? Saya tidak punya pekerjaan”. (dalam Moral hal.45). “Dan saya cukup senang juga karena saya tidak punya alasan khusus untuk membeli moral”. (dalam Moral hal.43).

Baik dan buruknya suatu perbuatan yang dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan menjadi suatu hukum yang keluar dalam bentuk pelarangan-pelarangan. Pelarangan itu menjadi suatu kesalahan bagi laki-laki maupun perempuan yang tidak seharusnya ada. Djenar, ingin menentang dengan menggunakan kata moral.

Subordinasi pada status perempuan dalam rumah tangga, misalnya. Perempuan masih dianggap pelayan laki-laki, sehingga tidak layak sekolah tinggi menandingi laki-laki suaminya. Padahal itu cita-citanya. Perempuan tidak bebas bergerak. Dipenuhi ketakutan atas stigma yang menempel padanya.

Seperti kutipan dalam cerpen, “Mau sekolah tinggi-tinggi, orangtua melarang. Kata mereka,” tak usah kamu sekolah tinggi-tinggi. Yang penting buat perempuan cuma pintar-pintar rawat suami. Lebih baik kamu belajar masak”. (Kutipan cerpen Moral dalam kumpulan cerpen Jangan Main-main dengan Kelaminmu hal.48)

Dalam kutipan di atas, dapat dipahami bahwa perempuan dituntut mampu bersolek dan belajar memasak demi laki-laki. Mengenyam pendidikan, bukanlah perkara penting walaupun murni keinginan pribadi. Pendidikan tinggi merupakan larangan karena memiliki pandangan hal tersebut dapat menghambat tugasnya sebagai perempuan.

Demikian, dari paparan di atas, moral pada cerpen adalah stigma atas gender yang dikonstruksi oleh budaya patriarki dalam masyarakat. Moral ditentang pengarang melalui karakter cerpennya. Moral direndahkan, dijual-belikan oleh para pemangku kebijakan. Secara sarkastis, moral diabadikan dalam judul yang merupakan salah satu kutipan cerpen.