Minggu pagi ini manusia sudah memadati tempat tinggal kami, padahal sudah tiga bulan terakhir tidak banyak manusia yang ke sini, hanya ada beberapa petugas yang patroli menjaga keamanan. Sebelumnya kami bisa bergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya dengan nyaman. Tidak ada yang meneriaki kami, "awas ada monyet, awas ada monyet nanti jatuh, nanti gigit."

Kami bisa minum air sepuasnya karena tidak ada yang berenang di aliran curug. Anak-anak kami bisa bermain petak umpet tanpa takut difoto-foto atau dilempari ranting kayu. Bahkan kami bisa berpesta buah-buahan yang kami bawa dari hutan, sampai beberapa dari kami ada yang mabuk kekenyangan. Kami memiliki kembali tempat ini seutuhnya, seperti tempo hari yang diceritakan para leluhur.

Hati kami bungah, mimpi kami terwujud lebih cepat dari ramalan leluhur yang dituturkan secara turun-temurun. Suka-cita kami sampaikan kepada Sang Hyang Tunggal dengan berdoa bersama di tempat ibadah yang menyerupai punden berundak di Puncak Gunung Halimun. Bangsa kami seperti baru saja merengkuh kemerdekaan dari manusia yang sudah menjadi musuh kami sejak mereka tidak lagi menghargai dan merawat tempat tinggal kami.

Ternyata semuanya hanya kami rasakan sejenak, setelah tiga bulan makhluk serakah itu kembali ke tempat kami. Tidak main-main jumlah mereka berlipat ganda, mukanya terlihat seperti orang yang sudah lama menahan birahi ingin memerkosa tempat tinggal kami yang indah.

Dugaan kami benar, ternyata hilangnya manusia dari tempat tinggal kami kemarin disebabkan serangan mikro organisme yang bertubi-tubi hingga menewaskan puluhan ribu bangsa manusia yang mengaku sebagai makhluk terkuat di muka bumi. Meski makhluk kelas rendah tak kasat mata itu cukup membuat manusia jera, namun tabiatnya yang angkuh sulit untuk dirubah.

Lihat saja, mereka masih berkumpul berdekatan, padahal para pemimpin mereka sudah mengingatkan agar saling berjauhan dan wajib memakai masker. Kami mendengar kabar itu dari para petugas yang setiap malam ngopi di dekat gerbang rumah kami.

Sebenarnya kami tidak pernah melarang siapapun masuk ke sini, siapa saja boleh karena Sang Hyang Tunggal mengajarkan bahwa semua yang di semesta ini adalah saudara berasal dari yang satu. Tapi, kami kehabisan akal memperingati manusia-manusia yang setiap hari meninggalkan plastik, bekas rokok, bahkan pembalut wanita juga ada di sana.

Anehnya makhluk yang melek aksara itu masih bertingkah pongah, padahal plat kaleng peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan tersebar di mana-mana. Kami monyet-monyet Halimun berpikir keras, apa yang mereka maksud dengan melek aksara? Apakah itu hanya istilah untuk orang-orang yang bisa mengeja huruf atau menyerapnya sebagai makna? 

Kalau yang kami dapatkan di sekolah hutan melek aksara adalah kondisi di mana rasa dan makna berbuah kepekaan. Tuhan kami mengajarkan bahwa semua yang Ia ciptakan adalah satu-kesatuan utuh yang tidak boleh dirusak. Merusak pohon sama saja merusak diri sendiri. Apa lagi merusak semua yang ada di alam tanpa sadar dan mengakui kesalahan.

Syahdan beberapa kali kami peringatkan bahwa monyet dan manusia adalah saudara dan hutan adalah sumber kehidupan bersama, mereka manusia tetap saja keras dengan ego yang melahapnya. Pernah sekali waktu monyet-monyet Halimun membawa pasukan dan mengepung manusia-manusia yang tengah asik berenang di aliran curug. Makhluk itu malah meneriaki kami, melempari kami dengan kerikil dan beberapa petugas malah sudah bersiap dengan senapan angin.

Tidak ada pilihan buat kami untuk tidak lari, kami memilih hidup dan memikirkan ulang cara lain untuk memperingati manusia. Bukan untuk mengusir mereka atau bahkan membunuh mereka, kami hanya ingin memberikan isyarat bawa persaudaraan harus dijalin dengan baik. Sama-sama saling menjaga, bukan merusak yang kita miliki bersama. Kami pergi dengan kepala tegak, kami tidak kalah, butuh waktu untuk mengajarkan etika kepada manusia.

******

“Guys, di sini airnya jernih banget nih, dingin lagi!”

“Wah, iya beneran adem banget airnya, udah lama gue gak rasain air sesejuk kaya gini,”

Adang, Eko, Lela, dan Rojak asik bermain air di curug. Mereka berenang, loncat dari atas bebatuan, menikmati gemericik air, dan saling memotret diri. Dua jam sudah mereka basah kuyup dan menggigil kedinginan, waktu menunjukkan pukul 16.00 matahari mulai meredup suara kelelawar mulai terdengar. Mereka beranjak dari air, menyalakan kompor portabel menyeduh mie dan kopi untuk menunda lapar setidaknya sampai keluar area Halimun.

“Nyalain kompornya Dang!”

“Iya ini juga mau gua nyalain,”

Empat bungkus mie instan dan empat gelas kopi racikan Rojak disiapkan, sekujur badan mereka gematar kedinginan. Telapak tangan mereka dekatkan ke api kompor untuk sedikit menghangatkan tubuh, sambil menyetel lagu Fiersa Besari empat muda-mudi itu menikmati damainya hutan Halimun dan indahnya sorot matahari senja.

“Wih indie banget ya kita, kopi, hutan, senja, dan lagu Fiersa,” Eko nyeletuk.

Mie dan kopi matang, mereka melahap semuanya dengan cepat karena hari sudah semakin gelap. Selesai makan mereka bergegas ke toilet untuk membilas dan mengganti baju yang basah. Semuanya selesai hari itu menjadi liburan perdana setelah tiga bulan menjadi tahanan rumah. Dengan perasaan senang mereka pun bergegas meninggalkan Halimun pulang ke rumahnya yang ada di Jakarta.

“Woy Manusia ANJING ini sampah lu ketinggalan BANGSAAAATTTT!!!!