Seberapa mengkawatirkankah penggunaan material plastik pada masyarakat kita? 

Data dari Earth Day Network, Indonesia menempati ranking 2 dari 20 negara terburuk dalam mengelola sampah plastik. Datanya dapat dilihat pada table di bawah ini.

Data itu tidak terbantahkan dengan melihat sedemikian dahsyatnya kita, warga negara Indonesia, menggunakan barang berbahan plastik tapi tidak diikuti dengan pengelolaan sampah yang benar. Sampah dibuang sembarangan tanpa rasa bersalah.

Belum lama ini viral sebuah foto kuda laut dengan sebuah korek kuping. Foto itu diambil oleh seorang fotografer yang bernama Justin Hofman ketika dia bersama timnya ber-snorkeling di laut dekat Sumbawa Besar. Foto itu  menghardik banyak orang, terutama kita yang tinggal di Indonesia.

Kita dijewer dengan keras sambil diteriaki betapa rendahnya kita sebagai manusia, karena kita tidak punya rasa peduli terhadap lingkungan hidup, terutama kehidupan di dalam laut.

Tapi sangat salah juga kalau dibilang bahwa warga kita jorok dalam kehidupan sehari-hari. Warga kita malah sangat bersih. Masalahnya kita hanya peduli rumah kita atau halaman kita bersih dan sampah dibuang sembarangan di luar sana.

Tetanggaku, rata-rata sudah di atas 50 tahun, rajin menyapu halaman dan jalanan depan rumah masing-masing. Sampah hasil sapuan dilempar ke dalam parit di samping jalan. Kalau ditegur, mereka berkata, “Sudah seperti itu dari dulu. Nanti juga sampahnya dibawa air kalau hujan deras.”

Mengubah perilaku masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya itu seperti mengikuti ujian masuk MIT (Massachusetts Institute of Technology). Susah banget. Parit, sungai, dan laut masih dianggap tempat sampah terbaik, karena dari zaman nenek moyang sudah seperti itu.

Beberapa komunitas dan individu mencoba mengedukasi masyarakat untuk mengurangi pemakaian material plastic dalam kehidupan sehari-hari. Ada teman yang tidak mau membeli makanan yang dikemas dalam wadah plastik. Ada orang yang membawa wadah ke mana-mana untuk menghindari penggunaan plastik.

Dan yang kulakukan pun agak menjijikkan, atau mungkin ada yang menganggapku pelit. Aku membasuh plastik makanan supaya dapat dipergunakan kembali suatu saat, walaupun hanya untuk mengemas daging ayam atau ikan yang sudah dipotong-potong untuk disimpan di kulkas. Juga menghindari pemakaian kantong plastik saat belanja di super market dan tukang sayur.

Seberapa besarkah kontribusiku mengurangi pemakaian bahan plastik? Tidak signifikan. Sekarang ramai-ramai orang menolak pemakaian sedotan. Seberapa besarkah gerakan ini membantu mengurangi sampah plastik? Sekali lagi kukatakan tidak akan signifikan.

Aku frustrasi setiap ke supermarket, minimarket, bahkan warung. Tataplah semua rak di supermarket itu, apa yang Anda lihat? Semua produk dibungkus plastik, mulai dari makanan, minuman, dan semua produk lainnya yang bukan untuk dikonsumsi.

Pemakaian plastik diperparah oleh produk dalam kemasan saset, mulai dari bumbu dapur, mie instan, bahan minuman, sampo, dan lain-lain. Coba perhatikan penjual kopi di pinggir jalan. Mereka menjajakan kopi sasetan dan menyajikannya dalam gelas plastik. 

Juga penjual minuman es blender yang digemari anak-anak. Semua berbahan plastik. Juga penjaja makanan di pinggir jalan, di sekitar stasiun, yang digemari kaum pekerja sebelum pulang.

Jangan anggap enteng perubahan budaya masyarakat kita dalam menggunakan minuman mineral kemasan gelas. Di ruang tamu, setiap rumah selalu tersedia minuman mineral kemasan gelas, bahkan di rumah penduduk pedesaan! Sudah jarang kita disuguhi air putih dalam gelas biasa. Kepraktisan yang tidak ramah lingkungan.

Demikian pula pada ruang meeting perusahaan atau konter-konter jasa akan disuguhi minuman mineral kemasan gelas dengan sedotannya. Bila ada acara apa pun, minuman mineral kemasan gelas atau disediakan gelas plastik hingga steroform bebentuk mangkok untuk menikmati hidangan. 

Semuanya sekali pakai. Kadang ada yang memakai dua atau tiga gelas selama acara. Betapa kita royal memakai bahan bermasalah itu.

Berkembangnya bisnis online pun ikut menambah pemakaian bahan plastik. Paket-paket yang dikirim ke konsumen biasanya dibungkus plastik supaya barang tidak rusak karena berbenturan dengan barang lain, terutama pengiriman barang elektronik dan pecah belah.

Sesungguhnya kalau kita bandingkan dengan Singapura, sampah plastik kita sebenarnya masih lebih sedikit. Tapi pengelolaan limbah di sana sudah bagus sehingga tidak ada terlihat sampah plastik mengotori lingkungan mereka. 

Sedangkan kita masih berkutat pada “hei, jangan buang sampah sembarangan dong!” Membicarakan regulasi pemakaian plastik dan  pengelolaan sampah masih belum prioritas bagi DPR dan pemerintah.

Aku salut melihat semangat pencinta lingkungan dalam mengurangi pemakaian plastik, tapi juga frustrasi karena yang mereka lakukan itu tidak akan berdampak apa-apa bila pemerintah tidak melakukan minimal dua hal ini:

1) membangun tempat pengelolaan sampah modern di semua kota; 2) membuat peraturan pengurangan pemakaian kemasan plastik.

Untuk yang nomor dua, pemerintah sebaiknya melarang perusahaan mengemas produknya dalam kemasan saset, dan diusahakan pemakaian plastik kemasan seminim mungkin. Kalaupun dengan kemasan saset, harganya harus lebih mahal. 

Termasuk melarang pemakaian air kemasan dalam bentuk gelas dan botol kecil. Misalnya kemasan paling kecil adalah 1,5 liter, sehingga orang tidak terlalu gampang membeli air minum dalam botol 300 ml atau 500ml. 

Dengan demikian akan mengubah perilaku orang dengan membawa botol air minum dari rumah. Dan membuka bisnis baru isi ulang botol minuman di minimarket atau warung. Misalnya isi ulang aqua 500 ml seharga Rp2000.

Aku merasa lucu adanya peraturan pemerintah untuk mengurangi pemakaian kantong plastik di pusat pembelanjaan. Apakah berhasil mengurangi pemakaian plastik? Mungkin ada sedikit, tidak signifikan. 

Kantong plastik itu masih bisa digunakan sebagai tempat sampah. Kalau tidak ada kantong plastik belanjaan, orang tetap akan membeli kantong plastik untuk tempat sampah. Lihat, aturan yang tidak terlalu berguna!

Kiranya kita mulai memikirkan pemakaian kemasan bukan plastik. Banyak ilmuan di negeri ini yang bisa diajak berpikir untuk mencari pengganti kemasan plastik. Semoga suatu hari nanti kita tidak melihat lagi begitu banyak produk berbungkus plastik.

Kawan, alam tidak pernah membutuhkan kita, tapi kita yang membutuhkan alam. Berbuatlah yang benar sebelum alam mencelakai kita!

Sumber: