Patrick selalu mengutip kata-kata filsuf bila berbicara denganku. Entah ada apa dengannya? Padahal aku tak pernah mengulas filsafat atau topik-topik rumit bila membuka sebuah pembicaraan. 

Agaknya dia sedikit sensitif pada perkataan orang lain mengenaiku. Di kelas orang-orang menganggapku cerdas, hanya Patrick yang tak pernah mengatakan apa pun mengenaiku.

Untuk mengimbangi Patrick setiap jam istirahat aku ke perpustakaan untuk membaca buku filsafat, tapi membacanya membuatku bosan hingga psikologi menjadi pelarian. Carl Jung, Sigmund Freud, Carl R. Rogers, B.F. Skinner, Ivan Pavlov, Frederick S. Pearl, tokoh-tokoh psikologi ini membuatku tambah pusing dan ini bukan permulaan baik.

Aroma buku, keheningan, dan penelusuran merupakan bagian petualangan di perpustakaan. Hal mengasyikan ini terhenti pada sosok mata yang kulihat di balik buku psikologi kepribadian. 

Tak lama terdengar suara berbisik di depanku. Salah satu teman dari wanita itu mendapatkan buku yang mereka cari, lalu pergi meninggalkan seberkas dua bola mataku yang terus memandangnya dari jauh. Maurise, itulah namanya. Dan debar terjadi dalam dadaku seketika.

Ada kebiasaan baru yang kulakukan demi bertemu Maurise. Kesibukan mencari untuk menemukannya. Aneh memang, tapi ketika kamu jatuh cinta hal-hal aneh akan tampak baik-baik saja. Seperti yang kulakukan, seperti kisah para pejuang cinta yang pernah tertulis. Meski dengan keberanian seadanya aku tak menyimpan ragu. Sebab cinta tak akan bertahan bila ada keraguan.

Perdebatan dengan Patrick belum ada habisnya. Di lokal hanya dia yang bisa mengimbangiku. Kami ibarat Irak Iran, Korsel dan Korut dua kubu yang berbeda haluan. Di segala sisi aku unggul terhadap Patrick. Aku tak bangga, justru aku melihat kekuranganku.

Bunga mekar dalam hatiku langsung layu saat aku tahu Patrick dan Maurise berpacaran. Aku melihatnya berjalan menuju perpustakaan, duduk di kelas sebelah dengan berpegangan tangan sambil mengucapkan kata-kata romantis. Hasratku luntur untuk Maurise, teryata hatinya telah dimiliki.

Aku mulai merasa sepi, kepintaranku tak berguna disaat galau. Aku harus membuktikan eksistensiku, setidaknya jangan pernah menyerah menemukan cinta. Selanjutnya aku banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Menyepi, membaca, introspeksi, seperti seorang filsuf mencari pendalaman makna kehidupan.

Fokusku seperti autis, tanpa sadar di sampingku sudah ada seorang gadis yang tak asing telah duduk di  sebelahku. Dia May, teman Maurise. Canggung, kami sama-sama tak sadar saling mengucapkan hello dengan senyum yang sedikit malu-malu. Dalam situasi seperti itu tak ingin suasana buruk tercipta. Diam adalah bahasa terbaik untuk mengungkapkan fenomenologi sebuah keadaan yang membuatku kikuk.

“Rollo May, apa yang kau tahu tentangnya?” ucapku membuka pembicaraan saat melihatnya membaca buku psikologi eksistensial di tengah hening yang tampak tidak menganggu.

“Bapak psikologi eksistensial” balasnya dengan nada bahasa unik yang belum pernah aku dengar dari seorang wanita manapun dan itu membuatku nyakin bahwa May adalah seorang wanita yang cerdas.

Dia tidak keberatan menjawab pertanyaanku padahal kami belum berkenalan secara langsung. Selanjutnya pembicaraan demi pembicaraan membuka komunikasi yang lebih intens, akhirnya kami berkenalan  dengan cara yang eksistensial.

Hariku kembali berwarna. Tak lama berkenalan dengan may kami memutuskan berpacaran. Cukup singkat, cukup mudah, cukup ringkas. Sampai akhirnya sesuatu yang instan ini mengalami rintangan, May teryata adalah adik Patrick.

Aku terkejut seperti Patrick terkejut melihatku bersama May saat kami bertemu di pasar malam. Suasana berubah, Patrick yang masih menganggapku saingannya merasa diremehkan. kami adu mulut hingga akhirnya aku mengalah dan pergi meninggalkan May dengan pandangan mata yang tak lepas darinya.

Aku dan May terus berkomunikasi. Menanyakan Patrick kenapa dia cetus denganku. Awalnya May sedikit ragu, tapi demi hubungan kami akhirnya dia memberitahu alasan sikap Patrick. Teryata Patrick benar-benar sensitif, dia benar-benar idealis gila. Aku permalukannya di diskusi sastra minggu lalu dengan menghasilkan benih ketidaksukaannya sampai sekarang.

Aku menyadari bahwa aku terlalu arogan untuk seorang yang seharusnya bisa menjadi teman Patrick. May mulai bercerita banyak hal, tentang keluarganya dan sikap Patrick. Patrick ingin dihargai disebabkan pengalaman buruk karena teman-temannya dulu selalu mencemooh dan menganggap nya idiot.

Melalui cerita May aku jadi paham mengapa Patrick begitu kompeten. May menyaran agar  bersabar dengan sikap kakaknya yang sedikit idealis dan kaku. Kesalahpahaman dan kesalahanku yang kadang berlebihan membuatku mengerti bahwa teryata aku tak lebih dari seorang angkuh.

Usai kuliah, berikutnya aku meminta maaf pada Patrick. Bukan karena May, tapi kesadaran diri pada kesalahan. Patrick cukup terpaku, sikap sinisnya tak tampak kali ini. Sisi dewasanya keluar. Mungkin ia juga menyadari satu hal tentang sikap kekanakkan kami yang mesti berakhir.

Berjabat tangan dengan senyum tulus, kami melangkah dengan ikatan baru. Sampul persahabatan untuk mengeratkan hubungan. Patrick membisikan sesuatu di telingaku, menyadarkanku tentang konspirasi.

May teryata sudah lama jatuh cinta denganku. Melalu berbagai cara dan pendekatan ia menghubungkan semuanya dan membuat aku dan Patrick berdamai. Aku tak mempermasalahkan itu, sebab aku tlah jatuh cinta dan siap mempertaruhkan segalanya demi May. Keterkejutan ini merupakan surprise luarbiasa, ini fenomenologi cinta. Ini monolog yang sempurna pengantar tidurku.